Spektrum Pemikiran Global Abi Mang: Dari Ramadhan ke Idul Fitri, Membumikan Manusia ke Fitrah
Spektrum Pemikiran Global Abi Mang: Dari Ramadhan ke Idul Fitri, Membumikan Manusia ke Fitrah
Oleh : Didin Maninggara
Di panggung politik, Abi Mang, sapaan familiar Arachman Alamudy dikenal sebagai politisi lintas zaman.
Pria berusia 74 tahun ini, menyandang empat gelar akademis: Drs, Dr, S.H. dan M.Si. Keempat gelar itu diraih dengan ikhtiar, air mata dan doa.
Di tengah menikmati purnabhaktinya pasca menjabat Wakil Ketua DPRD dan Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Sumbawa, Abi mengisi waktu bersama cucu-cucunya di sebuah rumah asri dan luas di by pass Sering, Samawa Rea. Meski demikian, naluri politiknya tak ikut purnabhakti. Ia konsisten merawat integritas dan profesionalitas. Menjadikan dirinya tetap mendapat posisi dalam kepengurusan Partai Golkar daerah ini hingga kini di posisi Dewan Penasehat
Abi menyikapi perjalanan hidup tidak harus dimulai dari langkah besar, tapi dari langkah kecil. Sebab, perubahan sejati justru lahir dari hal-hal kecil.
Meski berkiprah di tataran lokal, namun pemikiran politik Abi menjangkau spektrum global
Berangkat dari itulah, Abi mengartikulasi makna kesejatian Ramadhan yang baru saja pergi adalah madrasah latihan kedisiplinan. Laboratorium ujian iman, kesabaran dan konsistensi.
Dari Ramadhan ke Idul Fitri
Hari-hari selama Ramadhan adalah berpuasa sebulan penuh. Selama itu kita dilatih menahan diri dari lapar, dahaga dan hawa nafsu. Mengatur pola hidup. Pola makan minum. Mengatur konsumsi. Memperbanyak ibadah dan meningkatkan kualitasnya.
"Semua itu merupakan hal-hal kecil tapi berdampak besar pada perubahan besar didalam kita menjalani kehidupan," ujar Abi saat bincang khusus bersama GARANEWS.ID via telepon selular, usai sholat Ied hari ini.
Melekat kuat dalam diri Abi alangkah indahnya ibadah puasa. Kita taat aturan yang menjadi nilai-nilai utama selama Ramadhan. Mulai dari yang ringan: sholat tepat waktu, makan minum tepat waktu, baca Qur'an, zikir dan sahur. Semua itu kita lakukan dengan konsisten secara personal, namun dalam suasana kolektif.
Dampaknya, bukan hanya peningkatan ibadah, tetapi juga ketenangan, disiplin, dan kejernihan berpikir.
Rutinitas itu berlanjut ke Idul Fitri. Menurut Abi, Idul Fitri bukan akhir, tapi awal kita kembali ke fitrah dengan sistem hidup yang baru dan lebih baik dari sebelumnya.
"Itulah yang disebut Idul Fitri kembali ke fitrah, yakni tranformasi kesejatian hidup," tegas Abi menyiratkan pesan penuh nilai-nilai spiritualitas
Namun Abi menggaris bawahi makna spiritualitas akan memiliki kekuatan dahsyat bila ditransformasikan menjadi pola pikir berkemajuan yang sarat nilai-nilai unggul untuk dipraktikkan dalam kehidupan nyata seperti etos kerja dalam bekerja, bahkan dalam kepemimpinan.
Di tengah dekadensi moral global yang dipertontonkan Amerika-Israel terhadap Iran, Abi menilai perayaan Idul Fitri 1447 H merupakan momentum sejarah yang krusial, di mana tatanan dunia sedang mengalami guncangan hebat akibat eskalasi militer antara Iran dan Israel yang melibatkan hegemoni Amerika Serikat.
Di tengah dentuman mesin perang dan kegagalan diplomasi internasional, dekadensi moral global berada di titik nadir.
Situasi ini, ia lirik dari kacamata sosiologi politik, disebut sebagai dekadensi moral global—sebuah kondisi di mana nilai-nilai etika universal dikalahkan oleh kepentingan pragmatis dan realisme politik yang berbau zionis.
Dalam situasi inilah, Abi mengingatkan, Idul Fitri bagi bangsa Indonesia harus dimaknai melampaui ritus keagamaan, yakni sebagai momentum untuk membumikan kembali Etika Pancasila sebagai kompas moral dunia.
Abi menyebut, krisis global saat ini berakar pada hilangnya empati negara-negara besar terjebak dalam perang di kawasan Timur Tengah yang secara brutal mengabaikan kemanusiaan. Yang dalam konteks substantif, Pancasila adalah antitesis atas pengabaian kemanusiaan yang adil dan beradab.
"Di sinilah Idul Fitri yang mengandung makna kembali pada kesucian (fitrah) manusia, secara substansial selaras dengan prinsip Pancasila yang menempatkan martabat manusia di atas segalanya," ujar Doktor Ilmu Politik itu.
Membumikan etika dan moral berdasarkan Pancasila harus ada gerakan global menolak legalisasi kekerasan yang hari ini dipertontonkan di Timur Tengah, justru ketika umat muslim dunia merayakan hari kemenangan Idul Fitri.
Spirit inilah yang seharusnya diadopsi dari Ramadhan yang sudah berakhir ke Idul Fitri, bahwa kekuatan militer tanpa kendali moral hanya akan melahirkan siklus kehancuran yang tak berujung.
Dalam perspektif teologis, Abi menyebut Al-Qur’an secara eksplisit memerintahkan manusia untuk menjadi penengah dan pendamai konflik global dengan menjadikan Idul Fitri 1447 H sebagai momentum bagi Indonesia untuk melaksanakan pesan perdamaian ke kancah internasional yang berbasis pada pentingnya etika dan moral untuk kemanusiaan.
Diakhir perbincangan, Abi dan keluarga menyampaikan semoga segala hilaf dan salah terhapus. Hati kembali bersih, seperti bayi baru lahir. Dan kebahagiaan selalu menyertai kita semua.
What's Your Reaction?
