Refleksi Akhir Tahun 2025: Sultan Sumbawa Serukan Penguatan Moral dan Adat Menghadapi Krisis Bangsa

amramr
Dec 30, 2025 - 14:27
Dec 30, 2025 - 15:22
 0  56
Refleksi Akhir Tahun 2025: Sultan Sumbawa Serukan Penguatan Moral dan Adat Menghadapi Krisis Bangsa

Refleksi Akhir Tahun 2025: Sultan Sumbawa Serukan Penguatan Moral dan Adat Menghadapi Krisis Bangsa

Sumbawa Besar.Amarmedia.co.id – Menutup tahun 2025 yang penuh tantangan—mulai dari rentetan bencana alam, isu korupsi yang masif, hingga ketidakpastian ekonomi—masyarakat adat Sumbawa diingatkan untuk kembali ke akar filosofi leluhur. Pesan mendalam ini datang dari Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) melalui Pasatotang Adat (Pesan Adat) Yang Mulia Sultan Muhammad Kaharuddin IV.

Ketua Dewan Syara' LATS Dea Guru Syukri Rahmat SAg.M.M.Inov kepada awak media Selasa 30 Desember 2025 mengungkapkan bahwa refleksi akhir tahun ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya "ikhtiar menyelamatkan masa depan bangsa" melalui tujuh butir prinsip hidup Tau Ke Tana Samawa (Orang dan Tanah Sumbawa).

Menjaga Marwah di Tengah Badai

DG.Syukri Rahmat menjelaskan bahwa poin utama dalam pesan Sultan adalah pentingnya integritas. "Taket ko Nene’ Kangila Boat Lenge" (Takut kepada Tuhan dan malu berbuat buruk) menjadi fondasi utama. Menurutnya, jika prinsip ini dipegang teguh, maka praktik korupsi yang merusak sendi bangsa dapat ditekan karena adanya rasa malu secara sosial dan spiritual.

"Kita berada di persimpangan. Bencana alam mungkin ujian, tapi bencana moral seperti korupsi adalah pilihan. Sultan mengingatkan kita untuk 'Bau Tu Dapat Kerik Selamat'—agar kita semua bisa memperoleh keselamatan dan kedamaian melalui perbuatan baik," ujar DG. Syukri.

Tujuh Pilar Utama Pasatotang Adat

Dalam catatan yang diterima, tujuh poin Pasatotang Sultan Muhammad Kaharuddin IV menjadi panduan strategis bagi masyarakat dan pemimpin:

1. Integritas Spiritual: Taket ko Nene’ Kangila Boat Lenge Ma Bau Tu Dapat Kerik Selamat artinya Menanamkan rasa takut kepada Allah SWT dan rasa malu berbuat buruk demi keselamatan bersama.

2. Ketulusan Niat: Sakantap Niat Kewa Satemung Pamendi ke Panyadu; artinya menyatukan niat tulus dengan kasih sayang dan kepercayaan dalam bekerja.

3. Keadilan: Bakarante Gama Kewa Benar Ke Adil artinya Berbicara menjalin hubungan antar manusia (Bakarante) dengan landasan kebenaran dan keadilan.

4. Mawas Diri: To Diri, Mengas Pamikir, Guar Panangar artinya Pentingnya introspeksi diri (To Diri), menjernihkan pikiran, dan memperluas wawasan.

5. Supremasi Hukum: Manang Tenga Sapalangan Hukum Kewa Benar ke Adil artinya Menegakkan hukum di tengah-tengah masyarakat secara adil tanpa tebang pilih.

6. Demokrasi Lokal: Satingi Musyarawarh Mufakat; artinya Menjunjung tinggi musyawarah untuk mufakat dalam setiap pengambilan keputusan.

7. Tauhid dan Kehormatan: Sakuat Ibadat, Arap Kasuka Ke Tunas Kareda Allah Subhanahu Wata’ala; Kewa Pelihara Marwah Ke Martabat Tau Ke Tana Samawa.Artinya Memperkuat ibadah, mengharap ridha Allah, sembari menjaga marwah serta martabat orang dan tanah Sumbawa.

 Ikhtiar Menyelamatkan Masa Depan

Menutup pernyataannya, DG.Syukri Rahmat menegaskan bahwa Pasatotang ini adalah kompas bagi generasi muda dalam menghadapi tahun 2026. Di tengah gempuran modernitas dan krisis multidimensi, nilai-nilai adat dianggap sebagai "benteng terakhir" bangsa.

"Masa depan bangsa ini hanya bisa diselamatkan jika kita kembali ke jati diri. Adil, benar, dan religius bukan hanya slogan, tapi tindakan nyata seperti yang dipesankan oleh Yang Mulia Sultan," pungkasnya. (AM)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow