Bayang-Bayang Perundungan di Balik Semangat Hardiknas 2026

amramr
Apr 26, 2026 - 15:07
 0  1

Bayang-Bayang Perundungan di Balik Semangat Hardiknas 2026

Oleh Asmediati

Menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, kita kembali diingatkan pada satu kenyataan yang tidak nyaman: dunia pendidikan kita belum sepenuhnya menjadi ruang yang aman bagi semua anak. Di beberapa daerah, kabar tentang aksi perundungan yang melibatkan pelajar menjadi cermin buram yang sulit diabaikan. Di saat seharusnya kita bersiap merayakan semangat belajar dan kemajuan pendidikan, justru luka-luka sosial itu muncul ke permukaan.

Perundungan bukan sekadar persoalan anak-anak yang “bercanda berlebihan”. Ia adalah bentuk kekerasan, baik fisik, verbal, maupun psikologis, yang meninggalkan dampak panjang. Seorang anak yang menjadi korban bisa kehilangan rasa percaya diri, merasa tidak aman, bahkan kehilangan semangat untuk datang ke sekolah. Di sisi lain, pelaku perundungan sering kali tumbuh tanpa menyadari bahwa tindakannya melukai orang lain, karena lingkungan sekitar tidak memberikan batasan yang jelas.

Fenomena ini tidak bisa dilihat sebagai kesalahan satu pihak saja. Ada banyak lapisan yang saling terkait. Keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial memiliki peran yang sama besar. Ketika anak tumbuh dalam suasana yang kurang hangat, minim perhatian, atau terbiasa melihat konflik diselesaikan dengan kekerasan, maka pola itu mudah terbawa ke lingkungan sekolah. Di sana, ia mungkin mencari “kuasa” dengan cara menindas teman yang dianggap lebih lemah.

Sekolah, yang seharusnya menjadi tempat paling aman setelah rumah, kadang belum mampu sepenuhnya mengantisipasi persoalan ini. Tidak semua guru memiliki waktu dan ruang untuk memahami kondisi psikologis setiap siswa. Beban administrasi yang tinggi, jumlah siswa yang banyak, serta keterbatasan fasilitas sering membuat pengawasan tidak berjalan optimal. Akibatnya, tindakan perundungan bisa terjadi di sudut-sudut yang luput dari perhatian.

Namun, menyalahkan kondisi semata juga tidak cukup. Kita perlu jujur mengakui bahwa budaya saling mengejek, merendahkan, bahkan mempermalukan orang lain masih dianggap biasa. Di media sosial, hal seperti ini bahkan sering dianggap hiburan. Anak-anak yang tumbuh dalam budaya seperti itu bisa saja menganggap perundungan sebagai sesuatu yang wajar. Padahal, luka yang ditinggalkan tidak pernah sederhana.

Momentum Hardiknas seharusnya menjadi waktu yang tepat untuk melakukan refleksi. Pendidikan bukan hanya soal nilai akademik atau prestasi lomba. Lebih dari itu, pendidikan adalah tentang membentuk manusia yang beradab, yang mampu menghargai orang lain, dan memiliki empati. Jika masih ada anak yang takut datang ke sekolah karena diintimidasi, maka ada yang perlu kita perbaiki bersama.

Upaya pencegahan perundungan harus dimulai dari hal-hal sederhana namun konsisten. Di lingkungan keluarga, orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka dengan anak. Mendengarkan cerita mereka, memahami perasaan mereka, dan memberi contoh bagaimana memperlakukan orang lain dengan baik. Anak yang merasa dihargai di rumah cenderung lebih mampu menghargai orang lain di luar.

Di sekolah, pendekatan yang lebih humanis perlu diperkuat. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping. Membuka ruang dialog dengan siswa, mengenali tanda-tanda adanya perundungan, dan berani bertindak ketika melihat ketidakadilan. Sekolah juga bisa membuat program sederhana seperti kegiatan literasi, diskusi kelompok, atau permainan kolaboratif yang menumbuhkan rasa kebersamaan.

Selain itu, penting untuk menciptakan sistem pelaporan yang aman bagi korban. Banyak kasus perundungan tidak terungkap karena korban takut untuk berbicara. Mereka khawatir akan mendapat balasan yang lebih buruk atau tidak dipercaya. Jika sekolah mampu menyediakan ruang yang aman dan responsif, maka peluang untuk mencegah kasus berulang akan lebih besar.

Peran masyarakat juga tidak kalah penting. Lingkungan yang peduli akan lebih cepat menangkap gejala-gejala awal perundungan. Tetangga, tokoh masyarakat, dan komunitas lokal bisa menjadi bagian dari solusi dengan menciptakan suasana yang lebih ramah bagi anak-anak. Kegiatan bersama, seperti gotong royong atau acara budaya, bisa menjadi sarana untuk menanamkan nilai kebersamaan sejak dini.

Tidak kalah penting, kita juga perlu bijak dalam menggunakan media sosial. Banyak kasus perundungan saat ini tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga melalui dunia maya. Komentar yang merendahkan, penyebaran foto atau video tanpa izin, hingga ujaran kebencian bisa menjadi bentuk perundungan digital yang dampaknya tidak kalah besar. Edukasi tentang etika bermedia sosial perlu terus digaungkan, baik di sekolah maupun di rumah.

Hardiknas 2026 seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan dengan upacara dan pidato. Ia harus menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Bahwa setiap anak berhak merasa aman, dihargai, dan didukung untuk berkembang. Bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari angka kelulusan, tetapi juga dari bagaimana kita memperlakukan sesama.

Perundungan mungkin tidak bisa dihilangkan sepenuhnya dalam waktu singkat, tetapi ia bisa dikurangi jika ada kesadaran kolektif. Langkah kecil yang dilakukan secara bersama-sama akan membawa perubahan besar. Mulai dari kata-kata yang lebih baik, sikap yang lebih peduli, hingga keberanian untuk menegur ketika melihat ketidakadilan.

Di daerah kita, harapan itu tetap ada. Dengan kekayaan nilai budaya dan semangat kebersamaan yang kuat, masyarakat memiliki modal sosial yang besar untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih sehat. Tinggal bagaimana semua pihak mau bergerak, tidak saling menyalahkan, tetapi saling menguatkan.

Menjelang Hardiknas ini, mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita menjadi bagian dari solusi? Sudahkah kita menciptakan ruang yang aman bagi anak-anak di sekitar kita? Jika jawabannya belum, maka sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulai.

Karena pada akhirnya, pendidikan yang baik bukan hanya melahirkan anak-anak pintar, tetapi juga manusia yang memiliki hati. Dan di situlah masa depan yang sesungguhnya dibangun.(AM)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow