Kembalikan Hati sebagai Rahim Pendidikan Refleksi menghadapi Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026
Kembalikan Hati sebagai Rahim Pendidikan
Refleksi menghadapi Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026
Oleh : Junaidi, S.Pd.,M.Pd
(Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Dikbud Kabupaten Sumbawa)
Dunia pendidikan kita hari ini seolah sedang berjalan di padang gersang, kehilangan oase yang dahulu begitu rimbun oleh nilai-nilai ketulusan dan pengabdian. Kita terjebak dalam bangunan-bangunan megah dan kurikulum yang padat, namun sering kali lupa bahwa pendidikan sejatinya adalah proses "menuntun" jiwa, bukan sekadar mengisi botol kosong dengan tumpukan informasi. Ada kerinduan mendalam untuk kembali ke rahim pendidikan yang hangat, sebuah ruang di mana sekolah dan keluarga tidak lagi berdiri sendiri-sendiri, melainkan menyatu dalam satu napas untuk menjaga ruang batin anak agar tetap suci dan terbebas dari kepungan pengaruh negatif lingkungan yang kian liar.
Pondasi pendidikan masyarakat Sumbawa sejatinya telah mewariskan protokol ruhani yang sangat luar biasa, menempatkan hati sebagai sumber utama dari setiap gerak kehidupan. Segalanya bermula dari niat yang dipasrahkan sepenuhnya ke hadirat Sang Khaliq, sebuah titik nol di mana ego manusia ditanggalkan sebelum melangkah. Niat ini kemudian tidak dibiarkan menguap begitu saja, melainkan direnungkan secara mendalam dengan menjadikan hati sebagai kompas kehidupan. Dalam keheningan renungan itu, seorang insan menimbang kemanfaatan dan kesucian langkahnya, memastikan bahwa apa yang akan ia kerjakan selaras dengan kehendak langit dan harmoni alam semesta.
Setelah perenungan batin itu tuntas, tahap selanjutnya bukanlah langsung bertindak, melainkan kembali memasrahkan diri secara total kepada Sang Pemilik Ilmu sebagai pengakuan atas keterbatasan insani. Kesadaran inilah yang membuat para pendahulu kita tidak pernah merasa sombong atas karya-karya monumental yang mereka lahirkan, karena mereka merasa hanyalah perantara dari ilmu Tuhan yang Maha Luas. Baru setelah proses spiritual itu genap, mulai dari niat, renungan hati, hingga kepasrahan akhir, tangan mulai bergerak memulai aktivitas. Inilah rahasia mengapa karya-karya masa lalu memiliki "ruh" yang tetap tegak melintasi zaman, karena ia lahir dari rahim ketulusan batin yang terjaga.
Namun kini, lingkungan yang seharusnya menjadi rahim tempat bertumbuh telah berubah wajah menjadi supermarket raksasa yang serba instan, di mana koneksi digital sering kali lebih kuat daripada koneksi batin antara anak dan orang tuanya. Anak-anak kita dikepung oleh kemudahan fasilitas yang justru memutus dialog mereka dengan nilai-nilai luhur dan realitas sosial yang nyata. Tanpa sinkronisasi antara sekolah dan rumah untuk menghidupkan kembali peran hati sebagai filter utama, jiwa anak menjadi rapuh dan mudah terisi oleh residu negatif dari layar-layar gawai. Kita kehilangan keheningan yang seharusnya menjadi ruang bagi anak untuk belajar merasakan kehadiran Tuhan di tengah hiruk-pikuk modernitas yang mekanistik.
Kesadaran untuk "pulang ke rahim" pendidikan menjadi sangat mendesak menjelang Hardiknas 2026, sebagai ikhtiar untuk membangun kembali ekosistem yang melindungi kesucian jiwa anak. Sekolah harus bertransformasi menjadi taman yang tidak hanya mengasah otak, tetapi juga membasuh hati melalui filosofi Balong Ate, sementara keluarga harus kembali menjadi madrasah pertama yang mengajarkan seni kejujuran batin. Kita perlu menciptakan dialog yang jujur antara guru dan orang tua, bukan sekadar membahas angka di rapor, melainkan mendiskusikan bagaimana menjaga agar batin anak tetap memiliki kompas yang tajam di tengah godaan supermarket kehidupan yang kian liar dan transaksional.
Membangun kembali konektivitas batin berarti menempatkan keteladanan di atas instruksi, di mana anak melihat harmoni antara ucapan dan perbuatan dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Di tengah gempuran teknologi yang sering kali menjauhkan manusia dari jati dirinya, sentuhan kasih sayang yang tulus dari guru dan kehadiran utuh orang tua di rumah adalah perisai terkuat bagi anak. Kita harus mampu meyakinkan generasi ini bahwa setiap karya yang dimulai dengan kepasrahan batin akan menghasilkan keberkahan yang tak terhingga bagi dunia. Hanya dengan hati yang dijadikan sumber utama pendidikan, mereka akan mampu berdiri tegak menghadapi badai zaman tanpa harus mengotori kesucian jiwanya.
Pada akhirnya, refleksi 2 Mei ini adalah ajakan untuk merapatkan barisan, menghubungkan kembali jembatan yang terputus antara sekolah dan keluarga demi menjaga marwah batin anak-anak kita. Jika setiap aktivitas pendidikan dikembalikan pada niat yang suci, renungan yang dalam, dan kepasrahan yang total, maka anak-anak kita akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kedalaman jiwa. Mari kita jadikan momen ini sebagai titik balik untuk memuliakan hati sebagai pusat kendali pendidikan, sehingga lahir generasi tercerahkan yang karyanya tidak hanya megah secara rupa, namun juga suci secara makna.(AM)
What's Your Reaction?
