Kolaborasi MBDR dan UPH Jakarta Siap Rangkul Berbagai Pihak Lestarikan dan Promosikan Kere Alang Samawa
Kolaborasi MBDR dan UPH Jakarta Siap Rangkul Berbagai Pihak Lestarikan dan Promosikan Kere Alang Samawa
Sumbawa Besar.Amarmedia.co.id ~ Kere Alang Samawa atau kain songket tradisional khas Sumbawa kembali mendapatkan perhatian. Setelah tahun lalu Museum Bala Datu Ranga (MBDR) mendukung dan berkolaborasi sebagai narasumber dalam penelitian yang diinisiasi oleh Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Universitas Samawa (LPPM UNSA) dan melibatkan berbagai pihak antara lain Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa, Lembaga Adat Tana Samawa (LATS), Dekranasda Kabupaten Sumbawa, dan Social Impact PT Amman Mineral Nusantara (PT AMNT). Targetnya, 55 Motif Kere Alang Samawa berhasil didaftarkan sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) dari Kabupaten Sumbawa oleh Kementerian Hukum RepubIik Indonesia.
Melanjutkan praktik baik ini, MBDR kembali menjalin kolaborasi dengan Program Studi Desain Interior Universitas Pelita Harapan Jakarta (UPH Jakarta) melalui Program Kolaborasi PPKM 2026 – 2027 untuk menggali nilai-nilai luhur dari Kere Alang Samawa sebagai sebuah warisan budaya dan memiliki nilai ekonomi sebagai sebuah produk ekonomi kreatif berbasis budaya. Kegiatan ini merupakan implementasi dari kolaborasi antara dua institusi yaitu Yayasan Datu Ranga Abdul Madjid Daeng Matutu yang memayungi Museum Bala Datu Ranga dengan Program Studi Desain Interior UPH Jakarta.
“Museum Bala Datu Ranga tidak mau menjadi katak dalam tempurung, kami juga ingin berkembang dan bertukar gagasan dengan institusi lain yang memiliki misi yang sama. Kerjasama dengan Prodi Desain Interior UPH sudah berlangsung setahun lebih. Kegiatan yang sudah dilakukan bersama antara lain kami menulis jurnal tentang tata pamer museum, desain destinasi wisata budaya melalui program Sumbawa Heritage Walk, dan yang ketiga ini menggali desain dan motif-motif tenun Sumbawa untuk menjadi inspirasi produk berbasis ekonomi budaya,” tutur Yuli Andari Merdikaningtyas, Direktur Museum Bala Datu Ranga Rabu 28 Oktober 2026.
Dua kegiatan utama dari kolaborasi ini yaitu: pertama, menyelenggarakan Focus Group Dicussion (FGD) bertajuk “Melacak Jejak Kere Alang: Dulu dan Kini” yang melibatkan dan menghimpun wawasan para narasumbar dari berbagai latar belakang antara lain tokoh budaya, maestro tenun, instansi pemerintah, Dekranasda Kabupaten Sumbawa, para akademisi, dan para perancang muda kreatif di Kabupaten Sumbawa. Kedua, Kegiatan Workshop Kreatif “Mengenal Motif Dasar Kere Alang Melalui Kreasi Pouch” yang melibatkan para siswa SMK Negeri 3 Sumbawa. Kedua kegiatan ini bertujuan untuk memperkaya narasi tentang Kere Alang Samawa.
Diskusi ini bertujuan untuk mempertemukan aspirasi berbagai pihak. Sebagai museum, MBDR memiliki misi untuk mengumpulkan, mengkaji, dan menyebarkan informasi tentang nilai, simbol, dan filosofi Kere Alang Samawa kepada masyarakat luas. Di sisi lain, Pemda Sumbawa melalui Kabid Penelitian dan Inovasi Bapperida Kabupaten Sumbawa, Dr. Arya Ningsih menyampakaikan komitmen pemerintah untuk melakukan upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan Kere Alang Samawa yaitu dengan mendaftarkan Kere Alang Samawa sebagai salah satu variasi tenun yang ada di Indonesia untuk didaftarkan dalam Intangible Cultural Heritage atau Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) baik di Indonesia maupun di dunia melalui program UNESCO.
Dua akademisi dari UPH, Ibu Agnes Satyawati Azarja dan Ibu Juli Hidayat, sangat antusias mendengar dan mengamati jalannya diskusi yang dirasa kaya akan muatan lokal dan nilai-nilai ke-Sumbawa-an. Justru dengan mendengar dari peserta apalagi dengan berbagai macam latar belakang, persoalan-persoalan yang pelik dapat dipecahkan. Ada banyak opini, perspektif, tanggapan, dan masukan yang dihasilkan oleh forum diskusi ini, termasuk mengeksplorasi jenis sulam tangan Jit Tahan Uji yang sudah nyaris punah di Sumbawa ini. Para peserta bahkan mengusulkan agar sering-sering dilakukan diskusi yang menghasilkan rekomendasi terutama pada pemegang kebijakan. Menurut H. Hasanuddin HD, persoalan Kere Alang Samawa ini tidak hanya tentang motif dan makna namun juga rasa kecintaan para perempuan Sumbawa yang setia pada tenun. Perlu ada intervensi untuk mengangkat warisan budaya Tau Samawa ini agar dapat terus terjaga dan lestari bahkan di kalangan generasi muda.
Berbicara tentang keterlibatan generasi muda terkait dengan motif Kere Alang Samawa, hari kedua kegiatan kolaborasi MBDR dan UPH ini diisi dengan Workshop Kreatif “Mengenal Motif Dasar Kere Alang Melalui Kreasi Pouch” yang diikuti oleh 20 siswa-siswa SMK Negeri 3 Sumbawa Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) dan Tata Busana. Ibu Agnes selaku pengampu sesi ini sebelum memulai workshop menjelaskan bahwa motif dasar kere alang ini perlu dikenali dulu maknanya sehingga akan muncul rasa ketertarikan dan dimaknai secara personal oleh anak muda. Melalui kreasi mewarna motif dasar Kere Alang para siswa diharapkan dapat menciptakan gagasan mereka sendiri untuk lebih menyelami dan mencintai warisan budaya mereka. (AM)
What's Your Reaction?