Menjemput Takdir Puisi: Seni Memberi ‘Hak’ pada Setiap Bunyi dan Rasa

amramr
Apr 25, 2026 - 16:36
Apr 25, 2026 - 16:46
 0  4
Menjemput Takdir Puisi: Seni Memberi ‘Hak’ pada Setiap Bunyi dan Rasa

Menjemput Takdir Puisi: Seni Memberi ‘Hak’ pada Setiap Bunyi dan Rasa

Oleh: Purna Aprianti 

Editor: Abdul Ma'ruf Rahmat SP 

Berpuisi bukan sekadar urusan melisankan kata dengan nada yang diatur sedemikian rupa. Di balik setiap baris naskah yang digenggam seorang siswa di atas panggung, ada proses panjang yang sering kali menguras air mata, tenaga, hingga kewarasan. Sebagai pendamping, saya menyebutnya sebagai proses "menjemput takdir" sebuah karya sastra.

Ingatan saya melompat kembali ke masa FLS2N di Kupang. Saat itu, perhatian saya tersita oleh seorang siswi berbakat. Ada sesuatu pada pandangan matanya, senyum tipisnya, dan suara kecilnya yang syahdu. Itulah awal mula kami "berproses seperti orang gila." Menyiapkan empat jenis puisi bukanlah perkara mudah. Saya masih ingat bagaimana ia kelelahan hingga tertidur di panggung aula SMKN 1 Sumbawa. Di sana, saya hanya bisa duduk menjaganya, memastikan air minum dan makanan kesukaannya tersedia saat ia terbangun nanti.

Strategi di Balik Selera Juri

Dunia kompetisi puisi adalah perpaduan unik antara pakem ilmu sastra dan subjektivitas atau selera juri. Kami tidak hanya berlatih teknik, tapi juga melakukan "riset." Sesaat setelah Technical Meeting di Kupang, saya meminta nama lengkap dewan juri dan mulai menelusuri jejak digital mereka.

Kami mencoba membedah kecenderungan estetika para juri agar naskah yang diciptakan bisa beresonansi dengan keinginan mereka tanpa kehilangan jati dirinya. Hasilnya? Alhamdulillah, kami berhasil meraih Juara 3 Nasional—satu-satunya piala yang dibawa pulang oleh kontingen NTB kala itu. Sebuah pembuktian bahwa kerja keras yang dipadukan dengan strategi yang tepat tidak akan mengkhianati hasil.

Kisah serupa berulang tahun lalu. Pendampingan dilakukan untuk dua siswa dari latar belakang berbeda: satu dari SMA Negeri 2 Sumbawa Besar dan satu lagi dari SLB Negeri 1 Sumbawa Besar. Melatih anak inklusi memberikan spektrum pembelajaran yang jauh berbeda. Ada kenikmatan luar biasa saat mendampingi anak-anak hebat ini melampaui keterbatasan mereka hingga berhasil mewakili NTB ke tingkat nasional. Di titik ini, juara bukan lagi prioritas utama, melainkan proses kemanusiaan yang terjadi di dalamnya.

Memberikan Hak pada Bunyi

Lantas, apa sebenarnya esensi dari berpuisi? Bagi saya, berpuisi adalah menyampaikan makna melalui nada, intonasi, dan ekspresi yang presisi. Kuncinya adalah memahami makna terdalam dari setiap diksi.

"Jangan lupakan bahwa setiap bunyi memiliki maknanya. Berilah hak untuk setiap bunyi agar diucapkan dengan benar, sehingga pesan yang tersimpan di balik kata sampai dengan utuh ke telinga pendengar."

Sering kali kita melihat pembaca puisi yang salah menangkap aura emosi. Jangan sampai kita bersedih pada puisi sukacita, atau berteriak lantang pada puisi tentang kematian. Ada bunyi-bunyi tertentu yang mewakili setiap rasa. Kejelian menemukan bunyi itulah yang membedakan seorang pembaca puisi biasa dengan seorang penutur rasa.

Rindu yang Menguntai Kembali

Setelah sekian lama terbenam dalam rutinitas di hadapan layar laptop, ada kerinduan yang membuncah untuk kembali menguntai kata. Saya rindu meregangkan jiwa dengan nuansa bunyi dan bersenandung melalui diksi-diksi indah.

Pendidikan dan literasi adalah jalan panjang yang tak ada ujungnya. Melalui Rumah Literasi Yarita, kami akan terus berkomitmen menemani anak-anak hebat ini untuk terus berproses, menikmati setiap rima, dan menemukan jati diri mereka melalui keajaiban puisi. Selamat berproses, anak-anakku. Mari kita beri hak pada setiap rasa yang ingin bicara.(AM)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow