Komisi II DPRD Sumbawa Konsultasi ke Disdag NTB: Cuaca dan Pasokan Jadi Pemicu Gejolak Harga Komoditas

amramr
Dec 10, 2025 - 09:51
 0  38
Komisi II DPRD Sumbawa Konsultasi ke Disdag NTB: Cuaca dan Pasokan Jadi Pemicu Gejolak Harga Komoditas

Komisi II DPRD Sumbawa Konsultasi ke Disdag NTB: Cuaca dan Pasokan Jadi Pemicu Gejolak Harga Komoditas

Mataram, Amarmedia.co.id – Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sumbawa melakukan kunjungan konsultasi ke Dinas Perdagangan (Disdag) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Selasa, 9 Desember 2025. Rombongan Komisi II dipimpin oleh Sekretaris Komisi II Zohran SH. disambut langsung oleh Kepala Dinas Perdagangan NTB, Jamaludin Maladi S.Sos.MT, beserta jajaran, untuk mendiskusikan stabilitas harga dan ketersediaan komoditas di pasaran pada wilayah Sumbawa dan NTB 

Dampak Cuaca dan Pasokan Sentra Produksi

Kepala Dinas Perdagangan, Jamaludin Maladi, menyampaikan bahwa gejolak harga komoditas pangan dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu pengaruh cuaca dan berkurangnya pasokan dari daerah sentra produksi

Data fluktuasi harga beberapa komoditas dalam lima minggu terakhir menunjukkan pergerakan yang dinamis, sebagai berikut : 

Cabe Merah Keriting : Minggu 1 sampai 4 mengalami penurunan harga, dan minggu ke 5 mengalami kenaikan harga . (total -2%)

Cabe Merah Besar : Minggu ke 2 mengalami kenaikan harga, minggu ke 3 mengalami penurunan dan minggu ke 4 dan 5 sedikit mengalami kenaikan harga. (total -0,3%)

Cabe Rawit Merah : Minggu ke 2 mengalami penurunan harga dan minggu ke 3,4 sedikit mengalami kenaikan harga. Pada minggu ke 5 mengalami kenaikan harga secara drastis. (total +5%)

Cabe Rawit Hijau : Minggu ke 2 mengalami penurunan harga, dan minggu ke 3,4 sedikit mengalami kenaikan harga. Pada minggu ke 5 mengalami kenaikan harga secara drastis. (total +2%)

Bawang Merah : Mengalami kenaikan harga pada minggu ke 3,4 dan 5. (total +2%)

Tomat : Mengalami kenaikan harga pada minggu ke 2, 3 dan 4. (total +13%)

"Komoditi bergejolak juga karena berkurangnya pasukan dari daerah produksi" imbuhnya seperti Cabe Merah Keriting dari minggu 1 sampai 5 terlihat mengalami penurunan sebesar 2%, Cabe Merah Besar dari minggu 1 sampai 5 terlihat mengalami kenaikan sebesar 1 %, Cabe Rawit Merah dari minggu 1 sampai 5 terlihat mengalami kenaikan sebesar 21 %, Cabe Rawit Hijau dari minggu 1 sampai 5 terlihat mengalami kenaikan sebesar 4 % 

Bawang Merah dari minggu 1 sampai 5 terlihat mengalami kenaikan sebesar 2 % , Tomat dari minggu 1 sampai 5 terlihat mengalami kenaikan sebesar 8 % 

Ikan Kembung dan Tongkol dari minggu 1 sampai ke 5 masing-masing mengalami kenaikan sebesar 2%.

 "Terlihat bahwa harga Tomat dan Cabai mengalami sedikit kenaikan. Salah satu solusi jangka panjangnya, jika memungkinkan, adalah masyarakat diimbau untuk menanam sendiri komoditas yang mudah bergejolak," ujar Jamaludin Maladi.

 Industrialisasi Pertanian dan Pola Kontrak

Jamaludin Maladi mencontohkan keberhasilan industrialisasi pertanian, khususnya di Lombok. Dengan adanya bendungan seperti Batujai dan di Lombok Tengah, lahan yang semula hanya bisa digarap sekali panen kini sudah bisa dua kali panen.

"Dulu saat musim Tomat berlimpah, harga bisa sangat murah, hanya Rp10.000 hingga Rp20.000 untuk satu keranjang besar. Ini menunjukkan pentingnya teknologi dan industrialisasi pertanian," jelasnya.

Sekretaris Komisi 2 H Zohran menyoroti fenomena kenaikan harga Bawang Merah. Gejolak harga di sentra produksi seringkali dipengaruhi oleh pengusaha atau tengkulak yang melakukan pola kontrak atau  sistem tebas, yaitu membeli hasil panen bahkan sebelum komoditas dipanen dengan harga yang telah disepakati lebih dulu.

"Persoalan kontrak ini yang menyebabkan kadang harga di tingkat petani tidak sebanding. Kadang, para pengusaha ini datang dan mengontrak hasil panen Bawang Merah atau Cabai sebelum panen. Pola tebas  ini sudah mulai masif, bahkan di Jawa sudah lebih ekstrem di mana lahan belum beranak (belum ditanami/produksi) sudah dikontrak," pungkasnya.

Pola kontrak tersebut, yang didasari oleh kebutuhan modal atau pupuk oleh petani, menjadi salah satu faktor kompleks yang mempengaruhi tata niaga dan stabilitas harga komoditas pangan.(AM(

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow