Menjalin Sinergi, Membina Jiwa: Catatan Tabligh Akbar dan Silaturahmi Wali Santri Pesantren Abu Bakar Al Islamy
Menjalin Sinergi, Membina Jiwa: Catatan Tabligh Akbar dan Silaturahmi Wali Santri Pesantren Abu Bakar Al Islamy
Sumbawa Besar. Amarmedia.co.id — Suasana penuh kehangatan dan kekhusyukan menyelimuti Pondok Pesantren Abu Bakar Al Islamy - Sumbawa saat menggelar acara Tabligh Akbar dan Silaturahmi Bersama Wali Santri Kamis 24 September 2026 . Acara yang dihadiri oleh jajaran pengasuh, dewan guru, serta ratusan wali santri dari berbagai daerah—bahkan ada yang menempuh perjalanan jauh—ini mengusung tema besar: “Membangun Sinergi Pesantren dan Wali Santri dalam Mewujudkan Generasi Islami yang Unggul”.
Pimpinan Pondok Pesantren Ustadz Murdani SPd menyampaikan apresiasi atas kehadiran para wali santri. Ia menyampaikan bahwa keberadaan para santri adalah sebuah proses dalam kehidupannya menjadi anak yang memiliki karakter. " Bapak Ibu mungkin belum puas dengan capaian anak anak sekarang, misalnya hapalannya belum 30 jus, baru dua Juz bahkan masih iqro, jangan bandingkan dengan anak lainnya, yakinlah bahwa mereka tengah berproses yang membutuhkan kesabaran dan menjadi kebaikan bagi mereka kelak" ujarnya.
Hal ini di Aminin oleh ketua Komite Farid Sweleh bahwa saat ini sedang dalam proses merancang bangun karakter anak anak. "Tumbuh dan berkembangnya anak bergantung nutrisinya, kebijakan pondok. Meskipun kita orang tua terkadang tidak peduli apa yang terjadi dalam pondok. Persoalan dalam pondok membutuhkan sinergi kita orang tua sehingga anak anak yang kita cintai dapat belajar dengan nyaman, ujarnya.
Hadir sebagai penceramah utama, Ustadz Ahmad Wildan, Lc., M.A. Dalam tausiyahnya, Ia menekankan pentingnya konsep link and match antara pendidikan di dalam pesantren dan pembiasaan di rumah.
Pesan Utama: Menjaga Jiwa, Bukan Sekadar Fisik
Ustadz Ahmad Wildan mengingatkan kembali amanat Al-Qur'an surah At-Tahrim ayat 6, di mana Allah SWT memerintahkan para kepala keluarga untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Beliau membedakan antara kebutuhan raga (fisik) dan jiwa (ruhani).
"Sering kali kita fokus menjaga fisik anak: bertanya 'sudah makan belum?', memberikan makanan bergizi, memastikan tidurnya cukup. Namun, kita lupa bertanya 'sudah shalat belum?'. Padahal, menjaga raga hanya menyelamatkan anak dari kepayahan dunia, sedangkan menjaga jiwa menyelamatkan mereka dari api neraka," tegas beliau.
Beliau memberi contoh fenomena yang sering terjadi ketika santri pulang ke rumah. Tak jarang orang tua merasa kasihan membangunkannya saat azan berkumandang karena melihat anaknya tertidur lelap akibat kelelahan.
"Ibu-ibu kasihan karena membayangkan 'api dunia' atau rasa lelah sang anak. Tapi ingat, membiarkan anak meninggalkan shalat berarti mengabaikan marabahaya yang lebih besar, yaitu api akhirat. Maka, tetap bangunkan anak-anak kita untuk shalat," lanjutnya.
Pentingnya Adab dan Investasi Akhirat
Menurut Ustadz Ahmad Wildan, jika pembentukan jiwa dan mental agama anak sudah kuat, karakter dan adab yang mulia akan melekat di mana pun mereka berada. Anak yang beradab diibaratkan seperti pohon mangga yang rindang: Bisa dijadikan tempat berteduh bagi sekitarnya. Buahnya yang manis dapat dinikmati banyak orang.
Ia juga mengingatkan realitas kehidupan saat ini. Banyak orang tua bekerja keras mengumpulkan harta demi anak, tetapi lupa menanamkan akhlak. Dampaknya, ketika orang tua sudah renta dan tak berdaya, anak-anak yang hanya mengejar dunia justru menyibukkan diri dan memindahkan orang tuanya ke panti jompo.
Oleh karena itu, penanaman ilmu agama dan karakter sejak dini di pesantren adalah investasi jangka panjang agar anak menjadi anak yang saleh, yang doanya tetap mengalir saat orang tua telah tiada—sesuai hadis Rasulullah SAW tentang tiga amalan yang tidak terputus setelah kematian.
Di akhir tausiyahnya, Ustadz Ahmad Wildan mengajak seluruh wali santri untuk memperkuat kerja sama dengan pihak pesantren. Beliau berpesan agar program dan kebiasaan baik yang sudah dibentuk di pondok—baik yang ditempuh selama 1, 3, atau 6 tahun—tetap diteruskan dan didukung penuh saat santri berada di rumah.
Ustad menjabarkan dalam membangun sinergi melalui meneruskan kebiasaan ibadah dan kedisiplinan pondok saat anak liburan di rumah. Memberikan motivasi dan apresiasi atas setiap proses kebaikan yang dicapai anak. Bersama-sama menjaga dan merawat karakter anak agar ketika lulus nanti, pondok dapat melepas mereka dengan rasa bangga atas keberhasilannya.
Acara ditutup dengan diskusi doa bersama untuk kebaikan para santri, keikhlasan para pengajar, serta keberkahan bagi seluruh wali santri yang hadir. Semoga sinergi yang terjalin mampu melahirkan generasi rabbani yang beradab, berilmu, dan bermanfaat bagi agama maupun bangsa. (AM)
What's Your Reaction?