Ketika Kata “Pakar” Bertemu Kata “Goblok”

amramr
Sep 19, 2026 - 23:33
 0  6

Ketika Kata “Pakar” Bertemu Kata “Goblok”

Oleh. Asmediati

Ada yang menarik dari pernyataan Presiden Prabowo Subianto ketika berbicara tentang para pakar. Bukan hanya isi pesannya yang menarik, tetapi juga pilihan katanya.

“Pakar” dan “goblok” adalah dua kata yang memiliki dunia makna berbeda. Kata pertama terdengar akademis, terhormat, dan berhubungan dengan keahlian. Kata kedua merupakan kata kasar yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk merendahkan atau menyebut seseorang bodoh.

Ketika dua kata itu dipertemukan oleh seorang presiden, tentu persoalannya menjadi lebih besar daripada sekadar pilihan kata.

Bahasa memang tidak pernah hanya menjadi alat untuk menyampaikan pesan. Bahasa juga bisa menunjukkan sikap, emosi, hubungan kekuasaan, bahkan cara seseorang melihat orang lain.

Karena itu, ucapan seorang pemimpin selalu menarik untuk dibaca dari sudut kebahasaan.

Pertama, mari kita lihat kata “pakar”.

Dalam bahasa Indonesia, pakar berarti orang yang ahli dalam suatu bidang. Ada pakar ekonomi, pakar hukum, pakar pendidikan, pakar kesehatan, pakar komunikasi dan berbagai bidang lainnya.

Menjadi pakar tentu tidak berarti seseorang selalu benar.

Pakar tetap manusia. Ia bisa salah menghitung, salah membaca data, salah mengambil kesimpulan atau bahkan berbeda pendapat dengan pakar lain.

Tetapi kata “pakar” memiliki makna khusus. Di dalamnya terdapat pengakuan terhadap pengetahuan dan pengalaman seseorang dalam bidang tertentu.

Karena itu, ketika seseorang disebut pakar, yang sedang dibicarakan sebenarnya adalah keahliannya, bukan kesempurnaan dirinya.

Di sinilah persoalannya menjadi menarik ketika kata “pakar” kemudian dipertemukan dengan kata “goblok”.

Secara bahasa, keduanya seperti bertabrakan.

Pakar menunjuk pada keahlian.

Goblok menunjuk pada kebodohan.

Pakar adalah kata yang bersifat relatif formal. Goblok adalah kata yang bernilai kasar dan merendahkan.

Pertemuan dua kata itu kemudian menghasilkan efek bahasa yang kuat.

Bisa saja maksudnya adalah sindiran. Bisa saja untuk menunjukkan bahwa seseorang yang merasa pintar justru membuat kesalahan besar.

Tetapi bahasa memiliki akibat yang kadang lebih panjang daripada maksud orang yang mengucapkannya.

Apalagi yang mengucapkan adalah seorang presiden.

Dalam komunikasi biasa, orang mungkin berkata, “Kamu goblok.”

Selesai.

Tetapi ketika kata itu keluar dari mulut seorang kepala negara, persoalannya berubah. Kata tersebut tidak lagi berdiri sebagai percakapan pribadi. Ia terdengar sebagai bagian dari komunikasi seorang pemimpin kepada publik.

Karena itu, pilihan kata menjadi penting.

Ada banyak cara dalam bahasa Indonesia untuk menyatakan bahwa seseorang salah.

Bisa dikatakan, “analisisnya keliru.”

Bisa juga, “pendapat itu tidak didukung data.”

Atau, “kesimpulannya tidak tepat.”

Bahkan bisa dikatakan, “orang tersebut terlalu percaya diri dengan pendapatnya.”

Semua kalimat itu dapat menyampaikan kritik tanpa menggunakan kata kasar.

Di sinilah bahasa sebenarnya menunjukkan kelas berpikir seseorang.

Bukan berarti orang yang menggunakan kata kasar otomatis tidak pintar. Tidak sesederhana itu.

Namun, dalam komunikasi publik, terutama komunikasi seorang pejabat negara, pilihan kata seharusnya dipertimbangkan karena memiliki dampak yang luas.

Kata-kata seorang presiden dapat ditiru masyarakat.

Bisa menjadi judul berita.

Bisa menjadi bahan perdebatan.

Bisa menjadi meme.

Bisa pula dipakai untuk menyerang kelompok yang berbeda pendapat.

Satu kata bisa berkembang menjadi banyak tafsir.

Kita juga perlu melihat kata “pintar” dalam pernyataan tersebut.

Pintar pada dasarnya bermakna memiliki kemampuan berpikir atau memiliki pengetahuan. Tetapi dalam kalimat sindiran, kata pintar bisa berubah menjadi ironi.

Seseorang disebut “terlalu pintar” bukan karena benar-benar dipuji, tetapi karena dianggap menggunakan kepintarannya secara keliru.

Dalam bahasa, ini menarik.

Sebuah kata bisa mengalami perubahan makna karena konteks.

“Pintar” biasanya positif.

“Goblok” negatif.

Tetapi ketika keduanya ditempatkan dalam satu kalimat, lahirlah sebuah sindiran: orang yang merasa paling pintar justru dianggap melakukan kesalahan besar.

Inilah yang disebut kekuatan konteks dalam bahasa.

Makna sebuah kata tidak selalu berdiri sendiri. Kita harus melihat kalimat, situasi, siapa yang berbicara, kepada siapa ucapan itu ditujukan, dan dalam keadaan apa ucapan tersebut disampaikan.

Karena itu, membahas pernyataan tentang pakar tidak cukup hanya dengan bertanya, “Benar atau salah?”

Kita juga bisa bertanya:

Mengapa kata itu yang dipilih?

Apa efeknya kepada pendengar?

Apa yang terjadi jika kata tersebut diucapkan oleh orang biasa?

Dan apa yang berbeda jika kata itu diucapkan oleh seorang presiden?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena bahasa mempunyai hubungan erat dengan kekuasaan.

Orang yang memiliki kekuasaan memiliki panggung yang lebih besar. Ucapannya lebih mudah didengar dan lebih cepat menyebar.

Maka, semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab terhadap bahasa yang digunakannya.

Bukan berarti seorang pemimpin harus berbicara seperti buku pelajaran.

Tidak.

Bahasa pemimpin boleh sederhana.

Boleh santai.

Boleh menggunakan humor.

Boleh pula menggunakan bahasa rakyat agar mudah dipahami.

Tetapi ada perbedaan antara bahasa sederhana dan bahasa yang merendahkan.

Ada perbedaan antara kritik dan penghinaan.

Ada perbedaan antara sindiran dan pelabelan.

Inilah yang perlu kita jaga.

Pakar juga harus memahami etika bahasa. Jangan karena memiliki gelar, seseorang merasa bebas mengatakan apa saja. Kritik harus berdasarkan fakta. Pendapat harus memiliki alasan. Tuduhan harus bisa dibuktikan.

Jadi, persoalannya bukan siapa yang paling pintar.

Persoalannya adalah bagaimana orang-orang yang berbeda pendapat menggunakan bahasa.

Pemerintah berbicara dengan bahasanya.

Pakar berbicara dengan bahasanya.

Wartawan berbicara dengan bahasanya.

Rakyat pun berbicara dengan bahasanya.

Semua boleh berbeda.

Yang penting, perbedaan itu tidak berubah menjadi perang kata-kata.

Sebab kalau bahasa publik semakin kasar, masyarakat pun bisa terbiasa dengan kekasaran.

Hari ini kata “goblok” ditujukan kepada pakar.

Besok bisa ditujukan kepada wartawan.

Lusa kepada mahasiswa.

Kemudian kepada guru.

Pada akhirnya, bisa saja kepada rakyat biasa yang hanya berani bertanya.

Padahal bertanya bukan kebodohan.

Kritik bukan kebencian.

Berbeda pendapat bukan berarti menjadi musuh.

Dalam kehidupan demokrasi, perbedaan pendapat justru sesuatu yang biasa.

Maka, kalau ada pakar yang salah, bantahlah dengan data.

Kalau pendapatnya keliru, jelaskan kekeliruannya.

Kalau analisisnya tidak tepat, berikan analisis yang lebih kuat.

Bahasa yang baik bukan berarti bahasa yang lemah.

Justru bahasa yang tenang sering kali lebih tajam daripada makian.

Sebab data tidak perlu berteriak untuk menjadi benar.

Argumen tidak perlu menghina untuk menjadi kuat.

Dan seorang pemimpin tidak perlu menggunakan kata kasar untuk menunjukkan bahwa dirinya tegas.

Pada akhirnya, persoalan “pakar” dan “goblok” bukan sekadar persoalan dua kata.

Ini adalah persoalan bagaimana kita menggunakan bahasa di ruang publik.

Kata-kata adalah cermin.

Dari kata-kata, kita bisa melihat bagaimana seseorang memperlakukan perbedaan.

Dan dari cara seorang pemimpin menggunakan bahasa, kita bisa belajar bagaimana seharusnya masyarakat berkomunikasi.

Mungkin yang perlu kita ingat sederhana saja:

Orang pintar bisa salah. Pakar bisa keliru. Presiden juga bisa salah.

Tetapi ketika kesalahan dibahas dengan bahasa yang baik, kita masih punya ruang untuk belajar.

Sebaliknya, ketika perbedaan pendapat dibalas dengan kata-kata yang merendahkan, yang berkembang bukan ilmu, melainkan permusuhan.

Karena itu, mari kita rawat bahasa.

Sebab sebelum menjadi kebijakan, banyak hal bermula dari kata.

Dan kadang-kadang, sebuah kata yang diucapkan dalam beberapa detik dapat meninggalkan jejak jauh lebih lama daripada yang kita bayangkan.[AM]

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow