Harga Terdiskon 22%, Mampukah Saham AMMN Mengejar Target Rp9.550?
Harga Terdiskon 22%, Mampukah Saham AMMN Mengejar Target Rp9.550?
JAKARTA.Amarmedia.co.id– Di tengah fluktuasi pasar modal awal tahun 2026, saham raksasa tambang tembaga asal Sumbawa, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), kini tengah menjadi sorotan tajam para investor. Bukan karena kinerjanya yang merosot tanpa alasan, melainkan karena harganya yang dinilai sedang "salah harga" alias terdiskon cukup dalam.
Hingga perdagangan medio Maret 2026, saham AMMN nangkring di level Rp4.950 per lembar. Jika ditarik garis dari awal tahun (YTD), angka ini mencerminkan koreksi sebesar 22,96%. Namun, di balik penurunan ini, sejumlah analis justru melihat peluang rebound yang masif menuju target harga Rp9.550.
Tekanan pada harga saham AMMN sepanjang 2025 merupakan dampak logis dari masa transisi operasional. Perseroan baru saja beralih dari Fase 7 ke Fase 8 di Tambang Batu Hijau, Nusa Tenggara Barat. Pada tahap awal eksplorasi baru ini, volume produksi memang belum optimal, yang berimbas pada estimasi penurunan pendapatan hingga 57% secara tahunan di 2025.
Namun, angin segar mulai berembus memasuki tahun fiskal 2026. Phintraco Sekuritas dalam risetnya menyebutkan bahwa tahun ini akan menjadi titik balik (turning point) bagi AMMN.
"Aktivitas produksi dan pengapalan AMMN mulai menunjukkan tren peningkatan yang konsisten. Memasuki 2026, fase produksi normal akan mendongkrak penjualan dan menekan biaya per unit secara lebih efisien," tulis Phintraco.
Senjata Utama: Smelter dan Integrasi Vertikal
Optimisme para analis bukan tanpa dasar. Salah satu pendorong utama (catalyst) adalah rampungnya pembangunan smelter yang kini dalam fase peningkatan kapasitas (ramp-up). Fasilitas ini diproyeksikan mencapai kapasitas penuh pada akhir 2026 dengan output 220.000 ton katoda tembaga per tahun.579.000 oz emas dan 1,8 juta oz perak dari pemurnian logam berharga (PMR).
Research Analyst Henan Sekuritas, Dennis Tay, menekankan bahwa integrasi vertikal ini akan memperkuat margin perusahaan secara signifikan. "Margin EBITDA diramal akan melonjak dari 50% pada 2026 menjadi 63% pada 2028," ungkapnya.
Di sisi lain, faktor eksternal juga mendukung. Tingginya permintaan tembaga dunia untuk kebutuhan infrastruktur digital, kendaraan listrik (EV), hingga teknologi kecerdasan buatan (AI) membuat harga komoditas ini tetap kokoh.
Dengan kombinasi harga saham yang sedang "diskon" hampir 23% dan fundamental yang diprediksi melesat, Henan Sekuritas tetap menyematkan rekomendasi BELI dengan target harga Rp9.550. Jika target ini tercapai, artinya ada potensi kenaikan (upside) hampir dua kali lipat dari harga saat ini.
Kini pertanyaannya bukan lagi "apakah bisa?", melainkan "seberapa cepat" AMMN mampu mengakselerasi produksinya untuk menjemput target harga tersebut. Bagi investor jangka panjang, kondisi "terdiskon" saat ini bisa jadi adalah pintu masuk sebelum AMMN benar-benar memanen hasil dari smelter dan Fase 8 di Sumbawa. (AM)
What's Your Reaction?
