PT Intam dan Ujian Akselerasi Sumbawa Emas 2050
PT Intam, dan Ujian Akselerasi Sumbawa Emas 2050
Sumbawa. Amarmedia.co.id - Menatap Sumbawa Emas 2050 berarti menyusun fondasi pembangunan jangka panjang selang 24 tahun ke depan. Gagasan ini tidak boleh dipahami secara dangkal sebatas warna politik atau tumpukan logam mulia di perut bumi. "Sumbawa Emas adalah wujud kemandirian ekonomi, daya saing daerah, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM)" ujar Aldiansyah kepada awak media Jumat 4 September 2027.
Ketua Sumbawa Green Action ini menjelaskan bahwa Jika dibandingkan dengan Bali yang ditopang pariwisata budaya atau Lombok dengan bentang alamnya, Sumbawa berada pada persimpangan unik. Kendati memiliki potensi wisata seperti Air Mata Jitu hingga keanekaragaman hayati di Labuhan Jambu, sektor pariwisata Sumbawa masih membutuhkan waktu untuk mengejar ketertinggalan.
Dalam kondisi ini, sektor pertambangan mineral—emas dan tembaga—menjadi kekuatan dominan yang menggerakkan pilar ekonomi daerah. Kehadiran PT Intam sebagai salah satu entitas pemegang izin pertambangan bersama AMNT, SJR, dan SAM, menegaskan posisi Sumbawa dalam peta investasi nasional. "Namun, hadirnya modal kapitalis bernilai tinggi ini memicu pertanyaan mendasar: apakah kehadiran PT Intam dan industri sejenis otomatis menghadirkan kesejahteraan bagi warga lokal?
Jawabannya adalah belum, selama pola relasi yang terbangun masih bersifat ekstraktif semata" ucap Aldiansyah.
Mengubah Orientasi: Dari Buruh Menjadi Mitra Rantai Pasok
Selama bertahun-tahun, diskusi antara daerah dan perusahaan pertambangan seperti PT Intam kerap kali mandek pada kuota tenaga kerja lokal. Wacana ini penting, tetapi tidak cukup untuk membangun struktur ekonomi yang tangguh.
Perspektif tersebut harus ditingkatkan ke level yang lebih strategis: seberapa besar perputaran uang dari operasional PT Intam yang menetap di tanah Sumbawa?
Untuk mewujudkan hal ini, Kata Gentar Alam akrab disapa. PT Intam tidak boleh beroperasi sebagai eksklave ekonomi yang terisolasi dari lingkungan sekitarnya. Pemerintah Kabupaten Sumbawa harus bertindak sebagai arsitek pembangunan dengan memaksa terjadinya integrasi ekonomi. Pada Sektor Pertanian & Peternakab, Kebutuhan konsumsi harian di wilayah operasional tambang harus dipasok langsung oleh petani dan peternak Sumbawa melalui kemitraan terstruktur dengan koperasi lokal.
Pada Sektor Perikanan:l, Nelayan lokal diberikan akses dan pembinaan standar mutu agar dapat menjadi pemasok tetap kebutuhan logistik perusahaan.
Dan Sektor Usaha Lokal:l, UMKM dan kontraktor lokal harus dilibatkan dalam penyediaan jasa non-inti (non-core services).
Keberadaan PT Intam dan korporasi pertambangan lainnya di Kabupaten Sumbawa adalah kenyataan ekonomi yang harus dikelola secara rasional dan terukur. Tanpa intervensi kebijakan yang tegas dari pemerintah daerah, investasi besar berisiko menyisakan keterasingan ekonomi bagi warga lokal.
Sumbawa Emas 2050 hanya akan terwujud apabila keberadaan PT Intam tidak sekadar diukur dari tonase emas yang keluar dari bumi, melainkan dari seberapa besar nilai tambahnya bertransformasi menjadi pendidikan yang lebih baik, peningkatan mutu kesehatan, serta kemandirian ekonomi masyarakat Sumbawa. (AM)
What's Your Reaction?