Fasad Kota Sumbawa Besar
Fasad Kota Sumbawa Besar
Oleh: Badrul Munir
Sambil menunggu penerbangan ke Sumbawa, pikiran saya rupanya sudah lebih dahulu pulang.
Ke sebuah kota yang begitu akrab.
Kota yang jalan-jalannya menyimpan kenangan.
Kota yang mungkin tidak terlalu besar, tetapi selalu menyediakan ruang yang luas untuk dirindukan.
Sumbawa Besar.
Entah mengapa pagi ini saya tidak sedang mengingat rumah, makanan, atau orang-orang yang akan ditemui.
Saya justru membayangkan wajah kota. Lalu muncul pertanyaan kecil:
Bagaimana fasad kotaku hari ini?
Apakah ia bersih?
Apakah pepohonannya masih membuat orang ingin berjalan pelan di bawah keteduhannya?
Apakah kendaraan telah belajar berhenti dan parkir pada tempatnya?
Apakah trotoar masih menjadi milik pejalan kaki?
Dan reklame-reklame itu—apakah sedang memperkenalkan sesuatu, atau justru perlahan menutupi wajah kota? Atau umbul-umbul yang berseliweran tak tahu asal-usulnya dari mana?
Pertanyaan sederhana. Tetapi semakin dipikirkan, rasanya semakin tidak sederhana.
Sebab kota ternyata mirip manusia.
Kita mengenali seseorang pertama-tama dari wajahnya. Dari caranya berpakaian. Dari kebersihannya. Dari tutur katanya. Dari sikapnya terhadap orang lain.
Begitu pula kota. Fasad adalah wajahnya.
Dari wajah itulah orang yang datang pertama kali membaca siapa kita.
Lalu saya bertanya lagi: Di mana Samawa pada wajah Sumbawa Besar?
Saya tidak sedang mencari ornamen Samawa yang ditempel di setiap sudut kota. Tidak pula berharap semua bangunan harus menyerupai istana.
Bukan itu.
Saya sedang mencari jiwa Samawa.
Barangkali ia hadir pada keramahan ruang kotanya. Pada pohon-pohon yang dirawat. Pada jalan yang bersih. Pada trotoar yang dihormati. Pada pertokoan yang tertata. Pada reklame yang tahu diri. Pada bangunan baru yang tetap memberi salam kepada sejarah.
Budaya, rupanya, tidak selalu harus dipentaskan. Kadang-kadang budaya justru paling indah ketika ia diam-diam hidup dalam kebiasaan.
Tertib adalah budaya.
Bersih adalah budaya.
Merawat keindahan adalah budaya.
Menghormati ruang bersama adalah budaya.
Dan menjaga agar sebuah kota tidak kehilangan wajahnya sendiri, juga budaya.
Saya membayangkan seseorang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Sumbawa Besar.
Ia turun dari kendaraan. Menyusuri jalan. Melihat bangunan, taman, papan nama, pertokoan, ruang publik, dan orang-orang yang beraktivitas.
Lalu saya ingin bertanya kepadanya:
Tanpa diberi tahu, tahukah Anda bahwa sekarang Anda sedang berada di Tanah Samawa?
Pertanyaan itu tiba-tiba terasa menyesakkan.
Kita mempunyai sejarah panjang.
Kita mempunyai Dalam Loka.
Kita mempunyai jejak Kesultanan.
Kita mempunyai adat, bahasa, seni, ingatan, dan begitu banyak cerita.
Tetapi apakah semuanya masih terbaca pada wajah kota?
Jangan-jangan kita begitu sibuk membangun kota, sampai lupa menjaga wajahnya.
Jangan-jangan bangunan bertambah, reklame bertambah, kendaraan bertambah, pertokoan bertambah—tetapi identitas justru perlahan berkurang.
Kota memang harus berubah.
Tabe. Maaf. Saya tidak ingin Sumbawa Besar menjadi museum yang membeku dalam masa lalu.
Biarlah ia tumbuh.
Biarlah ia modern.
Biarlah gedung-gedung baru berdiri dan kehidupan ekonomi bergerak semakin cepat.
Tetapi satu hal jangan sampai hilang:
ketika zaman mengubah tubuh kota, jiwanya harus tetap Samawa.
Panggilan untuk naik pesawat sebentar lagi mungkin terdengar.
Saya akan pulang.
Kali ini aku pulang bukan sekadar untuk kembali.
Aku pulang untuk berdialog, merekam memori, dan merenda nilai.
Berdialog dengan mereka yang menyimpan cerita. Mendengarkan mereka yang masih merawat ingatan. Menyambung serpihan-serpihan masa lalu dengan harapan tentang masa depan.
Aku ingin bertemu dengan mereka yang pikirannya melangit, tetapi kakinya tetap membumi. Mereka yang berani bermimpi jauh ke depan, tetapi tidak tercerabut dari tanah tempat sejarah dan kebudayaan tumbuh.
Sebab barangkali kota tidak selalu membutuhkan lebih banyak orang yang pandai berbicara tentang masa depan.
Kota juga membutuhkan orang-orang yang bersedia mendengar masa lalu, membaca hari ini, lalu bersama-sama merenda hari esok.
Dan mungkin, seperti biasanya, ketika kendaraan mulai memasuki Sumbawa Besar, saya akan memandang keluar jendela.
Melihat jalan.
Pohon-pohon.
Trotoar.
Pertokoan.
Reklame.
Orang-orang.
Lalu diam-diam bertanya kepada diri sendiri:
Masihkah aku mengenali wajah kotaku?
Sebab kota bukan hanya tempat kita pulang.
Kota adalah wajah yang kita wariskan kepada anak cucu.
Dan pada wajah itulah, suatu hari nanti, mereka akan membaca siapa kita.
Fasad kota bukan sekadar rupa.
Ia adalah ingatan.
Ia adalah identitas.
Ia adalah harga diri.
Dan ketika semuanya terawat dengan baik,
di sanalah peradaban menemukan wajahnya.
BIZAM. 10.09.2026
What's Your Reaction?