Bursa Eropa Rebound Usai Sinyal Redanya Konflik AS-Iran, Namun Risiko Masih Mengintai
Bursa Eropa Rebound Usai Sinyal Redanya Konflik AS-Iran, Namun Risiko Masih Mengintai
Amarmedia.co.id- Bursa ekuitas Eropa rebound, Senin, mengakhiri tren penurunan tiga hari berturut-turut, setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menunda rencana serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran menyusul "pembicaraan produktif" dengan Teheran.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup naik 0,61% atau 3,50 poin menjadi 576,78, setelah sebelumnya anjlok hingga 2,5% pada awal sesi perdagangan, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Senin (23/3) atau Selasa (24/3) dini hari WIB.
Kepala Analisis Pasar Rathbones, John Wyn Evans, mengatakan market saat ini berada dalam kondisi rapuh. "Setiap hari tanpa resolusi memberikan tekanan turun yang perlahan pada pasar. Namun, potensi lonjakan tajam tetap sangat mungkin terjadi jika ada sedikit saja tanda gencatan senjata yang kredibel," ujarnya.
Pembalikan arah indeks di tengah sesi menunjukkan betapa sensitifnya sentimen risiko terhadap konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, yang kini memasuki pekan keempat. Konflik tersebut bahkan telah menggeser perhatian investor dari berbagai isu ekonomi lainnya.
Meski Trump mengklaim adanya pembicaraan "produktif" menuju penyelesaian total konflik, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran membantah adanya komunikasi dengan pihak Amerika. Pernyataan yang saling bertolak belakang ini membuat pelaku pasar tetap waspada.
Bursa regional Eropa juga menghijau. Indeks DAX Jerman melompat 1,22% atau 273,67 poin menjadi 22.653,86 dan CAC Prancis menguat 0,79% atau 60,58 poin jadi 7.726,20, sementara FTSE 100 Inggris melemah 0,24% atau 24,18 poin ke posisi 9.894,15.
Sektor pertambangan, keuangan, serta perjalanan dan rekreasi mencatat kenaikan signifikan masing-masing 2,6%, 2,6%, dan 2,5%.
Namun, penurunan tajam harga minyak mentah Brent hingga 9% menekan saham sektor energi yang melorot 1,7%, menjadi beban terbesar bagi indeks.
Di sisi lain, saham maskapai penerbangan yang sensitif terhadap harga energi justru berbalik menguat. Air France melesat 3,9%, sementara Lufthansa melejit 3,4%.
Manajer Portofolio Dakota Wealth, Robert Pavlik, menilai kondisi ini mirip dengan volatilitas pasar yang terjadi hampir setahun lalu saat ketidakpastian kebijakan tarif AS memicu gejolak.
Eropa sendiri dinilai sangat rentan terhadap fluktuasi harga energi, mengingat ketergantungannya pada impor melalui Selat Hormuz--jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan kini sebagian besar terganggu akibat konflik.
Meski mencatat awal pekan yang kuat, indeks STOXX 600 masih berada di ambang koreksi setelah merosot sekitar 9% dari rekor penutupan tertingginya pada Februari. Secara teknis, koreksi dikonfirmasi jika indeks ditutup anjlok 10% dari level puncaknya.
Harapan akan meredanya konflik juga membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa. Namun, sejumlah analis memperingatkan bahwa dampak terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi dapat berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
Pemerintah Spanyol bahkan telah mengusulkan langkah-langkah fiskal untuk meredam dampak ekonomi akibat kenaikan biaya energi.
Dari sisi korporasi, saham Telecom Italia melonjak 4,7% setelah layanan pos Poste Italiane mengumumkan rencana akuisisi senilai 10,8 miliar euro melalui kombinasi kas dan saham. Namun, saham Poste Italiane justru anjlok 6,9%.
Sementara itu, perusahaan Jerman Delivery Hero melesat 7,9% setelah menjual bisnis pengantaran makanannya di Taiwan kepada Grab Holdings senilai USD600 juta.
Di sektor ritel, saham perusahaan perhiasan asal Denmark, Pandora, melambung 9,2% seiring turunnya harga logam mulia. (Reuters/CNBC/AI
Sumber referensi: Ipotnews
What's Your Reaction?
