Menebus ‘Dosa Penjajahan’ Melalui Movie at the Museum : Museum Bala Datu Ranga Suarakan Solidaritas untuk Palestina

amramr
Apr 23, 2026 - 08:38
Apr 23, 2026 - 08:40
 0  26
Menebus ‘Dosa Penjajahan’ Melalui Movie at the Museum : Museum Bala Datu Ranga Suarakan Solidaritas untuk Palestina

Menebus ‘Dosa Penjajahan’ Melalui Movie at the Museum : Museum Bala Datu Ranga Suarakan Solidaritas untuk Palestina

Sumbawa Besar.Amarmedia.co.id – Museum selama ini seringkali dipersepsikan hanya sebagai ruang sunyi penyimpan artefak masa lalu. Namun, Museum Bala Datu Ranga di bawah kepemimpinan Yuli Andari Merdikaningtyas, M.A, mendobrak stigma tersebut. Melalui program publik bertajuk “Movie at the Museum”atau dalam bahasa lokal disebut Panto Film Pang Museum, institusi ini mengambil posisi tegas: bersuara untuk Palestina.

Perhelatan yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut pada 21-23 April 2026 ini mengusung tema besar “Palestina dalam Museum, Sinema, dan Testimoni.” Program ini bukan sekadar hiburan visual, melainkan sebuah upaya kolektif untuk mempertajam rasa solidaritas kemanusiaan warga Sumbawa terhadap genosida yang tengah terjadi di tanah Palestina.

Literasi Melalui Lensa: Empat Film, Satu Narasi Perlawanan

Sebagai pembuka, museum menayangkan empat buah film yang memotret realitas kehidupan rakyat Palestina dari berbagai dimensi waktu dan perspektif:1. Ismail (2013): Sebuah refleksi sejarah. 2. Women Testimonies of Nakba (2024): Kesaksian perempuan tentang tragedi pengusiran massal. 3. 200 Meters(2020):Gambaran nyata hambatan fisik dan tembok yang memisahkan keluarga.4. The Shadow of West (1986): Analisis kritis terhadap narasi Barat.

Setelah sesi menonton bareng (nobar), acara dilanjutkan dengan diskusi mendalam yang menghadirkan tiga pemantik ide: Gita Hastarika (Asosiasi Fana), Yuli Andari Merdikaningtyas (Direktur Museum), dan DG Syukri Rahmat SAg.M.M.Inov (Ketua BAZNAS Kabupaten Sumbawa).

Mengapa Museum Harus Berpihak?

Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: Apa relevansi sebuah museum dalam isu politik global seperti Palestina? Merujuk pada pandangan akademisi permuseuman Salsabila Sakinah (2025),  memaparkan tiga alasan filosofis dan politis mengapa museum harus membela Palestina:

Dikatakan Yuli bahwa Salsabila Sakinah (2025), seorang akademisi dan praktisi tentang permuseuman memberi alasan yang kuat museum harus berpihak dan membela Palestina yang sedang mengalami penjajahan dan genosida oleh Israel.  

Pertama, Membela Palestina adalah jalan menebus ‘dosa kolonialisme’ museum. Museum adalah institusi yang lahir dari rahim kolonialisme. Keberadaan museum-museum pertama di dunia berawal dari benda-benda koleksi yang diambil dari tanah jajahan dan dibawa oleh si penjajah ke negerinya. Jelas, museum punya ‘dosa kolonialisme’ yang beberapa abad terakhir coba ditebus oleh banyak museum dengan berbagai cara, salah satunya adalah upaya repatriasi atau pengembalian benda-benda koleksi museum ke negara asalnya. Apa yang dilakukan oleh Israel di tanah Palestina saat ini adalah penjajahan, pembersihan etnis, dan genosida yang tidak berperikemanusiaan. Membela Palestina menunjukkan keberpihakan kita pada pihak yang tertindas dan terjajah. Hal ini sesuai dengan konstitusi negara kita seperti yang tertulis dalam Pembukaan UUD 1945: Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa, oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Kedua, sebuah kebudayaan sedang dihancurkan. Sebagai institusi yang melindungi dan menjaga warisan budaya, museum tidak boleh diam saja. Praktik genosida yang dilakukan Israel kepada rakyat Palestina telah menghancurkan segala-galanyanya, termasuk memusnahkan jejak peradaban dan kehidupan rakyat Palestina serta memutus rantai tradisi dan budaya Palestina yang diwariskan antar generasi. Salah satu tugas dan fungsi museum adalah melestarikan kebudayaan. Museum harus mengambil sikap dan bertindak untuk menyuarakan anti genosida yang tengah berlangsung salah satunya dengan bersuara dan menggunakan media yang punya kekuatan untuk mengubah persepsi publik dari segala bentuk propaganda pro-Zionis yang disebarkan Israel dan sekutunya. Literasi melalui film dan bersuara dalam diskusi setelah pemutaran salah satunya. Movie at Museum sebagai program publik Museum Bala Datu Ranga membawa misi tersebut.

Ketiga, museum memiliki kekuatan sebagai otoritas kultural di masyarakat. Museum adalah institusi yang secara politis tidak bisa dibilang ‘netral’ meski tujuan utamanya adalah memberikan literasi dan edukasi pada publik melalui koleksi dan program yang dimilikinya. Museum harus ‘berpihak’ pada suara dan narasi yang selama ini terbungkam. Selama ini, propaganda Barat bersembunyi dibalik kata kunci “Holocaust” dan menolak apa yang dilakukan rezim Zionis kepada rakyat Palestina sebagai sebuah genosida. Pengekalan narasi ini sering terjadi dengan menggunakan museum maupun monumen peringatan sebagai agen strategis yang membawa misi mereka. Beberapa museum di dunia terutama di negara-negara Eropa mengusung tema tentang “Holocaust” dengan semboyan “Never Again”. Namun mengapa justru survivor genosida NAZI ini malah menjadi oppressor bagi orang Palestina yang mempertahankan tanah air mereka. 

Museum Bala Datu Ranga melalui program publik Movie at the Museum ini berkomitmen untuk memperkuat literasi dan edukasi masyarakat Sumbawa melalui sinema. "Kami percaya pada kekuatan sinema dalam membangun kesadaran. Suara-suara rakyat Palestina yang selama ini terbungkam sudah sepantasnya diangkat dan diresonansikan" tutup Yuli (AM)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow