MPLS Ramah 2026, Langkah Kecil Menuju Sekolah yang Membahagiakan
MPLS Ramah 2026, Langkah Kecil Menuju Sekolah yang Membahagiakan
Oleh: Sri Asmediati, S.Pd
Setiap tahun ajaran baru selalu menghadirkan cerita baru. Ada wajah-wajah yang penuh semangat karena akhirnya mengenakan seragam sekolah impian. Namun, di balik senyum itu, tidak sedikit anak yang menyimpan rasa cemas. Mereka akan memasuki lingkungan yang sama sekali baru, bertemu guru baru, teman baru, dan aturan yang belum mereka kenal.
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi pengalaman pertama yang akan mereka ingat. Pengalaman itulah yang sering kali menentukan bagaimana perasaan mereka terhadap sekolah. Jika sejak awal mereka merasa diterima dan dihargai, maka sekolah akan menjadi tempat yang menyenangkan. Sebaliknya, jika hari-hari pertama diisi dengan rasa takut, bentakan, atau perlakuan yang mempermalukan, maka sekolah akan terasa seperti tempat yang harus dihindari.
Karena itu, lahirnya Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 tentang pelaksanaan MPLS Ramah patut diapresiasi. Aturan ini bukan sekadar mengatur jadwal kegiatan selama lima hari. Lebih dari itu, aturan ini ingin memastikan bahwa setiap anak memperoleh hak yang sama untuk merasa aman, nyaman, dan bahagia ketika memulai kehidupan sekolahnya.
Selama bertahun-tahun, kita masih sering mendengar cerita tentang perpeloncoan saat MPLS. Ada siswa yang diminta membawa barang-barang yang tidak masuk akal. Ada yang dibentak hanya karena terlambat menjawab. Bahkan, ada yang menjadi bahan tertawaan di depan teman-temannya. Sebagian orang menganggap itu hanya tradisi agar siswa menjadi disiplin. Padahal, cara seperti itu justru meninggalkan luka yang tidak terlihat.
Anak-anak datang ke sekolah untuk belajar, bukan untuk dipermalukan. Mereka ingin diterima sebagai bagian dari keluarga baru. Bukankah sekolah sering disebut sebagai rumah kedua? Jika demikian, sudah seharusnya setiap anak disambut dengan keramahan, bukan dengan rasa takut.
Saya melihat aturan baru ini membawa semangat yang berbeda. Sekolah tidak lagi hanya berbicara tentang nilai rapor atau prestasi akademik. Sekolah juga diminta membangun lingkungan yang sehat secara emosional. Anak-anak perlu merasa bahwa guru adalah tempat bertanya, teman adalah tempat berbagi, dan sekolah adalah tempat yang membuat mereka ingin datang setiap pagi.
Enam materi wajib dalam MPLS Ramah juga terasa sangat dekat dengan kebutuhan anak saat ini. Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, misalnya, mengajarkan bahwa karakter baik harus dibangun sejak dini. Kebiasaan hidup bersih, disiplin, bertanggung jawab, rajin belajar, dan saling menghormati tidak bisa muncul begitu saja. Semua itu tumbuh dari pembiasaan yang dilakukan setiap hari.
Program Pagi Ceria juga layak mendapat perhatian. Kegiatan sederhana seperti menyapa, berdoa, bernyanyi, atau melakukan aktivitas ringan sebelum belajar ternyata mampu menciptakan suasana yang hangat. Anak-anak memulai hari dengan wajah ceria, bukan dengan ketegangan. Hal-hal kecil seperti ini sering kali memberikan pengaruh besar terhadap semangat belajar mereka.
Hal yang menurut saya sangat penting adalah materi tentang etika bermedia sosial. Anak-anak sekarang hidup di era digital. Mereka akrab dengan telepon pintar sejak usia dini. Sayangnya, tidak semua memahami cara menggunakan media sosial dengan bijak. Tidak sedikit kasus perundungan yang justru terjadi melalui kolom komentar atau grup percakapan. Karena itu, pendidikan tentang sopan santun di ruang digital sudah menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan.
Begitu pula dengan pencegahan kekerasan dan bullying. Sampai hari ini, masih ada anak yang enggan berangkat ke sekolah karena takut diejek atau dikucilkan. Kita tentu tidak ingin ada siswa yang kehilangan semangat belajar hanya karena merasa tidak diterima oleh lingkungannya. Sekolah harus menjadi tempat yang melindungi, bukan tempat yang membuat anak merasa sendirian.
Guru memiliki tanggung jawab besar dalam mewujudkan semangat MPLS Ramah. Anak-anak akan lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Ketika guru menunjukkan sikap santun, sabar, dan menghargai semua siswa, nilai-nilai itu perlahan akan tumbuh dalam diri peserta didik.
Begitu pula dengan kakak kelas. Mereka bisa menjadi contoh yang baik bagi adik kelasnya. Menyapa lebih dulu, membantu menunjukkan ruang kelas, atau sekadar mengajak berbincang adalah tindakan sederhana yang dapat membuat siswa baru merasa diterima. Tidak perlu ada teriakan atau hukuman untuk menunjukkan senioritas.
Menurut saya, keberhasilan MPLS Ramah bukan diukur dari banyaknya kegiatan yang dilakukan, melainkan dari kesan yang dibawa pulang oleh siswa. Jika setelah lima hari mereka berkata, "Saya senang sekolah di sini," berarti tujuan MPLS telah tercapai.
Peran orang tua juga tidak boleh diabaikan. Dukungan dari rumah akan membuat anak lebih percaya diri menghadapi lingkungan baru. Orang tua dan sekolah perlu saling berkomunikasi agar setiap persoalan yang muncul dapat diselesaikan bersama.
Pada akhirnya, pendidikan yang baik selalu dimulai dari rasa aman. Anak yang bahagia akan lebih mudah belajar. Anak yang merasa dihargai akan lebih percaya diri mengembangkan potensinya. Itulah sebabnya semangat MPLS Ramah 2026 tidak boleh berhenti sebagai aturan di atas kertas. Semangat itu harus benar-benar hidup di setiap ruang kelas, di halaman sekolah, di ruang guru, bahkan dalam cara seluruh warga sekolah memperlakukan peserta didik.
Harapan kita sederhana. Semoga tidak ada lagi cerita tentang tangisan siswa baru karena takut mengikuti MPLS. Yang ada adalah cerita tentang guru yang ramah, kakak kelas yang peduli, dan sekolah yang membuat setiap anak merasa diterima. Sebab, sekolah yang baik bukan hanya tempat untuk mencari ilmu, tetapi juga tempat tumbuhnya rasa percaya diri, persahabatan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.[AM)
What's Your Reaction?