Eksplorasi Emas PT Intam dan Wajah Masa Depan Ekonomi Tana Samawa

amramr
Jul 6, 2026 - 17:21
Jul 6, 2026 - 17:58
 0  10
Eksplorasi Emas PT Intam dan Wajah Masa Depan Ekonomi Tana Samawa
Ilustrasi fase eksplorasi perusahan Tambang.

Eksplorasi Emas PT Intam dan Wajah Masa Depan Ekonomi Tana Samawa

Oleh: Abdul Ma'ruf Rahmat.

Kabar mengenai progres eksplorasi tambang emas di Kabupaten Sumbawa kembali mencuat ke permukaan. Emiten raksasa PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) milik konglomerat Prajogo Pangestu baru-baru ini membeberkan bahwa anak usahanya, PT Intam, telah mengucurkan dana sebesar Rp17,73 miliar untuk mengulik potensi emas di tiga kecamatan: Lantung, Lenangguar, dan Ropang.

Metode sains modern mulai dari geolistrik hingga pengeboran inti sedalam ribuan meter dilakukan demi membuktikan keberadaan urat kuarsa (quartz vein) pembawa emas. Sebagai bagian dari masyarakat Sumbawa, kita tentu tidak bisa menutup mata dari kenyataan ini. Kehadiran investasi skala raksasa di sektor ekstraktif di Tana Samawa selalu membawa dua sisi mata uang yang sama kuatnya: harapan akselerasi ekonomi dan kecemasan akan masa depan ruang hidup kelola rakyat.

Harapan Baru di Tengah Keterbatasan Daerah

Dari kacamata ekonomi makro, temuan awal PT Intam di wilayah selatan Sumbawa ini adalah sebuah angin segar bagi struktur fiskal daerah. Kita tahu, tantangan pembangunan di Kabupaten Sumbawa ke depan tidaklah mudah. Keterbatasan APBN dan APBD sering kali membuat program-program strategis lokal harus berjalan merangkak dengan penuh efisiensi.

Jika fase eksplorasi ini nantinya berhasil melangkah ke tahap eksploitasi, ada potensi multi-efek (multiplier effect) yang masif. Lapangan kerja baru akan terbuka untuk putra-putri daerah, sektor UMKM di sekitar lingkar tambang berpotensi hidup, dan kontribusi berupa Dana Bagi Hasil (DBH) maupun program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) atau dulu dikenal dengan Corporate Social Responsibility (CSR) dapat menjadi stimulus tambahan bagi pembangunan infrastruktur yang selama ini dinanti masyarakat Lantung, Lenangguar, dan Ropang khususnya dan Kabupaten Sumbawa pada umumnya.

Namun, Saya memandang bahwa kegembiraan atas angka investasi ratusan miliar atau triliunan rupiah tidak boleh membuat kita abai pada sektor fundamental Tana Samawa: Pertanian dan Kehutanan

Kecamatan Lenangguar, Lantung, dan Ropang bukan sekadar titik koordinat di atas peta konsesi tambang. Wilayah-wilayah ini adalah hulu penting, benteng hijau, sekaligus basis penghidupan petani sawah, pekebun, dan peternak rakyat (lar).

Oleh karena itu, ada beberapa catatan kritis yang harus kita kawal bersama sejak fase eksplorasi ini. Diantaranya adalah Mitigasi Dampak Lingkungan Sejak Dini.

Metode pengeboran inti hingga target 7.000 meter ke depan harus dipastikan tidak merusak struktur hidrologi lokal. Air adalah urat nadi pertanian Sumbawa. Jangan sampai demi mengejar urat emas (quartz vein), kita mengorbankan urat air yang menghidupi ribuan hektare sawah warga di hilir.

Sebagai bantalan keberlanjutan program eksplorasi, keterbukaan Informasi dan pelibatan masyarakat sangat penting. Investasi yang sehat berakar pada transparansi. Masyarakat lokal di tiga kecamatan tersebut tidak boleh hanya menjadi penonton atau objek sosialisasi stempel basah. Mereka harus paham apa yang sedang terjadi di atas tanah leluhur mereka, apa risikonya, dan apa hak-hak yang seharusnya mereka terima.

Ada sebuah harapan besar dengan keberadaan perusahaan tambang yakni Komitmen Transfer Keahlian (Skill Transfer). 

Kita tidak ingin tenaga kerja lokal hanya diserap pada sektor sekuriti, supir, atau buruh kasar. Sejak masa eksplorasi dan studi kelayakan ini, PT Intam dan vendornya (PT GIS, PT Armindo, PT Geostrom) harus mulai memikirkan bagaimana anak-anak muda Sumbawa dididik untuk menguasai teknologi geologi, pemetaan, dan manajemen lingkungan industri.

Penutup: Investasi yang Memanusiakan Tana Samawa

Kita tidak anti-investasi. Sumbawa membutuhkan percepatan, dan sektor pertambangan diakui merupakan salah satu jalan tol menuju pertumbuhan ekonomi yang cepat. Namun, sejarah panjang pertambangan di Indonesia mengajarkan kita bahwa pertumbuhan ekonomi tanpa pemerataan dan kelestarian ekologi hanya akan menyisakan lubang raksasa dan konflik sosial di kemudian hari.

Kita berharap PT Intam dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk mampu menunjukkan model industri pertambangan yang berbeda—sebuah industri yang patuh pada prinsip Good Mining Practice, menghormati hukum lokal, serta berjalan beriringan demi menjaga kelestarian sektor pertanian Sumbawa.

Mari kita kawal bersama progres ini. Tekanan sosial yang mungkin terjadi yang memanfaatkan keberadaan perusahaan tambang seharusnya tidak menjadi hambatan, tetap harus bisa dikomunikasikan dengan baik berdasarkan asas kebermanfaatan, keadilan dan kepatuhan atas regulasi mineral. Negara ini adalah negara yang di payungi dengan hukum. Tindakan   pemaksaan kehendak tanpa ada alas hak yang benar tentunya tidak bisa dibenarkan,  dan kita harus peka dengan kondisi sosial yang bisa saja terjadi. Kemakmuran Sumbawa tidak boleh hanya dinikmati di lantai bursa saham Jakarta, tetapi harus membumi, mengalir, dan menyejahterakan para petani serta masyarakat di sepanjang aliran sungai Lantung, Lenangguar, dan Ropang dan bumi Sabalong Samalewa. (AM)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow