MBG dan Anggara yang Menguap Sebelum Sampai ke Kepiring

amramr
Jul 10, 2026 - 18:00
Jul 10, 2026 - 18:03
 0  8
MBG dan Anggara yang Menguap Sebelum Sampai ke Kepiring
Ilustrasi anggaran MBG yang menguap sebelum sampai ke piring

”MBG dan Anggara yang Menguap Sebelum Sampai ke Kepiring’.

Oleh : Vallensiana Ceria, Ayu Safitri,Suhery Cantika

Diatas kertas, matematika Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terdengar sederhana sekian triliun rupiah dibagi sekian puluh juta penerima manfaat, hasilnya adalah satu porsi makan bergizi di meja setiap anak. Namun praktik di lapangan menunjukkan bahwa antara angka di dokumen anggaran dan makanan yang benar-benar sampai ke piring, ada jarak yang jauh lebih panjang daripada yang dibayangkan dan di sepanjang jarak itulah sebagian uang negara menguap melalui birokrasi yang berbelit, sasaran yang meleset, pengadaan yang janggal, dan kini, dugaan korupsi yang menyeret pimpinan lembaga pengelolanya sendiri.

Lintasan anggaran MBG adalah cerita tentang akselerasi tanpa kendali. Pada tahun pertama pelaksanaannya, 2025, program ini mengantongi Rp71 triliun. Setahun kemudian, usulan anggaran melonjak hampir lima kali lipat menjadi Rp335 triliun, sebelum akhirnya "dioptimalkan" menjadi sekitar Rp268 triliun setelah tekanan defisit APBN yang melebar mendekati ambang 3 persen dan gelombang kritik publik yang menguat.

Terlepas dari angka final yang terus bergerak, satu hal jelas kenaikan anggaran berlangsung jauh lebih cepat daripada pembangunan sistem yang mampu mengawasinya. Setiap hari, pemerintah menggelontorkan sekitar Rp1,2 triliun untuk operasional MBG jumlah yang lebih besar daripada seluruh anggaran riset nasional dalam satu tahun penuh.

Pemerintah mengklaim proporsi belanja MBG diatur ketat 70 persen untuk bahan.baku pangan, 20 persen untuk operasional termasuk distribusi dan insentif, serta 10 persen untuk kebutuhan intensif lainnya. Namun rincian pengadaan yang mencuat ke publik justru menimbulkan tanda tanya besar terhadap disiplin alokasi itu.

Persoalan bertambah rumit karena arsitektur pelaksanaan MBG dijalankan melalui rantai perantara yang panjang Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yayasan, dan berbagai mitra pelaksana, alih-alih dikelola langsung oleh sekolah seperti lazimnya program serupa di banyak negara lain.

Dilihat dari persoalan diatas,MBG ini kurang efisien ketika kita melihat dari beberapa kasus yang menimbulkan kerugian sangat besar. Kalo tujuan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk mensejahterakan masyarakat dan memberikan perhatian terhadap masyarakat yang sulit memperoleh bahan pangan bergizi,seperti masyarakat di daerah pedesaan atau wilayah terpencil. Mengapa program ini diluncurkan pertama kali di wilayah-wilayah perkotaan yang memiliki akses sumber makanan dan kebutuhan gizi?

Daripada sibuk menggelontorkan anggaran untuk makanan bergizi gratis, pemerintah seharusnya fokus membenahi pendidikan yang masih jauh dari layak dibanyak daerah.Jangan sampai program ini hanya menjadi pencitraan politik, sementara persoalan mendasar bangsa justru diabaikan.

Anak-anak Indonesia, terutama di daerah terpencil, tidak hanya membutuhkan makan gratis, tetapi juga sekolah yang layak, guru yang berkualitas, fasilitas yang memadai, dan dukungan nyata agar mereka bisa menjadi generasi emas 2045. Memberi makan anak memang penting, tetapi itu bukan solusi utama. Tugas negara yang paling mendesak adalah memastikan keluarga punya penghasilan layak, akses pendidikan terbuka, dan kehidupan yang manusiawi, sehingga orang tua mampu memenuhi kebutuhan anaknya tanpa harus bergantung pada program sesaat.(AM)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow