Selamat Datang, 2026: Langit Basah, Harap yang Menyala

amramr
Dec 30, 2025 - 19:55
Dec 30, 2025 - 19:56
 0  34
Selamat Datang, 2026: Langit Basah, Harap yang Menyala
Ilustrasi Tahun Baru

Selamat Datang, 2026: Langit Basah, Harap yang Menyala

Cerpen  Oleh : Sri Asmediati 

Malam itu hujan turun pelan, seolah langit ikut ragu apakah harus menumpahkan seluruh kesedihan atau menahannya sedikit lagi untuk esok hari. Di sudut kota kecil yang tak pernah benar-benar tidur, jam dinding di ruang tamu rumah tua berdetak lebih keras dari biasanya. Jarumnya perlahan mendekati angka dua belas.

Tahun 2025 sedang sekarat.

Di ruang tamu itu, empat orang duduk dengan jarak yang tidak jauh, tetapi terasa sangat berjauhan. Ada Raka, guru honorer yang gajinya tak pernah cukup hingga akhir bulan. Ada Maya, jurnalis lokal yang lelah menulis kebenaran namun kerap kalah oleh judul-judul pesanan. Ada Ibu Sari, pedagang kecil yang lapaknya berkali-kali digusur demi “penataan kota”. Dan ada Damar, mahasiswa tingkat akhir yang skripsinya tertunda bukan karena malas, tetapi karena harus bekerja serabutan demi membayar uang kuliah.

Mereka bukan keluarga sedarah, tetapi malam itu disatukan oleh alasan yang sama: tidak punya tempat lain untuk merayakan pergantian tahun.

“Sebentar lagi 2026,” ujar Maya pelan, menatap layar ponselnya yang memantulkan cahaya kembang api dari kota-kota besar. “Entah kenapa, aku tidak merasa excited.”

Raka tersenyum pahit. “Aku juga. Tahun baru sekarang rasanya seperti pergantian kalender, bukan harapan.”

Ibu Sari menghela napas panjang. Tangannya yang kasar memegang gelas teh hangat, seakan itu satu-satunya hal yang masih bisa memberinya rasa aman. “Dulu, setiap tahun baru, saya selalu berdoa supaya hidup lebih baik. Sekarang… saya cuma berharap bisa bertahan.”

Jam berdetak lagi. Detik-detik terakhir 2025 terasa berat, seolah membawa tumpukan cerita yang belum selesai: janji-janji pejabat yang menguap, bencana yang datang silih berganti, harga kebutuhan pokok yang naik tanpa permisi, dan mimpi-mimpi kecil yang terpaksa dikubur pelan-pelan.

Damar berdiri dan membuka jendela. Udara malam menerobos masuk bersama aroma tanah basah. Di kejauhan, suara terompet dan tawa anak-anak bersahut-sahutan. “Aneh ya,” katanya, “di luar orang-orang merayakan, di sini kita seperti sedang mengadili tahun yang baru saja mati.”

Maya tertawa kecil. “Mungkin memang begitu. Kita perlu mengadili masa lalu sebelum memaafkannya.”

Mereka terdiam. Jam menunjukkan pukul 23.59.

Satu menit terakhir.

Raka menutup mata. Dalam benaknya, wajah murid-muridnya bermunculan. Anak-anak desa yang datang ke sekolah dengan sepatu bolong, buku tipis, tetapi mata yang penuh cahaya. Ia ingat bagaimana ia hampir menyerah bulan lalu, ketika gajinya telat tiga bulan dan kontraknya belum jelas diperpanjang. Namun ia tetap masuk kelas, tetap mengajar, karena ia tahu, jika ia pergi, satu lagi cahaya kecil akan padam.

“Kalau boleh jujur,” kata Raka tiba-tiba, “aku takut sama 2026.”

Semua menoleh.

“Takut kenapa?” tanya Ibu Sari.

“Takut ternyata ia sama saja. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Datang membawa janji, pergi meninggalkan luka.”

Maya mengangguk. “Ketakutan itu wajar. Tapi mungkin bukan tahun yang harus kita takuti, melainkan cara kita menjalaninya.”

Detik terakhir berbunyi.

Di luar, kembang api meledak serentak, menerangi langit yang basah. Warna-warni cahaya menari di balik awan, memantul di jendela, menyusup ke ruang tamu yang sederhana itu.

“Selamat tinggal, 2025,” bisik Damar.

“Selamat datang, 2026,” ucap Ibu Sari lirih, hampir seperti doa.

Tahun baru lahir.

Namun tidak ada sorak-sorai di ruangan itu. Tidak ada pelukan penuh euforia. Yang ada hanyalah keheningan yang jujur—keheningan orang-orang yang terlalu lelah untuk berpura-pura bahagia, tetapi masih cukup kuat untuk berharap.

Maya berdiri dan mengambil buku catatannya. “Aku ingin menulis sesuatu malam ini.”

“Judulnya?” tanya Raka.

“‘Selamat Datang, 2026: Tolong Jangan Ingkar Janji.’”

Mereka tertawa kecil.

Di luar, hujan mulai reda. Kembang api perlahan menghilang, menyisakan asap tipis dan bau mesiu. Kota kembali ke ritmenya yang biasa, seolah pergantian tahun hanyalah jeda singkat sebelum rutinitas menelan semuanya lagi.

Namun di ruang tamu itu, sesuatu berubah—meski kecil, meski nyaris tak terlihat.

Ibu Sari mulai bercerita tentang rencananya membuka lapak kecil di depan rumah, meski tanpa izin resmi. “Kalau nunggu izin, saya bisa kelaparan,” katanya jujur.

Damar berbagi tekad untuk menyelesaikan skripsinya tahun ini, apa pun risikonya. “Aku capek tertunda terus,” ujarnya. “2026 harus jadi tahun terakhir aku menunda mimpi.”

Raka berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak berhenti mengajar, meski sistem sering kali tak berpihak. “Kalau aku menyerah, siapa yang tersisa untuk anak-anak itu?”

Maya menutup bukunya dan menatap mereka satu per satu. “Mungkin 2026 tidak akan mengubah dunia secara tiba-tiba,” katanya. “Tapi kalau kita tetap berdiri, tetap jujur, tetap saling menguatkan, itu sudah bentuk perlawanan.”

Malam semakin larut. Satu per satu dari mereka pamit pulang, membawa sisa kembang api di mata dan secuil harapan di dada.

Raka berjalan menyusuri jalan basah menuju rumah kontrakannya. Di langit, bulan muncul malu-malu dari balik awan. Ia berhenti sejenak, menatap ke atas, lalu tersenyum tipis.

“Selamat datang, 2026,” gumamnya. “Aku belum sepenuhnya percaya padamu, tapi aku bersedia mencoba.”

Di sudut lain kota, Maya mengirimkan tulisannya ke redaksi, meski tahu kemungkinan besar akan disunting, dipotong, bahkan mungkin ditolak. Namun ia tetap mengirimkannya. Karena kebenaran, pikirnya, tidak boleh berhenti hanya karena takut kalah.

Ibu Sari menata lapaknya yang sederhana di teras rumah, lebih awal dari biasanya. Tahun baru, tekad baru. Ia tahu hidup tidak akan langsung mudah, tetapi ia juga tahu satu hal: menyerah bukan pilihan.

Damar membuka laptop tuanya dan mengetik satu kalimat di halaman skripsi yang lama kosong: Bab I: Pendahuluan. Ia tersenyum, seolah baru saja menyalakan lilin kecil di ruangan gelap.

Dan begitulah 2026 dimulai.

Bukan dengan janji-janji besar. Bukan dengan keajaiban instan. Tetapi dengan langkah-langkah kecil dari orang-orang biasa yang menolak kalah oleh keadaan.

Tahun baru itu tidak sempurna. Ia tetap membawa masalah, ketidakpastian, dan luka-luka lama yang belum sembuh. Namun ia juga membawa kesempatan—kesempatan untuk bertahan, memperbaiki, dan percaya sekali lagi.

Di negeri yang sering lelah oleh dirinya sendiri, harapan kadang bukan tentang menang besar, melainkan tentang tidak menyerah hari ini.

Dan di suatu malam yang basah oleh hujan dan cahaya kembang api, 2026 disambut bukan dengan teriakan, melainkan dengan tekad sunyi:

Apa pun yang terjadi, kami akan tetap berjalan.

Selamat datang, Tahun Baru 2026.

Jadilah saksi bahwa kami pernah jatuh,

namun memilih bangkit—sekali lagi.(AM)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow