Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah

amramr
Jul 12, 2026 - 16:08
Jul 12, 2026 - 16:19
 0  26
Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah

Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah

Oleh Sri Asmediati

(Guru SMPN 1 Labuhan Badas)

Hari pertama sekolah selalu menjadi momen yang istimewa. Setelah menikmati libur yang cukup panjang, anak-anak kembali mengenakan seragam, menyiapkan tas, dan bertemu lagi dengan guru serta teman-temannya. Ada yang datang dengan penuh semangat, tetapi ada juga yang masih merasa canggung karena harus kembali mengikuti kegiatan belajar.

Di tengah suasana itu, muncul sebuah gerakan yang patut mendapat perhatian, yaitu gerakan ayah mengantar anak pada hari pertama sekolah. Gerakan ini terlihat sederhana. Seorang ayah hanya mengantar anaknya sampai ke sekolah. Namun, di balik langkah sederhana tersebut, tersimpan makna yang sangat besar bagi tumbuh kembang anak.

Gerakan ini juga mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Sumbawa. Melalui Surat Edaran Bupati Sumbawa Nomor 100.2.3 Tahun 2026 tentang Gerakan Ayah Teladan Indonesia di Kabupaten Sumbawa, para ayah diajak untuk hadir dan mengantar anak pada hari pertama sekolah sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan dan tumbuh kembang anak. Surat edaran ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga menjadi tanggung jawab keluarga, terutama ayah dan ibu yang memiliki peran sama pentingnya dalam mendampingi anak.

Selama ini, banyak orang menganggap bahwa urusan mengantar anak ke sekolah adalah tugas ibu. Tidak sedikit ayah yang sejak pagi sudah berangkat bekerja sehingga jarang memiliki kesempatan untuk mendampingi anak. Padahal, kehadiran ayah juga sangat dibutuhkan. Anak tidak hanya membutuhkan kasih sayang ibu, tetapi juga perhatian dan kedekatan dari ayah.

Ketika seorang ayah meluangkan waktu mengantar anak ke sekolah, anak akan merasa dirinya sangat diperhatikan. Perasaan itu mampu menumbuhkan rasa percaya diri. Anak merasa bahwa ada orang yang selalu mendukung setiap langkahnya. Dukungan seperti ini sangat penting, terutama bagi anak yang baru memasuki jenjang pendidikan baru.

Bagi anak yang baru masuk sekolah, hari pertama sering menjadi pengalaman yang menegangkan. Mereka belum mengenal guru, belum mengetahui lingkungan sekolah, dan belum memiliki banyak teman. Dalam kondisi seperti itu, kehadiran ayah dapat memberikan rasa aman. Anak menjadi lebih tenang karena ada sosok yang mendampinginya sebelum memasuki gerbang sekolah.

Gerakan ini sebenarnya bukan hanya untuk anak usia dini. Murid SMP maupun SMA juga tetap membutuhkan perhatian dari orang tua. Memang mereka sudah terlihat lebih mandiri. Namun, perhatian kecil dari ayah tetap memberikan kesan yang mendalam. Bahkan, banyak remaja yang diam-diam merasa senang ketika ayah bersedia meluangkan waktu untuk mereka.

Mengantar anak ke sekolah juga menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi. Di perjalanan, ayah dapat mengajak anak berbicara tentang banyak hal. Percakapan sederhana seperti menanyakan perasaan anak, memberi semangat belajar, atau mengingatkan untuk berbuat baik kepada teman dapat menjadi bekal yang berharga selama berada di sekolah.

Sayangnya, kesibukan sering dijadikan alasan. Banyak ayah merasa tidak memiliki waktu. Padahal, gerakan ini tidak harus dilakukan setiap hari. Hari pertama sekolah menjadi kesempatan yang sangat baik untuk menunjukkan bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama. Meluangkan waktu satu pagi tentu tidak akan mengurangi pekerjaan, tetapi bisa menjadi kenangan yang akan selalu diingat oleh anak.

Di sekolah, guru juga akan melihat adanya keterlibatan orang tua. Hubungan antara keluarga dan sekolah menjadi lebih dekat. Ketika ayah hadir, sekolah dapat merasakan bahwa orang tua benar-benar mendukung proses pendidikan. Kerja sama seperti inilah yang sebenarnya dibutuhkan agar perkembangan anak berjalan lebih baik.

Gerakan ayah mengantar anak juga memberikan contoh yang baik kepada masyarakat. Anak melihat langsung bahwa seorang ayah tidak hanya bekerja mencari nafkah, tetapi juga ikut terlibat dalam pendidikan. Gambaran seperti ini dapat mengubah cara pandang bahwa mendidik anak adalah tugas bersama antara ayah dan ibu.

Bagi anak laki-laki, kehadiran ayah menjadi teladan dalam bersikap. Mereka belajar tentang tanggung jawab, kedisiplinan, dan kepedulian. Sementara bagi anak perempuan, perhatian ayah dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan perasaan dihargai. Hubungan yang hangat antara ayah dan anak akan menjadi bekal penting bagi kehidupan mereka di masa depan.

Gerakan ini juga mengajarkan nilai kebersamaan dalam keluarga. Kesibukan sering membuat anggota keluarga jarang memiliki waktu bersama. Hari pertama sekolah dapat menjadi salah satu momen untuk kembali mempererat hubungan tersebut. Tidak perlu melakukan hal yang mewah. Mengantar anak, berjabat tangan, lalu mengucapkan selamat belajar sudah menjadi bentuk kasih sayang yang sangat berarti.

Dengan adanya Surat Edaran Bupati Sumbawa tersebut, diharapkan semakin banyak ayah yang ikut berpartisipasi. Kehadiran ayah di sekolah pada hari pertama bukan sekadar memenuhi ajakan pemerintah daerah, tetapi menjadi wujud nyata bahwa mereka peduli terhadap pendidikan anak. Semangat inilah yang diharapkan terus tumbuh sehingga keterlibatan ayah tidak berhenti pada hari pertama sekolah saja.

Tentu tidak semua ayah dapat hadir. Ada yang bekerja di luar kota, bertugas sebagai tenaga kesehatan, aparat keamanan, sopir, nelayan, petani, atau pekerjaan lain yang tidak memungkinkan meninggalkan tugas. Kondisi tersebut tentu harus dipahami. Yang terpenting bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi menunjukkan perhatian kepada anak dengan cara yang memungkinkan. Sebuah pesan singkat, doa, atau panggilan telepon juga dapat menjadi penyemangat bagi anak.

Gerakan ini sebaiknya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan bahwa ayah selalu terlibat dalam pendidikan anak. Bentuknya bisa bermacam-macam, seperti menemani belajar, menghadiri rapat orang tua, mendengarkan cerita anak sepulang sekolah, atau sekadar menanyakan bagaimana kegiatan mereka hari itu.

Pendidikan yang baik tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Rumah juga merupakan tempat belajar yang paling utama. Di rumah, anak belajar tentang sikap, kebiasaan, kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat. Semua itu akan lebih mudah tumbuh jika ayah dan ibu sama-sama memberikan contoh yang baik.

Sebagai guru, saya melihat bahwa anak-anak yang mendapat perhatian dari keluarganya umumnya lebih percaya diri dan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah. Mereka merasa memiliki tempat untuk bercerita ketika mengalami kesulitan. Sebaliknya, anak yang merasa kurang diperhatikan sering kali memendam masalah sendirian.

Karena itu, gerakan ayah mengantar anak pada hari pertama sekolah layak terus didukung. Terlebih lagi, dukungan tersebut kini diperkuat melalui Surat Edaran Bupati Sumbawa Nomor 100.2.3 Tahun 2026 tentang Gerakan Ayah Teladan Indonesia di Kabupaten Sumbawa. Harapannya, gerakan ini menjadi budaya yang terus hidup di tengah masyarakat dan membawa dampak positif bagi dunia pendidikan.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh guru dan sekolah. Orang tua memiliki peran yang sama pentingnya. Ketika sekolah, keluarga, dan masyarakat saling bekerja sama, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, bertanggung jawab, serta memiliki semangat belajar yang baik. Semoga gerakan ayah mengantar anak di hari pertama sekolah menjadi awal tumbuhnya budaya keterlibatan ayah dalam setiap perjalanan pendidikan anak. Karena bagi seorang anak, kehadiran ayah bukan hanya sebuah kebanggaan, melainkan juga sumber semangat yang akan selalu dikenang sepanjang hidupnya. (Sri)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow