Riuh Agustus, Sunyi Rakyat

amramr
Aug 17, 2026 - 09:42
Aug 17, 2026 - 09:56
 0  7
Riuh Agustus, Sunyi Rakyat

Riuh Agustus, Sunyi Rakyat

Oleh. Asmediati 

Bendera merah putih

berbaris di sepanjang jalan,

seperti mengingatkan kami

bahwa negeri ini

pernah diperjuangkan

dengan darah dan nyawa.

Di lapangan desa,

lomba pun dimulai.

Anak-anak tertawa,

orang tua bersorak,

panitia sibuk mengatur peserta.

Indonesia tampak merdeka

setidaknya sampai

acara selesai.

---

Ada lomba makan kerupuk.

Kerupuk digantung tinggi.

Anak-anak berusaha menggigitnya

tanpa bantuan tangan.

Saya melihat seorang ibu

di pinggir lapangan.

Ia tidak ikut lomba.

Ia sedang menghitung

berapa harga beras hari ini.

Kerupuk anak-anak

digantung tinggi.

Harga kebutuhan

entah kenapa

juga semakin tinggi.

---

Lalu lomba gerak jalan.

Barisan berjalan tegap.

Kiri, kanan, kiri, kanan.

Seragam rapi.

Langkah serempak.

Senyum dipaksakan.

Saya tiba-tiba berpikir:

Andai hidup semudah gerak jalan,

cukup mendengar aba-aba

lalu melangkah bersama.

Sayangnya,

rakyat sering disuruh maju

tanpa pernah diberi tahu

ke mana arah jalannya.

Kami berjalan terus.

Kiri.

Kanan.

Kiri.

Kanan.

Sampai lupa

apakah sedang menuju kemajuan

atau hanya berputar

di tempat yang sama.

---

Ada lomba sambung lagu.

Peserta pertama menyanyi.

Peserta kedua melanjutkan.

Peserta ketiga menyambung lagi.

Semua tertawa

ketika liriknya salah.

Saya teringat negeri ini.

Bukankah banyak cerita

juga disambung seperti lagu?

Janji disambung janji.

Program disambung program.

Pidato disambung pidato.

Tahun berganti tahun.

Liriknya boleh berbeda,

tetapi rakyat

masih menunggu

bait terakhir:

kapan kesejahteraan

benar-benar sampai?

---

Ada lomba memasukkan paku

ke dalam botol.

Peserta berusaha

mengarahkan paku

dengan tali yang bergoyang.

Sedikit meleset,

gagal.

Sedikit lengah,

ulang lagi.

Saya teringat kehidupan.

Betapa banyak orang

setiap hari berusaha

memasukkan penghasilan

ke dalam kebutuhan

yang mulutnya

tidak pernah kenyang.

Paku akhirnya masuk.

Penonton bersorak.

Tetapi di luar lapangan,

banyak harapan

yang belum juga

menemukan tempatnya.

---

Lalu bola dangdut.

Bola ditendang,

musik bergoyang,

peserta tertawa

mengikuti irama.

Kami memang pandai berjoget

mengikuti keadaan.

Harga naik,

kami menyesuaikan.

Aturan berubah,

kami menyesuaikan.

Janji berganti,

kami kembali menyesuaikan.

Barangkali rakyat

adalah peserta lomba

paling lentur di negeri ini.

Apa pun iramanya,

kami tetap dipaksa

untuk bergoyang.

---

Ada pula estafet air.

Air dipindahkan

dari satu wadah

ke wadah berikutnya.

Sedikit tumpah,

sedikit berkurang.

Saya teringat

betapa sering sesuatu

dipindahkan dari tangan

ke tangan.

Tanggung jawab dipindahkan.

Kesalahan dipindahkan.

Masalah dipindahkan.

Sementara rakyat

tetap berdiri di ujung

menunggu hasil.

Ketika sampai,

airnya tinggal separuh.

Tapi laporan mengatakan:

“Sudah tersalurkan.”

Kami tersenyum.

Entah karena lucu

atau karena sudah terlalu

terbiasa.

---

Ada lomba membuat tumpeng.

Nasi ditata menjulang

seperti gunung kecil.

Lauk-pauk menghias

di sekelilingnya.

Semua tampak indah.

Semua tampak cukup.

Semua tampak makmur

di atas meja penilaian.

Juri berkeliling

menilai bentuk,

warna,

dan kelengkapan.

Saya hanya bertanya:

Siapa yang akan makan

setelah lomba selesai?

Sebab di luar arena,

ada meja makan

yang tidak punya tumpeng.

Ada piring

yang hanya ditemani garam.

Ada keluarga

yang merayakan kemerdekaan

dengan menu seadanya.

Tumpeng akhirnya menjadi juara.

Kami bertepuk tangan.

Namun saya berharap

suatu hari nanti

setiap meja makan rakyat

juga punya alasan

untuk merayakan.

Bukan hanya

sebuah tumpeng perlombaan.

---

Ada pawai alegoris.

Kereta hias berjalan perlahan.

Anak-anak memakai kostum

menjadi pahlawan, petani, nelayan,

dokter, guru, dan pejuang.

Ada miniatur pembangunan.

Ada simbol kemajuan.

Ada senyum yang dipasang

sepanjang jalan.

Penonton bertepuk tangan.

Kamera sibuk mengabadikan.

Semua tampak indah

dari pinggir jalan.

Saya bertanya dalam hati:

Apakah yang kita pawai-kan

benar-benar kehidupan kita?

