M.Solikin: 16 Tahun Menantang Bara, Gugur sebagai Pelindung di Ujung Malam

amramr
Mar 22, 2026 - 08:56
Mar 22, 2026 - 09:41
 0  256
M.Solikin: 16 Tahun Menantang Bara, Gugur sebagai Pelindung di Ujung Malam

M.Solikin: 16 Tahun Menantang Bara, Gugur sebagai Pelindung di Ujung Malam

Oleh : Abdul Ma'ruf Rahmat 

SUMBAWA.Alas.Amarmedia.co.id — Malam itu, Minggu (22/3/2026), jarum jam baru saja melewati angka dua dini hari. Saat sebagian besar warga Dusun Sawo, Desa Kalimango, sedang terlelap, sirene meraung memecah keheningan. Di balik kemudi dan di atas mobil pemadam, ada sosok-sosok tangguh yang melawan kantuk demi satu tujuan: menyelamatkan nyawa dan harta benda sesama.

Salah satu dari mereka adalah M.Solikin. Sebagai Komandan Regu (Danru) di Pos Damkar Alas, ia adalah orang pertama yang berdiri di garis depan saat si jago merah mulai mengamuk dan melahap 31 rumah warga. Namun, siapa yang mengira bahwa malam itu akan menjadi babak terakhir dari pengabdian panjang sang penakluk api.

 

Bagi rekan-rekannya di Dinas Damkartan Sumbawa, Solikin bukan sekadar rekan kerja. Pria berusia 37 tahun asal Kebayan, Kelurahan Brang Biji ini adalah simbol ketekunan. Perjalanannya mengabdi dimulai pada tahun 2010 sebagai tenaga honorer daerah. Belasan tahun ia bersabar, bertaruh nyawa di tengah panasnya kobaran api, hingga akhirnya diangkat menjadi PPPK pada tahun 2023.

"Enam belas tahun ia mendedikasikan hidupnya untuk masyarakat. Kinerjanya luar biasa, ia sangat disiplin dan bertanggung jawab," kenang Kepala Dinas Damkartan Sumbawa, H. Sahabuddin, S.Sos.M.Si dengan suara berat penuh duka.

Dedikasi itulah yang membawanya dipercaya memimpin regu di wilayah Alas. Sebuah amanah yang ia jalankan dengan penuh integritas hingga embusan napas terakhirnya.

Detik-Detik Terakhir di Garis Api

Suasana di lokasi kebakaran saat itu sangat mencekam. Api merambat cepat di permukiman padat. Solikin dan timnya berjibaku, mencoba memutus rantai kobaran agar tidak semakin banyak keluarga yang kehilangan tempat tinggal. 

Di tengah keriuhan warga yang panik dan kepulan asap pekat, sebuah musibah tak terduga terjadi. Solikin diduga tersengat aliran listrik saat tengah memegang selang pemadam. Rekan-rekannya sempat berusaha memberikan pertolongan pertama dan melarikannya ke Puskesmas Alas, namun takdir berkata lain. Sang pahlawan kemanusiaan itu dinyatakan gugur dalam tugas.

Ia pergi saat sedang berupaya agar orang lain tetap memiliki tempat untuk berteduh.

Kepergian Solikin meninggalkan lubang besar di hati keluarga besar Damkar Sumbawa dan masyarakat. Ia meninggalkan kedua orang tua dan 3 saudara perempuan  yang selalu menunggunya pulang setiap kali ia berangkat bertugas. Namun kini, ia pulang sebagai seorang syuhada kemanusiaan.

Gugurnya Solikin menjadi pengingat bagi kita semua akan besarnya risiko yang dihadapi para petugas pemadam kebakaran. Mereka adalah orang-orang yang berlari menuju bahaya saat orang lain berlari menjauhinya.

Saat ini, di tengah duka atas kepergian Solikin, puluhan kepala keluarga di Kalimango juga sedang terduduk lesu menatap puing-puing rumah mereka yang rata dengan tanah. Sebanyak 31 rumah ludes, meninggalkan luka materiil dan batin yang mendalam.

Mari kita teruskan semangat pengabdian almarhum Solikin dengan menunjukkan kepedulian kita. Membantu para korban kebakaran di Kalimango adalah cara terbaik untuk menghormati perjuangan terakhir sang Danru. Semangat Saling Pedi, Saling Beme—saling peduli dan saling membantu—harus terus kita nyalakan, sebagaimana Solikin menyalakan keberaniannya di tengah malam yang kelam itu.

Selamat jalan, Solikin. Terima kasih atas 16 tahun pengabdianmu. Jejak keberanianmu akan selalu hidup dalam setiap detak jantung Kota Sumbawa (AM).

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow