Dampak Banjir terhadap Masyarakat Brang Bara: Analisis Sosiologi Lingkungan
Oleh: Vallensiana Ceria, Nengsih Purnama, Nurmeilani, Febi Pebriani, Fatimah Az Zahro (Mahasiswi Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik Universitas Teknologi Sumbawa)
Pendahuluan
Bencana alam sering kali dianggap sebagai peristiwa murni teknis atau meteorologis. Namun, jika ditelaah lebih dalam, bencana seperti banjir di Kelurahan Brang Bara, Kabupaten Sumbawa, merupakan cermin dari rapuhnya hubungan antara manusia dan alam. Secara geografis, Brang Bara yang terletak di dataran rendah memang rentan, tetapi krisis ini diperparah oleh dinamika sosial-ekologis yang terjadi jauh di wilayah hulu. Melalui perspektif sosiologi lingkungan, esai ini akan membedah bagaimana perilaku manusia di satu wilayah menciptakan penderitaan ekonomi di wilayah lain, sekaligus bagaimana masyarakat membangun benteng pertahanan sosial di tengah genangan air.
Akar Masalah: Ketimpangan Ekologis Manusia
Teori Ekologi Manusia yang dikembangkan oleh Robert E. Park menekankan adanya hubungan timbal balik yang konstan antara masyarakat dan lingkungannya. Dalam konteks Brang Bara, hubungan ini tampak sedang sakit. Banjir kiriman yang melanda pemukiman warga bukan sekadar "nasib" karena curah hujan tinggi, melainkan dampak dari aktivitas deforestasi masif di kawasan Semongkat (hulu sungai).
Pengalihan fungsi lahan hutan menjadi perkebunan jagung menyebabkan tanah kehilangan daya serapnya. Akibatnya, air hujan tidak lagi menjadi berkah yang terserap ke dalam tanah, melainkan berubah menjadi run-off atau air permukaan yang mengalir destruktif ke hilir. Fenomena ini menunjukkan bahwa permasalahan lingkungan di Brang Bara bersifat struktural; tindakan ekonomi segelintir orang di hulu berdampak pada stabilitas sosial masyarakat di hilir.
Realitas Ekonomi: Kehilangan dan Kerentanan
Ketika banjir melanda, dampak yang paling nyata terlihat adalah pada sektor ekonomi. Bagi warga Brang Bara, banjir bukan sekadar air yang masuk ke rumah, melainkan ancaman terhadap kelangsungan hidup. Kerusakan aset produktif seperti warung kelontong dan tempat usaha mikro menjadi pukulan telak. Banyak warga yang kehilangan modal usaha dalam semalam, memaksa mereka kembali ke titik nol tanpa adanya tabungan atau dana darurat yang memadai.
Ketidakmampuan ekonomi ini menciptakan siklus kerentanan. Meskipun pemerintah daerah hadir memberikan bantuan, intervensi yang dilakukan sejauh ini masih bersifat karitatif atau bantuan darurat jangka pendek seperti sembako. Belum ada skema pemulihan ekonomi jangka panjang atau asuransi kerugian bencana yang mampu melindungi warga dari kemiskinan pasca-banjir.
Resiliensi Sosial: Antara Gotong Royong dan Kekerabatan
Di balik dampak destruktifnya, banjir juga memicu munculnya "Solidaritas Organik" yang kuat. Menariknya, di tengah keterbatasan bantuan resmi, masyarakat Brang Bara mengaktifkan modal sosial mereka sendiri. Terjadi transformasi pola interaksi; warga saling membantu mengevakuasi barang, membersihkan lumpur, dan berbagi makanan.
Namun, Berdasarkan hasil observasi lapangan dan wawancara mendalam,ditemukan bahwa bencana banjir yang melanda Kelurahan Brang Bara tidak terlepas dari degradasi lingkungan yang terjadi di wilayah hulu sungai, tepatnya di kawasan Semongkat.
Secara sosiologi lingkungan, fenomena ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan ekosistem akibat aktivitas deforestasi dan penggundulan hutan secara masif. Hilangnya vegetasi di wilayah hulu menyebabkan perubahan struktur dan daya serap tanah; ketiadaan akar pohon mengakibatkan air hujan tidak lagi terinfiltrasi ke dalam tanah secara optimal,melainkan langsung menjadi air permukaan (run-off) yang mengalir deras kepemukiman. Kondisi ekologis yang rusak di hulu inilah yang menjadi pemicuutama terjadinya banjir kiriman yang secara periodik mengancam stabilitas kehidupan masyarakat di hilir, khususnya Kelurahan Brang Bara.
Dalam konteks sosiologis, dampak sosial dipahami sebagai perubahan signifikan dalam struktur dan pola kehidupan masyarakat akibat suatu fenomena. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pascabanjir, terjadi transformasi dalam pola interaksi masyarakat Kelurahan Brang Bara. Meskipun aktivitas rutin seperti pekerjaan dan pendidikan mengalami kelumpuhan total akibat akses yang terputus, muncul fenomena penguatan modal sosial di tengah krisis. Solidaritas organik terlihat nyata melalui meningkatnya intensitas gotong royong warga dalam membersihkan lingkungan dan mendistribusikan bantuan. Menariknya, terdapat pola bantuan yang berbasis kekerabatan (kinship), di mana warga yang tidak terdampak secara langsung cenderung memprioritaskan bantuan tenaga dan materi kepada keluarga atau kerabat dekat mereka yang mengalami kerusakan tempat tinggal paling parah.
Hal inimerefleksikan bahwa di tengah bencana, ikatan primordial tetap menjadi fondasi utama dalam mekanisme pertahanan sosial masyarakat desa.
Secara ekonomi, banjir menimbulkan dampak destruktif terhadap stabilitas finansial warga. Kerusakan yang terjadi dikategorikan sebagai kerusakan struktural dan kehilangan aset produktif. Banyak warga kehilangan harta benda, sementara sektor usaha mikro seperti warung dan tempat usaha kecil milik penduduk hancur tersapu arus. Kehilangan modal usaha ini memaksa masyarakat untuk memulai kembali (rebuilding) aktivitas ekonomi mereka dari titik nol tanpa adanya cadangan dana darurat yang memadai.
Kelumpuhan ekonomi ini diperparah dengan terhentinya mata pencaharian harian selama masa pemulihan, yang pada akhirnya meningkatkan kerentanan ekonomi masyarakat Brang Bara dalam jangka panjang.
Terkait respon otoritas, hasil observasi menunjukkan bahwa peran pemerintah masih terfokus pada fase tanggap darurat (emergency response).Intervensi yang diberikan cenderung bersifat karitatif, yakni penyediaan kebutuhan logistik dasar seperti bantuan pangan (sembako) dan makanan siap saji bagi para pengungsi. Meskipun bantuan ini sangat krusial saat masyarakat berada di posko pengungsian atau sedang melakukan perbaikan mandiri, namun keterlibatan pemerintah dalam pemulihan ekonomi jangka panjang dan mitigasi banjir berbasis lingkungan di wilayah hulu (Semongkat) dirasa masih memerlukan strategi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan melampaui sekadar pemberian bantuan sembako.
Berdasarkan pembahasan dari hasil penelitian menujukkan adanya dampak serius terhadap sosial dan ekonomi di brang bara,dampak sosial akibat banjir yaitu mengalami perubahan, di lihat dari interaksi masyarakat Kelurahan Brang bara.
Dalam kondisi pascabanjir, interaksi masyarakat lebih banyak terpusat pada upaya saling membantu. Warga saling bekerja sama membersihkan lingkungan, menyalurkan bantuan, dan membantu korban yang terdampak lebih parah. Hal ini menunjukkan meningkatnya solidaritas dan gotong royong antarwarga. Namun di sisi lain sebagai masyarakat Brang bara yang tidak terkena dampak banjir lebih memprioritaskan membantu keluarga atau kerabat yang terkena dampak banjir parah dalam membantu membersihkan tempat tinggal mereka pasca banjir .
Dampak ekonomi akibat banjir di Kelurahan Brang bara mengalami kerusakan yang cukup parah. Mereka kehilangan harta benda, usaha atau warung warga hancur karena terendam banjir dan masyarakat memulai dari awal untuk membangun usaha yang telah hancur tersebut.
Jadi respon pemerintah terhadap sosial dan ekonomi masyarakat Brang bara yaitu berdasarkan hasil observasi pemerintah lebih banyak berperan dalam memberikan bantuan darurat, terutama berupa sembako dan makan cepat saji kepada para korban banjir. bantuan tersebut di berikan pada saat masyarakat masih berada di pengungsian ata sedang melakukan perbaikan Mandiri terhadap rumah dan fasilitas mereka yang rusak.
Resolusi
Berdasarkan hasil penelitian, kami merekomendasikan beberapa solusi berkelanjutan untuk mengatasi banjir di Kelurahan Brang Bara. Pertama, perlu dilakukan pengerukan sungai agar kapasitas daya tampung air meningkat.
Kedua, kami mengusulkan kolaborasi antar-mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya reboisasi (penghijauan kembali) di wilayah hulu sungai yang saat ini telah beralih fungsi menjadi lahan pertanian.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak bergerak sendiri,melainkan bekerja sama dengan pemerintah untuk menciptakan penanganan banjir yang terpadu. Kolaborasi ini melibatkan berbagai program studi sesuai bidang keahliannya, seperti Program Studi Sosiologi untuk melakukan pendekatan dan edukasi sosial kepada masyarakat, program Studi KSDA (Konservasi Sumber Daya Alam) untuk merancang strategi reboisasi yang tepat dan program Studi Teknik Lingkungan untuk memberikan solusi.
Penutup
Banjir di Kelurahan Brang Bara adalah pengingat keras bahwa lingkungan adalah bagian integral dari struktur sosial kita. Ketika hutan di hulu digunduli demi keuntungan ekonomi sesaat, masyarakat di hilir harus membayar harganya dengan kerusakan harta benda dan trauma sosial. Dibutuhkan kebijakan yang komprehensif—bukan hanya bantuan sembako saat bencana, tetapi juga ketegasan regulasi di wilayah hulu dan penguatan modal ekonomi warga di hilir—agar harmoni antara manusia dan alam di Sumbawa dapat dipulihkan kembali. (AM)
What's Your Reaction?