Pasar Seketeng Sebagai Jembatan Transformasi Ekonomi Tradisional Ke Ekonomi Digital
Pasar Seketeng Sebagai Jembatan Transformasi Ekonomi Tradisional Ke Ekonomi Digital
Oleh: Badrul Munir
Ada tempat yang nilainya tidak cukup dihitung dari luas tanah dan harga bangunannya. Ada ruang kota yang menyimpan sesuatu yang jauh lebih mahal: ingatan
Pasar Seketeng adalah salah satunya.
Melalui berbagai media, kita mendengar gagasan Pemerintah Kabupaten Sumbawa, lewat Bupati Sumbawa, H. Syarafuddin Jarot, untuk membangun pasar tradisional di lokasi baru, sementara Pasar Seketeng yang lama diwacanakan bertransformasi menjadi pasar modern atau mal. Tanpa menggunakan, APBD tegasnya.
Gagasan itu tentu lahir dari keinginan membawa perdagangan Sumbawa menuju keadaan yang lebih maju, tertata, bersih, dan nyaman. Namun ada pertanyaan yang patut kita renungkan:
Haruskah menjadi modern kemudian meninggalkan sejarah?
Pasar Bukan Sekadar Tempat Berjualan
Sejarah mencatat, Pasar Seketeng tumbuh dalam perjalanan sejarah Kota Sumbawa Besar dan memiliki hubungan dengan perkembangan pusat Kesultanan Sumbawa. Bersama istana, masjid, alun-alun, dan kampung-kampung lama, pasar menjadi bagian dari ekosistem kehidupan kota.
Istana menjadi pusat pemerintahan. Masjid menjadi pusat spiritualitas. Alun-alun menjadi ruang perjumpaan. Dan pasar menjadi tempat ekonomi rakyat berdenyut.
Karena itu, ketika berbicara tentang Pasar Seketeng, kita tidak hanya berbicara tentang bangunan dan aktivitas jual beli. Kita sedang berbicara tentang salah satu simpul pembentuk sejarah Kota Sumbawa Besar.
Bangunannya boleh berubah. Pengelolaannya harus diperbaiki. Teknologinya harus berkembang.
Tetapi fungsi sejarahnya jangan sampai terputus.
Modernisasi Tanpa Mencabut Akar
Mempertahankan Pasar Seketeng bukan berarti mempertahankan kekumuhan, kesemrawutan, atau ketidaknyamanan atas nama sejarah. Tentu tidak!
Pasar Seketeng justru perlu berubah. Namun perubahan itu tidak harus menghapus jati dirinya.
Di sinilah saya membayangkan Pasar Seketeng mengambil peran baru: “menjadi jembatan transformasi ekonomi tradisional menuju ekonomi digital.”
Bukan pasar lama yang sekadar direnovasi. Bukan pula mal yang memutus ingatan masa lalu. Tetapi sebuah Pasar Pusaka Samawa yang hidup, modern, kreatif, dan terkoneksi dengan ekonomi digital.
Bayangkan pedagang tetap berjualan, produk pertanian dan perikanan Sumbawa tetap hadir, demikian pula kuliner, tenun Samawa, kerajinan, dan produk UMKM.
Tetapi cara bekerjanya berubah.
Pembayaran digital digunakan. Produk lokal dikemas lebih baik. UMKM memiliki katalog digital. Pedagang mulai masuk marketplace. Anak-anak muda membantu pemasaran melalui media sosial dan membangun jaringan distribusi.
Lapak bertemu layar._Tradisi bertemu teknologi.
Pedagang lama bertemu generasi baru.
Teknologi tidak menggusur pedagang kecil. Teknologi justru memperkuat mereka.
Laboratorium Ekonomi Rakyat
Pasar Seketeng dapat menjadi laboratorium transformasi ekonomi rakyat Sumbawa.
Di dalamnya dapat dikembangkan ruang UMKM, etalase produk unggulan desa, pusat pemasaran produk lokal, layanan transaksi digital, informasi komoditas, ruang pelatihan, serta tempat bertemunya pedagang dengan anak muda dan pelaku ekonomi kreatif.
Transformasi digital dengan demikian tidak berhenti sebagai wacana dalam seminar. Ia berlangsung setiap hari di tengah kehidupan masyarakat.
Itulah ekonomi digital yang membumi.
Gagasan ini juga sejalan dengan cita-cita menjadikan Sumbawa Besar sebagai Kota Pusaka menuju Kota Peradaban.
Pusaka tidak boleh menjadi benda mati yang hanya dikenang dan difoto. Pusaka harus hidup, digunakan, diwariskan, menghasilkan nilai ekonomi, dan memberi manfaat kepada masyarakat.
Pasar Seketeng dapat menjadi contoh bagaimana sebuah warisan kota tidak hanya dipertahankan, tetapi diberi fungsi baru untuk menjawab tantangan zaman.
Mall Bisa Dibangun di Tempat Lain
Ini bukan pro kontra, bukan juga pilihan. Kita membutuhkan investasi. Kita membutuhkan pusat perdagangan modern.
Karena itu tulisan ini bukan ajakan menolak mal. Tetapi ajakan berpikir jernih. Karena ada satu hal yang perlu direnungkan: "Mal bisa dibangun di tempat lain. Pasar Seketeng hanya ada satu."
Pembangunan kota tidak hanya berbicara tentang nilai ekonomi sebidang tanah. Ia juga berbicara tentang identitas, sejarah, memori kolektif, dan warisan apa yang hendak kita serahkan kepada generasi berikutnya.
Jika setiap ruang lama diganti karena dianggap kurang modern, suatu hari kota mungkin memiliki bangunan yang semakin megah, tetapi semakin sedikit tempat yang mampu menceritakan siapa dirinya.
Karena itu, tidak perlu mempertentangkan pasar baru dengan Pasar Seketeng.
Pasar baru dapat melayani perdagangan yang membutuhkan ruang lebih luas, akses logistik yang lebih baik, dan pelayanan regional. Sedangkan Seketeng dapat memperoleh mandat yang lebih khas: pasar pusaka sekaligus pusat transformasi ekonomi rakyat menuju ekonomi digital.
Keduanya dapat tumbuh dengan fungsi yang berbeda tetapi saling melengkapi.
Jembatan Menuju Masa Depan
Pada akhirnya, transformasi digital bukan terutama tentang aplikasi, marketplace, atau QR Code. Transformasi digital adalah tentang manusia. Tentang Tau dan Tana Samawa.
Pertanyaannya: ketika ekonomi bergerak semakin cepat menuju dunia digital, siapa yang kita ajak berjalan bersama dan siapa yang tertinggal?
Pedagang kecil tidak boleh menjadi penonton perubahan. Mereka harus menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.
Pasar Seketeng dapat menjadi tempat kita membuktikannya.
Dari pasar yang diwariskan sejarah, lahir ekonomi baru.
Dari pedagang tradisional, tumbuh pelaku usaha digital.
Dari kearifan masa lalu, dibangun keberanian menghadapi masa depan.
Sebab kota yang maju bukanlah kota yang berlari mengejar kemodernan tapi meninggalkan sejarahnya. Kota yang maju adalah kota yang mampu membawa sejarahnya ikut berjalan menuju masa depan.
Dan dari Pasar Seketeng, Sumbawa Besar dapat menunjukkan bahwa menjadi modern tidak harus kehilangan akar—bahwa pusaka dan kemajuan dapat berjalan bersama menuju Kota Pusaka, Kota Peradaban.
Salam peradaban.
Mataram, 7 September 2026
What's Your Reaction?