Diaspora Sumbawa Julmansyah : Saatnya Agroforestri dan UMKM Bangkit
Jakarta. Amarmedia.co.id- Para Diaspora Sumbawa yang kini bekerja di Jakarta masih aktif memikirkan dan terpanggil untuk membangun Sumbawa. Salah satunya adalah Julmansyah S.Hut.MAP. yang kini menjabat sebagai Direktur Penangan Konflik Tenurial dan Hutan Adat Kementerian Kehutanan
"Sebagai diaspora Sumbawa di Jakarta, kami merasa terpanggil untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah. Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) bagi Bupati dan Wakil Bupati yang baru harus menjadikan dokumen yang solutif, mampu menjawab permasalahan mendasar yang dihadapi Sumbawa" ujarnya membuka percakapan Rabu 12 Maret 2025.
Kemudian lanjutnya Sumbawa yang dikenal sebagai gudang ternak, kini menghadapi tantangan serius. Pengetahuan tradisional beternak nyaris hilang, dan peternakan skala besar belum optimal. Perubahan pola tanam juga mengkhawatirkan, dari padi-palawija menjadi palawija saja, akibat terbatasnya pasokan air yang disebabkan kerusakan hutan di hulu. Selain itu, sektor UMKM, yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat, perlu mendapat perhatian lebih.
Menurutnya Lar orang-orang Sumbawa zaman dulu itu nyaris hilang, sekarang ada konsep baru yang namanya lar skala kecil karena sekarang orang-orang yang punya ternak 20 ekor sampai 30 ekor harus menyiapkan pakannya sendiri setelah memiliki Lar kecil sendiri sementara orang-orang sumbawa ini kan bukan orang yang punya tradisi intensifikasi ternak dia lebih ke melepas liar oleh karena itu masalah ini harus dicari solusinya momentumnya dalam menyusun RPJMD bagi Bupati dan Wakil Bupati yang baru.
"Menurut kami kehadiran dokumen RPJMD itu harus bisa menjawab masalah yang dihadapi oleh Sumbawa. Sumbawa itu nenek moyangnya bukan pelaut tapi peternak. zaman kita masih kecil, kakek nenek kita ini kan naik haji karena peternakan, kita bersekolah jauh-jauh itu juga karena ternak. Demikian pula kalau yang anak pegawai negeri masih juga mengandalkan ternak untuk sumber pendapatan" jelasnya.
Yang kedua lanjutnya, melihat perubahan pola tanam di 10 tahun terakhir. menurut data kami atau data yang saya miliki terjadi perubahan pola tanam yang tadinya padi-padi palawija sekarang padi palawija bahkan palawijaya saja. kenapa ? Karena suplay airnya terbatas sebab hulunya sudah hancur padahal sebagian besar penduduk Sumbawa itu adalah petani.
Permasalahan yang ketiga adalah bagaimana menggairahkan industri-industri kecil, UMKM dan sektor informal yang selama ini menjadi penopang tulang punggung ekonomi masyarakat.
Untuk itu menurutnya solusi utama adalah merestorasi ekosistem Sumbawa. Banjir yang terjadi baru-baru ini menunjukkan adanya perubahan tutupan lahan akibat ekspansi monokultur. Oleh karena itu, kami mengusulkan restorasi ekosistem dengan pola agroforestri.
Agroforestri memungkinkan penanaman berbagai jenis tanaman, meningkatkan keanekaragaman hayati, dan menyelesaikan masalah pakan ternak serta sumber daya air. Kami melihat keberhasilan agroforestri di sabuk hijau Rinjani, Lombok, sebagai contoh yang baik.
Pemerintah daerah perlu memberikan insentif dan pendampingan kepada petani yang mengembangkan agroforestri, serta mengarahkan program penghijauan. Lahan-lahan "Gempang Tau Samawa" harus direvitalisasi dengan pendekatan agroforestri, mengurangi ataupun meninggalkan sistem monokultur.
Restorasi ekosistem dan agroforestri akan mendorong perkembangan agroindustri. Pemerintah daerah perlu mengidentifikasi komoditas utama yang akan dikembangkan, dan fokus pada pengembangan industri yang berkelanjutan. (AM)
What's Your Reaction?