Rosidah, S.Pd: Perempuan yang Menjahit Kata, Menjaga Akar, dan Menyalakan Cahaya

amramr
Apr 23, 2026 - 12:59
Apr 23, 2026 - 13:59
 0  59
Rosidah, S.Pd: Perempuan yang Menjahit Kata, Menjaga Akar, dan Menyalakan Cahaya

Rosidah, S.Pd: Perempuan yang Menjahit Kata, Menjaga Akar, dan Menyalakan Cahaya

Oleh. Asmediati 

Pagi di Sumbawa Besar selalu datang dengan cara yang sederhana—angin yang pelan, suara langkah anak-anak menuju sekolah, dan langit yang perlahan membuka hari. Di antara rutinitas yang tampak biasa itu, ada satu sosok yang diam-diam menanam sesuatu yang tak kasatmata: harapan. Namanya Rosidah, S.Pd, seorang guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 3 Sumbawa Besar, yang menjadikan kata sebagai jalan hidupnya.

Ia bukan sekadar pengajar yang berdiri di depan kelas, menjelaskan paragraf dan tanda baca. Rosidah adalah perajut makna. Di tangannya, kata-kata tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupkan. Ia mengajak murid-muridnya mendengar bahasa seperti mendengar detak—kadang lirih, kadang berdebar, tetapi selalu punya arti. Ia tidak memaksa mereka menulis sempurna, melainkan mendorong mereka menulis jujur. Karena baginya, kejujuran adalah awal dari segala keindahan dalam bahasa.

Di sela-sela kesibukannya sebagai pendidik, Rosidah menempuh jalan sunyi yang tidak semua orang pilih: menulis. Ia menulis puisi ketika dunia terasa terlalu padat untuk disimpan sendiri. Ia menulis cerpen ketika realitas membutuhkan cara lain untuk diceritakan. Kata-katanya lahir bukan dari keinginan untuk terlihat, tetapi dari kebutuhan untuk menyuarakan.

Puisi-puisinya seperti bisikan yang mengendap lama di dada—tentang ibu, tentang kehilangan, tentang rindu yang tidak pernah benar-benar pulang. Sementara cerpen-cerpennya berjalan pelan, membawa pembaca masuk ke kehidupan yang akrab: rumah-rumah sederhana, percakapan sehari-hari, dan perasaan yang sering disembunyikan. Ia tidak mencari kehebohan dalam cerita. Ia justru menemukan kekuatan dalam hal-hal kecil yang sering terlewat.

Dalam salah satu tulisannya tentang sosok ibu, Rosidah menulis dengan cara yang begitu tenang, seolah ia sedang berbicara pada dirinya sendiri. Tidak ada kata-kata yang berlebihan, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia membuat pembaca berhenti sejenak, mengingat, dan mungkin diam-diam menitikkan air mata.

Namun, dunia Rosidah tidak berhenti pada tulisan. Ia melangkah lebih jauh—menjadikan literasi sebagai gerakan hidup. Ia aktif menghidupkan budaya membaca dan menulis di tengah masyarakat Tana Samawa, sebuah upaya yang sering kali tidak mudah di tengah derasnya arus zaman. Ia percaya bahwa literasi bukan hanya soal kemampuan membaca huruf, tetapi kemampuan memahami kehidupan.

Ada satu hal yang membuat perjalanan Rosidah menjadi berbeda: kecintaannya pada budaya. Di tengah modernitas yang serba cepat, ia memilih untuk menoleh ke belakang, memungut sesuatu yang hampir terlupakan, lalu membawanya kembali dengan cara yang baru. Ia merawat Satera Jontal, warisan tulisan kuno Sumbawa, dengan ketekunan yang sunyi namun penuh makna.

Bagi banyak orang, Satera Jontal mungkin hanya jejak masa lalu—sesuatu yang tersimpan dalam naskah, jauh dari kehidupan sehari-hari. Tetapi bagi Rosidah, itu adalah identitas. Ia melihatnya bukan sebagai sesuatu yang harus disimpan rapi di rak sejarah, melainkan sesuatu yang harus dihidupkan kembali.

Dan ia menemukan caranya sendiri.

Melalui batik.

Dengan tangan dan imajinasi, ia mengalihkan aksara kuno itu ke dalam motif-motif kain. Setiap garis bukan sekadar ornamen, tetapi huruf yang bercerita. Setiap pola bukan sekadar hiasan, tetapi jejak budaya. Batik-batik itu menjadi jembatan—menghubungkan masa lalu dengan masa kini, mengajak generasi muda mengenal kembali apa yang hampir hilang.

Di sana, di atas sehelai kain, Satera Jontal tidak lagi diam. Ia bergerak, ia hidup, ia dikenakan. Ia masuk ke ruang-ruang yang sebelumnya tak pernah ia singgahi. Dan tanpa banyak kata, Rosidah telah melakukan sesuatu yang besar: ia menghidupkan kembali ingatan kolektif sebuah daerah.

Sebagai bagian dari pengembang kurikulum di sekolahnya, Rosidah membawa semangat yang sama ke dalam dunia pendidikan. Ia tidak ingin sekolah menjadi tempat yang terputus dari akar budaya. Ia percaya bahwa pendidikan harus tumbuh dari tanahnya sendiri—dari nilai, dari tradisi, dari cerita yang diwariskan.

Ia mengajarkan bahwa menjadi modern tidak berarti melupakan asal. Justru dengan mengenal siapa diri kita, kita bisa melangkah lebih jauh tanpa kehilangan arah.

Gaya menulis Rosidah tidak berisik. Ia tidak berusaha menggurui. Ia hanya bercerita—dan justru karena itu, tulisannya terasa dekat. Ia seperti seseorang yang duduk di samping kita, berbicara pelan, tetapi membuat kita berpikir lama setelah percakapan itu selesai.

Ada kelembutan dalam setiap kalimatnya, tetapi juga keteguhan. Ia tidak menulis untuk mengesankan, tetapi untuk menyampaikan. Dan dalam dunia yang sering dipenuhi kata-kata kosong, kejujuran seperti itu menjadi sesuatu yang langka.

Rosidah adalah gambaran tentang bagaimana seorang perempuan bisa menjalani banyak peran tanpa kehilangan dirinya. Ia adalah guru yang sabar, penulis yang jujur, dan penjaga budaya yang tekun. Ia tidak mencari panggung, tetapi karyanya menemukan jalannya sendiri.

Di ruang kelas, ia menyalakan cahaya kecil di benak murid-muridnya. Dalam tulisan, ia meninggalkan jejak yang bisa dibaca kapan saja. Dan melalui batik, ia menjahit masa lalu agar tetap hadir di masa kini.

Mungkin tidak semua orang mengenalnya. Mungkin namanya tidak selalu disebut dalam panggung besar. Tetapi seperti banyak hal penting dalam hidup, apa yang ia lakukan bekerja dalam diam—perlahan, tetapi pasti.

Dan di sanalah letak kekuatannya.

Rosidah, S.Pd, tidak hanya mengajarkan bahasa. Ia mengajarkan cara memahami kehidupan. Ia tidak hanya menulis cerita. Ia sedang menulis warisan.

Dari Sumbawa, ia menjaga kata. Dari kata, ia menjaga budaya. Dan dari budaya, ia menjaga kita—agar tidak lupa dari mana kita berasal.[]

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow