Pendidikan Adalah Cahaya yang Membawa Keluar dari Kebodohan
Penulis : Sri Asmediati, S.Pd Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Labuhan Badas
Pendidikan Adalah Cahaya yang Membawa Keluar dari Kebodohan
Penulis : Sri Asmediati, S.Pd
(Guru Bahasa Indonesia
SMPN 1 Labuhan Badas)
Tujuan pendidikan bukan agar kita jadi orang yang pintar, tapi agar kita tidak jadi orang yang bodoh.
— Refleksi pribadi
Pernyataan ini tampaknya sederhana, namun sarat makna filosofis. Ia menggugah sekaligus mengoreksi persepsi umum tentang makna pendidikan. Dalam dunia yang kerap mengagungkan gelar, angka-angka akademik, dan kemampuan teknis, kalimat ini mengajak kita meninjau ulang: apakah pendidikan hanya soal kepintaran? Atau justru soal kesadaran, kebijaksanaan, dan kemanusiaan?
Di balik kalimat ini terkandung kritik terhadap paradigma pendidikan modern yang lebih berorientasi pada hasil daripada proses, lebih mengejar kecerdasan kognitif daripada kedewasaan moral. Di banyak tempat, "pintar" telah direduksi menjadi kemampuan mengerjakan soal-soal ujian, memperoleh nilai tinggi, atau menghafal rumus tanpa makna. Padahal, kepintaran tanpa arah etis bisa menjadi bencana.
Orang yang pintar bisa menciptakan sistem yang menindas, teknologi yang merusak, atau kebijakan yang manipulatif, jika tidak dibimbing oleh kebijaksanaan dan nilai-nilai kemanusiaan.
Dengan demikian, pertanyaan besar yang harus kita renungkan adalah: untuk apa seseorang menjadi pintar jika ia menjadi penindas orang lain? Untuk apa kecanggihan intelektual jika tidak membawa kebaikan bagi sesama? Pendidikan semestinya menjadi proses penyadaran, tempat di mana manusia tidak hanya dilatih untuk berpikir benar, tetapi juga untuk hidup benar.
Pernyataan ini juga memberi peringatan bahwa kebodohan bukan monopoli mereka yang tidak sekolah, melainkan juga bisa menjangkiti mereka yang berpendidikan tinggi namun tidak menggunakannya dengan bijak. Maka, inti pendidikan bukan sekadar pengumpulan informasi, tetapi penumbuhan kesadaran diri, kemampuan berpikir kritis, dan rasa tanggung jawab sosial. Pendidikan harus melampaui ruang kelas, menyentuh hati nurani, dan membangun keberanian moral.
Dengan refleksi ini, kita diajak untuk membayangkan ulang pendidikan sebagai gerakan pembebasan dari kebodohan struktural dan spiritual. Pendidikan bukan sekadar tangga sosial, tetapi jembatan menuju kemanusiaan yang utuh dan tercerahkan.
1. Kebodohan: Musuh Sejati Peradaban
Dalam pemikiran klasik, seperti diungkapkan Socrates, orang bodoh bukanlah mereka yang tidak tahu, melainkan mereka yang tidak tahu bahwa mereka tidak tahu. Kebodohan sejati adalah ketidaksadaran akan kebodohan itu sendiri. Dan di sinilah pendidikan memainkan peran krusial—bukan menjadikan kita merasa tahu segalanya, tetapi menyadarkan kita bahwa pengetahuan itu terbatas dan bahwa hidup adalah proses belajar yang tak pernah selesai.
Filsuf Prancis, Michel Foucault, menyatakan bahwa pengetahuan itu erat kaitannya dengan kekuasaan. Maka, kebodohan bisa menjadi alat dominasi jika dibiarkan tersebar dalam masyarakat. Dalam sistem yang tidak adil, kebodohan sering kali direproduksi secara struktural agar rakyat tetap tunduk. Karena itu, pendidikan bukan sekadar pencarian pengetahuan, tapi juga perjuangan untuk membebaskan diri dari sistem yang sengaja membiakkan kebodohan demi melanggengkan kekuasaan.
Kita mengenal banyak orang berpendidikan tinggi, lulusan luar negeri, profesor bahkan, tapi tetap memperlihatkan kebodohan dalam praktik hidup: korupsi, kesombongan intelektual, intoleransi, manipulasi kebenaran. Mereka menjadi contoh nyata bahwa pendidikan formal tidak menjamin pencerahan batin. Seperti dikatakan oleh Cornel West, seorang filsuf Amerika kontemporer, "You can have all the degrees in the world and still be an idiot."
