Bom Waktu Puasa & Lebaran, Soft Landing Republik
Bom Waktu Puasa & Lebaran, Soft Landing Republik
Oleh Dr.Syahrul Salam
Dalam hitungan hari, bulan puasa akan menyapa republik dan warga dunia. Judulnya puasa, tapi taulah konsumsi republik meningkat, potensi inflasi tergerek naik, smua orang merasa butuh sembako dan fashion plus travelling dalam lipatan angka.
Catatan pertama, mementain daya beli adalah kawalan pertama. Perlu energi ekstra untuk menghantar penduduk republik punya daya tahan. Tantangannya adalah psikologi isu dan realisasi kebijakan pengetatan anggaran, telah menjadi gelombang, dan mulai menghantam sektor riil.
Spending pemerintah yang ditahan dalam wujud pemotongan anggaran akan dianggap badai yang menghantui Aceh hingga Papua. Teriakan para anggota dewan di kabupaten hingga Senayan sebagai representasi anak anak republik, mulai memonopoli opini publik.
Catatan kedua, sebagai rentetan situasi republik, perlu exit strategy yang soft landing, langkah kongkrit dan menyelamatkan wajah pemerintah terpilih. Satu diantaranya adalah menunda secara berjenjang pemotongan anggaran, terlebih memasuki momentum bulan puasa dan lebaran. Keberpihakan terhadap siswa dalam wujud makan siang gratis tidak harus mengorbankan sumber - sumber pendapatan orang tua.
Catatan ketiga, perlu diantisipasi gelombang isu negatif pemotongan anggaran sebagai jurang penciptaan pengangguran skala masif. Eskalasi isu dan potensi gerakan protes bisa berujung kepada kerusuhan. Kerusahan karena lapar jauh lebih dahsyat ketimbang bom Hirosima dan Nagasaki.
What's Your Reaction?
