Upaya Masyarakat Dalam Melestarikan Tenun Kere’ Alang pada Era Globalisasi di Dusun Samri Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir
Upaya Masyarakat Dalam Melestarikan Tenun Kere’ Alang pada Era Globalisasi di Dusun Samri Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir
Oleh : Laila Isabel
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Teknologi Sumbawa.
Dusun Samri, sebuah wilayah di Desa Poto, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa, terus mempertahankan warisan budaya lokalnya melalui pelestarian kain tenun Kere’ Alang. Produk khas ini dikenal karena motifnya yang unik, seperti Kemang Satange, Gili Liyuk, dan Kengkang Badayung, yang tidak hanya mencerminkan nilai estetika tetapi juga memiliki makna filosofis mendalam. Namun, globalisasi menjadi tantangan besar, dengan maraknya budaya asing yang memengaruhi preferensi masyarakat, terutama generasi muda.
Dalam penelitian yang dilakukan di Dusun Samri, metode kualitatif digunakan untuk mengungkap bagaimana masyarakat Dusun Samri melestarikan kain ini di tengah perubahan zaman. Salah satu temuan utama adalah peran komunitas lokal, seperti Komunitas Kemang Langit, yang aktif membimbing generasi muda untuk belajar menenun. Proses pembelajaran ini dimulai sejak usia dini, melibatkan siswa sekolah dasar hingga mahasiswa, dengan tujuan menanamkan rasa cinta terhadap warisan budaya lokal.
Tidak hanya masyarakat, pemerintah juga ikut berperan dalam pelestarian ini. Berbagai pameran budaya diadakan, baik di tingkat lokal maupun internasional. Salah satu pameran dihadiri oleh 12 negara yang tertarik melihat langsung keindahan Kere’ Alang. Promosi ini berhasil meningkatkan popularitas kain tenun Sumbawa hingga ke mancanegara, dengan konsumen tidak hanya berasal dari daerah sekitar tetapi juga dari luar negeri, seperti Malaysia.
Namun, tantangan tetap ada. Promosi produk Kere’ Alang masih terbatas pada metode tradisional, seperti dari mulut ke mulut, sehingga potensi pasar digital belum sepenuhnya dimanfaatkan. Selain itu, harga produk yang tinggi, berkisar antara Rp1.500.000 hingga Rp3.000.000, menjadi kendala tersendiri dalam menjangkau pasar yang lebih luas.
Kain Kere’ Alang bukan hanya sekadar produk tekstil tetapi juga simbol identitas budaya masyarakat Sumbawa. Oleh karena itu, masyarakat bersama pemerintah berusaha untuk mempertahankan kualitas kain ini, memperluas jaringan pemasaran, dan terus meningkatkan kesadaran generasi muda akan pentingnya melestarikan budaya lokal.
Upaya ini tidak hanya berdampak pada keberlanjutan tradisi tetapi juga menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat setempat. Melalui kerja sama yang erat antara masyarakat, komunitas, dan pemerintah, Kere’ Alang diharapkan dapat terus menjadi kebanggaan Sumbawa dan dikenal di seluruh dunia sebagai warisan budaya yang kaya akan nilai-nilai lokal.
Kere’ Alang merupakan kain tenun khas yang berasal dari Kabupaten Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Kere’ Alang merupakan produk daerah Sumbawa yang memiliki ciri khas yang unik serta memiliki nilai sejarah yang tinggi. Kere’ Alang memiliki berbagai macam motif di antaranya motif Kemang Satange, motif Gili Liyuk, dan motif kengkang Badayung. Upaya pelestarian kain tenun Kere’ Alang di Dusun Samri cukup mudah. Hal ini dikarenakan banyak masyarakat mulai dari anak-anak hingga dewasa yang memiliki kemauan untuk belajar menenun Kere’ Alang. Hingga saat ini komunitas Kemang Langit sudah memiliki sekitar 100 tenaga. Hal ini tentu saja memudahkan generasi muda yang ingin belajar menenun Kere’ Alang, karena ketersediaan tenaga pengajar yang jumlahnya memadai. Sehingga produksi kain tenun Kere’ Alang dapat terus dilestarikan oleh generasi muda.
Berdasarkan penelitian di atas, peneliti merekomendasikan beberapa saran juga kepada beberapa pihak yang memiliki kaitan dalam pelestarian Kere’ Alang diantaranya sebagai berikut :
- Bagi pengrajin tetap pertahankan, perbaiki kualitas, ajarkan keterampilan menenun ini kepada generasi muda, dan bangun jaringan pemasaran yang lebih luas lagi.
- Masyarakat Tingkatkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap produk lokal warisan budaya dengan menggunakan produk tenun Kere’ Alang dan dukung upaya pelestarian dengan memperkenalkan kain tenun ini kepada generasi muda dan wisatawan.
- Pemerintah Adakan pameran budaya dan festival lokal secara rutin untuk mempromosikan tenun Kere’ Alang kepada masyarakat luas dan Rancang program kesejahteraan bagi pengrajin tenun melalui bantuan finasial atau akses pasar. (AM)
What's Your Reaction?