Kebodohan bukan sekadar soal tidak tahu, tetapi soal kehilangan arah moral dan keengganan untuk mempertanyakan. Maka, menjadi pintar tidak menjamin seseorang terbebas dari kebodohan yang membahayakan orang lain. Bahkan, dalam banyak kasus, kebodohan berwujud dalam bentuk yang lebih halus: pembenaran akademis atas ketidakadilan, rasionalisasi atas penindasan, atau legalisasi atas keserakahan. Di titik inilah pendidikan sejati dibutuhkan untuk mengasah nurani, bukan sekadar melatih kecerdasan.
Dalam konteks ini, kita harus memahami bahwa kebodohan bukan hanya musuh pengetahuan, tetapi juga musuh keadilan, kebebasan, dan kemanusiaan. Maka, memerangi kebodohan melalui pendidikan bukan sekadar proyek intelektual, melainkan juga perjuangan etis dan spiritual untuk memanusiakan manusia.
2. Melampaui Kepintaran, Menemukan Kebijaksanaan
Pintar seringkali diukur dari nilai akademik, IQ tinggi, kemampuan berlogika. Tapi sejarah memperlihatkan bahwa banyak kejahatan besar justru dilakukan oleh orang-orang yang sangat pintar—tapi kehilangan empati dan nurani. Dari arsitek genosida hingga perancang manipulasi ekonomi global, dunia menyimpan jejak orang-orang brilian yang gagal menjadi bijaksana.
Dalam perspektif filsafat Timur seperti dalam ajaran Konfusius, kebijaksanaan bukan sekadar tahu, tetapi mampu hidup selaras dengan kebaikan, keadilan, dan keharmonisan sosial. Sementara itu, dalam filsafat Yunani kuno, terutama dalam ajaran Aristoteles, kebijaksanaan (phronesis) adalah kebajikan praktis yang mengarahkan tindakan menuju kebaikan tertinggi. Maka, pendidikan sejati tidak berhenti pada logos (rasio), tetapi juga membentuk ethos (karakter).
Pendidikan harus menanamkan kebijaksanaan, bukan sekadar kepintaran. Kebijaksanaan mengasumsikan adanya pengendalian diri, perenungan batin, dan kemampuan menimbang kebaikan dalam setiap keputusan. Dalam pandangan Socrates, orang bijak adalah mereka yang tahu bahwa mereka tidak tahu. Dalam tradisi sufi, orang arif bukan yang paling banyak bicara, tapi yang paling mampu mengenali dirinya dan memahami orang lain.
Dalam konteks sosial hari ini, kebijaksanaan juga berarti kemampuan untuk mendengarkan suara yang lemah, memahami yang berbeda, dan menahan diri dari reaksi impulsif yang destruktif. Pendidikan yang hanya melatih kecerdasan tanpa menumbuhkan empati, akan melahirkan manusia-manusia cerdas yang kering batin, rapuh secara etis, dan berpotensi merusak secara sistemik.
Menjadi “tidak bodoh” adalah bentuk kerendahan hati yang menyadari bahwa pengetahuan kita terbatas dan bahwa kesalahan bisa muncul dari keangkuhan akal. Seperti dikatakan oleh Blaise Pascal, "Ada dua jenis pikiran: mereka yang melihat kelemahan mereka dan menjadi bijak, dan mereka yang buta oleh kesombongan dan menjadi bodoh."
Kita tidak sedang kekurangan orang pintar, tapi sedang mengalami defisit orang bijak. Maka, pendidikan hari ini harus berani melampaui parameter teknis dan akademik, serta kembali ke akar tujuannya: membentuk manusia yang utuh, yang berpikir dengan akal, merasa dengan hati, dan bertindak dengan nurani.
3. Kebodohan Bukan Sekadar Ketidaktahuan
Dalam pemikiran filsuf besar Yunani, Socrates, tersirat sebuah paradoks yang mendalam: “Orang bijak adalah mereka yang sadar bahwa mereka tidak tahu.” Artinya, kebodohan sejati bukan terletak pada ketiadaan informasi atau data, melainkan pada sikap batin yang tidak menyadari keterbatasan diri. Orang bodoh adalah mereka yang tidak tahu bahwa mereka tidak tahu, dan lebih buruk lagi, tidak ingin tahu bahwa mereka sedang berada dalam kebodohan.
Di sinilah kebodohan menjadi sesuatu yang lebih berbahaya daripada sekadar ketidaktahuan teknis.
Kebodohan yang disertai kesombongan akan melahirkan sikap anti-kritik, merasa benar sendiri, dan menolak masukan. Inilah bentuk kebodohan yang berlipat ganda: kebodohan yang dilindungi oleh arogansi. Orang seperti ini bisa saja memiliki ijazah tinggi, gelar akademik berderet, bahkan pengakuan sosial sebagai tokoh intelektual, tapi tetap hidup dalam “kegelapan epistemologis.”
Mereka tidak menyadari bahwa ilmu yang mereka miliki bisa usang, bias, atau digunakan untuk menindas orang lain. Dalam masyarakat modern, kebodohan semacam ini tampak dalam berbagai bentuk: pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan, akademisi yang membenarkan ketidakadilan, tokoh publik yang menyebarkan kebencian dengan bahasa intelektual, atau influencer digital yang memanipulasi opini publik demi keuntungan pribadi.
Pendidikan sejati, karena itu, tidak boleh berhenti pada pencapaian kognitif semata. Ia harus menanamkan kerendahan hati intelektual—kesadaran bahwa pengetahuan manusia bersifat terbatas dan harus terus diuji, dikritik, dan diperbarui. Orang terdidik bukanlah mereka yang tahu banyak, tapi mereka yang tahu bahwa mereka belum tahu banyak, dan oleh karena itu, terus belajar.
4. Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan
Tokoh pendidikan kritis asal Brasil, Paulo Freire, memberikan sumbangan besar dalam memahami pendidikan sebagai praktik pembebasan. Dalam Pedagogy of the Oppressed, Freire menolak model pendidikan konvensional yang ia sebut sebagai “pendidikan gaya bank”—di mana guru diposisikan sebagai satu-satunya sumber kebenaran yang ‘menabungkan’ pengetahuan ke dalam ‘rekening kosong’ para murid.
Model ini menciptakan relasi yang otoriter dan menjadikan murid sebagai objek pasif, bukan subjek aktif dalam proses belajar.
Menurut Freire, penindasan tidak hanya dilakukan secara fisik atau ekonomi, tetapi juga secara kultural dan intelektual. Ketika seseorang tidak diberikan ruang untuk berpikir kritis, maka mereka cenderung menerima status quo sebagai sesuatu yang ‘alamiah’, padahal mungkin status quo itu menindas mereka. Pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang memampukan manusia membaca realitas sosialnya secara kritis, mengenali struktur ketidakadilan, dan bertindak untuk mengubahnya.
Pendidikan yang membebaskan tidak bisa dipisahkan dari praktik dialog—proses saling mendengar, saling belajar, dan saling tumbuh. Guru dan murid harus dipandang sebagai sesama pembelajar yang saling menggugah kesadaran. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tapi transformasi cara berpikir dan cara hidup.
Kita melihat betapa pentingnya pendidikan kritis ini dalam menghadapi situasi dunia hari ini: informasi melimpah, tetapi kesadaran kritis menipis; gelar mudah diraih, tapi empati dan integritas langka; teknologi berkembang pesat, tetapi kepekaan sosial justru merosot. Maka pendidikan bukan sekadar alat mencapai mobilitas sosial, tapi medan perjuangan untuk membebaskan manusia dari belenggu kebodohan sistemik—baik yang bersumber dari kemiskinan struktural, budaya anti-kritik, maupun pengetahuan palsu yang diproduksi demi kuasa.
Menjadi Merdeka dalam Pikiran dan Perbuatan
Kebodohan bukan sekadar kekurangan pengetahuan, tetapi hilangnya kesadaran akan tanggung jawab untuk terus belajar, berpikir, dan bertindak secara etis. Di tengah dunia yang semakin kompleks dan sarat kepentingan, pendidikan harus kembali ke rohnya: membebaskan manusia dari ketidaksadaran, dari belenggu ketergantungan, dan dari ketakutan untuk berpikir merdeka.
Ki Hajar Dewantara pernah berkata, “Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.” Pernyataan ini bukan sekadar retorika indah, tapi panggilan moral yang dalam: bahwa pendidikan harus menuntun, bukan menundukkan; membebaskan, bukan mencetak; menyadarkan, bukan sekadar mengajarkan.
Maka tugas kita bukan hanya mengejar pengetahuan, melainkan menumbuhkan kesadaran. Bukan hanya menjadi pintar, tapi menjadi manusia yang sadar, merdeka, dan bertanggung jawab. Karena pada akhirnya, kebodohan yang paling menyakitkan adalah ketika kita tidak tahu bahwa kita sedang menjadi alat dari sistem yang menindas, atau lebih buruk lagi, menjadi bagian dari penindas itu sendiri. (AM)
What's Your Reaction?