Jika petani menjadi hiasan,

siapa yang memikirkan sawahnya?

Jika guru menjadi simbol,

siapa yang mendengar keluhnya?

Jika anak-anak membawa

miniatur masa depan,

siapa yang memastikan

masa depan itu

tidak mereka bawa

sendirian?

Pawai terus berjalan.

Kereta hias berlalu.

Musik semakin jauh.

Yang tersisa

hanya jalan yang kembali sepi

dan spanduk yang berkibar

di tiang-tiang.

Barangkali negeri ini

memang pandai membuat

kemajuan tampak indah

di atas kendaraan hias.

Tinggal satu pertanyaan:

Kapan kemajuan itu

turun dari panggung

dan benar-benar

masuk ke rumah rakyat?

---

Ada balap karung.

Anak-anak melompat

dengan kaki terbungkus karung.

Mereka jatuh.

Mereka bangun.

Mereka tertawa.

Saya ingin ikut tertawa.

Tetapi teringat tetangga

yang sudah bertahun-tahun

melompat dari satu beban

ke beban berikutnya.

Bedanya,

anak-anak berlomba

mendapat hadiah.

Orang dewasa berlomba

agar tidak kehilangan rumah.

---

Panjat pinang

menjadi acara terakhir.

Batangnya licin.

Hadiah bergelantungan

di tempat yang tinggi.

Beberapa orang

saling menginjak.

Beberapa orang

saling menopang.

Yang paling kuat

mencapai puncak.

Saya kembali bertanya:

Apakah begini juga

cara kita membangun negeri?

Yang bawah menopang,

yang atas menikmati?

Kalau benar,

semoga suatu hari nanti

yang berada di atas

tidak lupa

bahwa ia sampai ke sana

karena ada banyak bahu

yang rela menahan beratnya.

---

Lalu tibalah 17 Agustus.

Hari yang paling ditunggu.

Upacara menjadi puncak

perayaan kemerdekaan.

Lapangan dipenuhi barisan.

Seragam dirapikan.

Sepatu disemir.

Bendera merah putih

siap dikibarkan.

Ketika Sang Saka perlahan naik,

semua berdiri tegak.

Lagu kebangsaan berkumandang.

Tidak ada yang bercanda.

Tidak ada yang berlari.

Untuk beberapa menit,

kami semua mengingat

bahwa kemerdekaan ini

dibayar mahal

oleh mereka yang telah

memberikan jiwa dan raganya.

Inspektur upacara berpidato

tentang perjuangan,

persatuan,

pembangunan,

dan masa depan bangsa.

Kami mendengarkan.

Kami bertepuk tangan.

Namun di tengah khidmatnya upacara,

saya kembali bertanya:

Apa arti kemerdekaan

jika hanya berhenti

pada upacara?

Bendera sudah berkibar.

Lagu sudah dinyanyikan.

Pidato sudah disampaikan.

Tetapi setelah barisan dibubarkan,

rakyat kembali pulang

kepada kehidupan masing-masing.

Semoga kemerdekaan

tidak ikut dibubarkan

bersama barisan.

Semoga ia ikut pulang

ke rumah-rumah rakyat.

Masuk ke dapur.

Masuk ke sekolah.

Masuk ke pasar.

Masuk ke ruang kerja.

Masuk ke kehidupan

mereka yang selama ini

menunggu keadilan.

Sebab puncak kemerdekaan

bukan hanya ketika

bendera mencapai puncak tiang.

Tetapi ketika

keadilan mencapai

puncak kehidupan rakyat.

---

Malam itu

semua lomba selesai.

Piala dibagikan.

Hadiah diterima.

Foto bersama.

Tepuk tangan.

Tumpeng dipotret.

Pawai telah berlalu.

Upacara telah usai.

Lalu lapangan kembali sepi.

Bendera masih berkibar.

Saya menatapnya

dan tersenyum.

Barangkali kemerdekaan

memang bukan sesuatu

yang selesai dirayakan

setiap bulan Agustus.

Kemerdekaan adalah pekerjaan

yang harus dilakukan

setiap hari.

Dengan kejujuran.

Dengan keberanian.

Dengan kepedulian.

Dengan keberpihakan

kepada mereka

yang belum benar-benar

merasakan arti merdeka.

Sebab percuma

kita memenangkan

lomba gerak jalan,

jika rakyat

tidak pernah tahu

ke mana negeri ini berjalan.

Percuma kita pandai

menyambung lagu,

jika yang tersambung

hanya janji-janji,

sementara harapan rakyat

terputus

di tengah jalan.

Percuma air

berhasil dipindahkan

dari satu gelas ke gelas lain,

jika di ujung perjalanan

yang tersisa

hanya setetes harapan.

Dan percuma

kita membuat tumpeng

setinggi gunung,

jika masih ada

meja makan rakyat

yang kosong.

Percuma pula

pawai alegoris

menggambarkan masa depan

dengan warna-warni,

jika masa depan itu

belum mampu

menyentuh kehidupan

mereka yang berdiri

di pinggir jalan.

Dan percuma

kita berdiri khidmat

di bawah tiang bendera,

jika setelah upacara selesai

kita kembali membiarkan

ketidakadilan berdiri

lebih tegak daripada

keadilan.

Dirgahayu Indonesia.

Semoga tahun depan

kita tidak hanya

merayakan kemerdekaan.

Semoga kita

benar-benar

merasakannya.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow