Riuh Agustus, Sunyi Rakyat
Riuh Agustus, Sunyi Rakyat
Oleh. Asmediati
Bendera merah putih
berbaris di sepanjang jalan,
seperti mengingatkan kami
bahwa negeri ini
pernah diperjuangkan
dengan darah dan nyawa.
Di lapangan desa,
lomba pun dimulai.
Anak-anak tertawa,
orang tua bersorak,
panitia sibuk mengatur peserta.
Indonesia tampak merdeka
setidaknya sampai
acara selesai.
---
Ada lomba makan kerupuk.
Kerupuk digantung tinggi.
Anak-anak berusaha menggigitnya
tanpa bantuan tangan.
Saya melihat seorang ibu
di pinggir lapangan.
Ia tidak ikut lomba.
Ia sedang menghitung
berapa harga beras hari ini.
Kerupuk anak-anak
digantung tinggi.
Harga kebutuhan
entah kenapa
juga semakin tinggi.
---
Lalu lomba gerak jalan.
Barisan berjalan tegap.
Kiri, kanan, kiri, kanan.
Seragam rapi.
Langkah serempak.
Senyum dipaksakan.
Saya tiba-tiba berpikir:
Andai hidup semudah gerak jalan,
cukup mendengar aba-aba
lalu melangkah bersama.
Sayangnya,
rakyat sering disuruh maju
tanpa pernah diberi tahu
ke mana arah jalannya.
Kami berjalan terus.
Kiri.
Kanan.
Kiri.
Kanan.
Sampai lupa
apakah sedang menuju kemajuan
atau hanya berputar
di tempat yang sama.
---
Ada lomba sambung lagu.
Peserta pertama menyanyi.
Peserta kedua melanjutkan.
Peserta ketiga menyambung lagi.
Semua tertawa
ketika liriknya salah.
Saya teringat negeri ini.
Bukankah banyak cerita
juga disambung seperti lagu?
Janji disambung janji.
Program disambung program.
Pidato disambung pidato.
Tahun berganti tahun.
Liriknya boleh berbeda,
tetapi rakyat
masih menunggu
bait terakhir:
kapan kesejahteraan
benar-benar sampai?
---
Ada lomba memasukkan paku
ke dalam botol.
Peserta berusaha
mengarahkan paku
dengan tali yang bergoyang.
Sedikit meleset,
gagal.
Sedikit lengah,
ulang lagi.
Saya teringat kehidupan.
Betapa banyak orang
setiap hari berusaha
memasukkan penghasilan
ke dalam kebutuhan
yang mulutnya
tidak pernah kenyang.
Paku akhirnya masuk.
Penonton bersorak.
Tetapi di luar lapangan,
banyak harapan
yang belum juga
menemukan tempatnya.
---
Lalu bola dangdut.
Bola ditendang,
musik bergoyang,
peserta tertawa
mengikuti irama.
Kami memang pandai berjoget
mengikuti keadaan.
Harga naik,
kami menyesuaikan.
Aturan berubah,
kami menyesuaikan.
Janji berganti,
kami kembali menyesuaikan.
Barangkali rakyat
adalah peserta lomba
paling lentur di negeri ini.
Apa pun iramanya,
kami tetap dipaksa
untuk bergoyang.
---
Ada pula estafet air.
Air dipindahkan
dari satu wadah
ke wadah berikutnya.
Sedikit tumpah,
sedikit berkurang.
Saya teringat
betapa sering sesuatu
dipindahkan dari tangan
ke tangan.
Tanggung jawab dipindahkan.
Kesalahan dipindahkan.
Masalah dipindahkan.
Sementara rakyat
tetap berdiri di ujung
menunggu hasil.
Ketika sampai,
airnya tinggal separuh.
Tapi laporan mengatakan:
“Sudah tersalurkan.”
Kami tersenyum.
Entah karena lucu
atau karena sudah terlalu
terbiasa.
---
Ada lomba membuat tumpeng.
Nasi ditata menjulang
seperti gunung kecil.
Lauk-pauk menghias
di sekelilingnya.
Semua tampak indah.
Semua tampak cukup.
Semua tampak makmur
di atas meja penilaian.
Juri berkeliling
menilai bentuk,
warna,
dan kelengkapan.
Saya hanya bertanya:
Siapa yang akan makan
setelah lomba selesai?
Sebab di luar arena,
ada meja makan
yang tidak punya tumpeng.
Ada piring
yang hanya ditemani garam.
Ada keluarga
yang merayakan kemerdekaan
dengan menu seadanya.
Tumpeng akhirnya menjadi juara.
Kami bertepuk tangan.
Namun saya berharap
suatu hari nanti
setiap meja makan rakyat
juga punya alasan
untuk merayakan.
Bukan hanya
sebuah tumpeng perlombaan.
---
Ada pawai alegoris.
Kereta hias berjalan perlahan.
Anak-anak memakai kostum
menjadi pahlawan, petani, nelayan,
dokter, guru, dan pejuang.
Ada miniatur pembangunan.
Ada simbol kemajuan.
Ada senyum yang dipasang
sepanjang jalan.
Penonton bertepuk tangan.
Kamera sibuk mengabadikan.
Semua tampak indah
dari pinggir jalan.
Saya bertanya dalam hati:
Apakah yang kita pawai-kan
benar-benar kehidupan kita?
Jika petani menjadi hiasan,
siapa yang memikirkan sawahnya?
Jika guru menjadi simbol,
siapa yang mendengar keluhnya?
Jika anak-anak membawa
miniatur masa depan,
siapa yang memastikan
masa depan itu
tidak mereka bawa
sendirian?
Pawai terus berjalan.
Kereta hias berlalu.
Musik semakin jauh.
Yang tersisa
hanya jalan yang kembali sepi
dan spanduk yang berkibar
di tiang-tiang.
Barangkali negeri ini
memang pandai membuat
kemajuan tampak indah
di atas kendaraan hias.
Tinggal satu pertanyaan:
Kapan kemajuan itu
turun dari panggung
dan benar-benar
masuk ke rumah rakyat?
---
Ada balap karung.
Anak-anak melompat
dengan kaki terbungkus karung.
Mereka jatuh.
Mereka bangun.
Mereka tertawa.
Saya ingin ikut tertawa.
Tetapi teringat tetangga
yang sudah bertahun-tahun
melompat dari satu beban
ke beban berikutnya.
Bedanya,
anak-anak berlomba
mendapat hadiah.
Orang dewasa berlomba
agar tidak kehilangan rumah.
---
Panjat pinang
menjadi acara terakhir.
Batangnya licin.
Hadiah bergelantungan
di tempat yang tinggi.
Beberapa orang
saling menginjak.
Beberapa orang
saling menopang.
Yang paling kuat
mencapai puncak.
Saya kembali bertanya:
Apakah begini juga
cara kita membangun negeri?
Yang bawah menopang,
yang atas menikmati?
Kalau benar,
semoga suatu hari nanti
yang berada di atas
tidak lupa
bahwa ia sampai ke sana
karena ada banyak bahu
yang rela menahan beratnya.
---
Lalu tibalah 17 Agustus.
Hari yang paling ditunggu.
Upacara menjadi puncak
perayaan kemerdekaan.
Lapangan dipenuhi barisan.
Seragam dirapikan.
Sepatu disemir.
Bendera merah putih
siap dikibarkan.
Ketika Sang Saka perlahan naik,
semua berdiri tegak.
Lagu kebangsaan berkumandang.
Tidak ada yang bercanda.
Tidak ada yang berlari.
Untuk beberapa menit,
kami semua mengingat
bahwa kemerdekaan ini
dibayar mahal
oleh mereka yang telah
memberikan jiwa dan raganya.
Inspektur upacara berpidato
tentang perjuangan,
persatuan,
pembangunan,
dan masa depan bangsa.
Kami mendengarkan.
Kami bertepuk tangan.
Namun di tengah khidmatnya upacara,
saya kembali bertanya:
Apa arti kemerdekaan
jika hanya berhenti
pada upacara?
Bendera sudah berkibar.
Lagu sudah dinyanyikan.
Pidato sudah disampaikan.
Tetapi setelah barisan dibubarkan,
rakyat kembali pulang
kepada kehidupan masing-masing.
Semoga kemerdekaan
tidak ikut dibubarkan
bersama barisan.
Semoga ia ikut pulang
ke rumah-rumah rakyat.
Masuk ke dapur.
Masuk ke sekolah.
Masuk ke pasar.
Masuk ke ruang kerja.
Masuk ke kehidupan
mereka yang selama ini
menunggu keadilan.
Sebab puncak kemerdekaan
bukan hanya ketika
bendera mencapai puncak tiang.
Tetapi ketika
keadilan mencapai
puncak kehidupan rakyat.
---
Malam itu
semua lomba selesai.
Piala dibagikan.
Hadiah diterima.
Foto bersama.
Tepuk tangan.
Tumpeng dipotret.
Pawai telah berlalu.
Upacara telah usai.
Lalu lapangan kembali sepi.
Bendera masih berkibar.
Saya menatapnya
dan tersenyum.
Barangkali kemerdekaan
memang bukan sesuatu
yang selesai dirayakan
setiap bulan Agustus.
Kemerdekaan adalah pekerjaan
yang harus dilakukan
setiap hari.
Dengan kejujuran.
Dengan keberanian.
Dengan kepedulian.
Dengan keberpihakan
kepada mereka
yang belum benar-benar
merasakan arti merdeka.
Sebab percuma
kita memenangkan
lomba gerak jalan,
jika rakyat
tidak pernah tahu
ke mana negeri ini berjalan.
Percuma kita pandai
menyambung lagu,
jika yang tersambung
hanya janji-janji,
sementara harapan rakyat
terputus
di tengah jalan.
Percuma air
berhasil dipindahkan
dari satu gelas ke gelas lain,
jika di ujung perjalanan
yang tersisa
hanya setetes harapan.
Dan percuma
kita membuat tumpeng
setinggi gunung,
jika masih ada
meja makan rakyat
yang kosong.
Percuma pula
pawai alegoris
menggambarkan masa depan
dengan warna-warni,
jika masa depan itu
belum mampu
menyentuh kehidupan
mereka yang berdiri
di pinggir jalan.
Dan percuma
kita berdiri khidmat
di bawah tiang bendera,
jika setelah upacara selesai
kita kembali membiarkan
ketidakadilan berdiri
lebih tegak daripada
keadilan.
Dirgahayu Indonesia.
Semoga tahun depan
kita tidak hanya
merayakan kemerdekaan.
Semoga kita
benar-benar
merasakannya.
What's Your Reaction?