Ironi Pembangunan dan Runtuhnya Ekologi: Analisis Sosiologi Lingkungan atas Deforestasi di Desa Batu Bangka
Ironi Pembangunan dan Runtuhnya Ekologi: Analisis Sosiologi Lingkungan atas Deforestasi di Desa Batu Bangka
Oleh: Ayu Safitri, Suhery Cantika, Elda Novi Cahyanti, Dewi Kurnia Antari Putri, Fadilah Cahya Aulia
(Mahasiswi Program Studi Sosiologi, Universitas Teknologi Sumbawa)
Pendahuluan
Hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan fondasi stabilitas bagi kehidupan manusia di sekitarnya. Namun, di Desa Batu Bangka, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa, hubungan harmonis ini mulai retak. Fenomena deforestasi atau penggundulan hutan telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Lahan yang dulunya hijau kini berubah menjadi hamparan jagung dan pemukiman.
Dampaknya bukan hanya hilangnya pepohonan, melainkan rusaknya infrastruktur vital seperti jalan desa yang menjadi urat nadi ekonomi. Esai ini akan membedah bagaimana pilihan-pilihan sosial dan ekonomi masyarakat, jika dilihat melalui kacamata sosiologi lingkungan, justru berujung pada kerugian kolektif yang menghambat kemajuan desa.
Deforestasi sebagai Tindakan Sosial yang Rasional
Jika kita meminjam perspektif Max Weber, deforestasi di Desa Batu Bangka bukanlah sekadar peristiwa alam, melainkan sebuah tindakan sosial. Masyarakat melakukan penebangan bukan tanpa alasan; ada makna subjektif yang diarahkan pada pencapaian ekonomi. Dalam hal ini, terjadi apa yang disebut Weber sebagai Rasionalitas Instrumental.
Masyarakat memandang hutan sebagai sumber daya yang harus dikonversi menjadi keuntungan cepat melalui perladangan jagung. Jagung dipilih karena memiliki pasar yang jelas dan hasil yang instan. Namun, rasionalitas ini sering kali bersifat picik. Demi mengejar efisiensi ekonomi jangka pendek, aspek ekologis diabaikan. Akibatnya, hutan kehilangan fungsinya sebagai penyerap air. Ketika vegetasi hilang, tanah kehilangan jangkar alaminya, menyebabkan erosi yang kemudian merusak struktur jalan saat banjir bandang melanda.
Krisis Otoritas dan Kegagalan Birokrasi
Selain faktor perilaku individu, Weber juga menekankan pentingnya otoritas legal-rasional melalui birokrasi. Di Desa Batu Bangka, terdapat indikasi melemahnya pengawasan otoritas terhadap kawasan hutan. Birokrasi yang seharusnya menjadi benteng perlindungan lingkungan sering kali terjebak dalam dilema antara mencapai target pembangunan ekonomi dan menjaga kelestarian alam.
Lemahnya penegakan hukum terhadap illegal logging skala kecil dan pembiaran pembukaan lahan liar menciptakan persepsi bahwa eksploitasi hutan adalah hal yang wajar. Ketimpangan antara kebijakan di atas kertas dengan praktik di lapangan mengakibatkan kerusakan lingkungan yang sistematis, yang pada akhirnya membebani negara dan desa dengan biaya perbaikan infrastruktur jalan yang terus-menerus rusak akibat bencana.
Dampak Sistemik: Lingkungan, Sosial, dan Ekonomi
Dampak deforestasi di Desa Batu Bangka bersifat berantai. Secara ekologis, hilangnya tutupan hutan memicu banjir bandang dan krisis air bersih karena rusaknya siklus hidrologi.
Secara sosial, bencana yang timbul akibat kerusakan hutan memicu konflik lahan dan memperlemah hak-hak komunitas lokal atas sumber daya yang sehat. Namun, dampak yang paling dirasakan sehari-hari adalah kerusakan jalan. Jalan yang lumpuh akibat erosi dan banjir dari perbukitan gundul menyebabkan petani kesulitan membawa hasil panen ke kota. Ekonomi lokal pun terhenti. Ini adalah sebuah ironi: hutan digunduli untuk pertanian, namun hasil pertanian tidak bisa dijual karena jalan rusak akibat hutan yang digunduli.
Dampak Manifestasi di Desa Batu Bangka
secara Lingkungan adalah terjadinya Erosi tanah, hilangnya habitat fauna, dan risiko banjir bandang. Secara Sosial terjadi Konflik perebutan lahan dan penurunan kualitas hidup masyarakat dan secara ekonomi menimbulkan biaya tinggi untuk perbaikan jalan dan penurunan produktivitas lahan.
Menuju Etika Tanggung Jawab
Solusi atas krisis ini menuntut transisi dari "Etika Keyakinan" (yang hanya percaya pada pertumbuhan ekonomi) menuju "Etika Tanggung Jawab". Masyarakat dan pemerintah harus mulai memperhitungkan konsekuensi jangka panjang dari setiap pohon yang ditebang. Pembangunan jalan dan pembukaan lahan harus dilakukan dengan perhitungan risiko ekologis yang matang.
Kesimpulan
Deforestasi di Desa Batu Bangka adalah bukti nyata bahwa ketika alam hanya dianggap sebagai komoditas, masyarakatlah yang akhirnya menanggung beban kerusakannya. Kerusakan jalan desa adalah simbol dari kegagalan kita dalam mengelola keseimbangan antara kebutuhan perut dan kelestarian bumi. Diperlukan sinergi antara kesadaran masyarakat dan ketegasan birokrasi untuk melakukan reboisasi dan pengawasan ketat. Tanpa perubahan cara pandang yang lebih bertanggung jawab terhadap alam, pembangunan ekonomi yang dikejar melalui deforestasi hanya akan menjadi jalan buntu bagi kesejahteraan masa depan. (AM)
What's Your Reaction?