Ismail dan Pelajaran Besar tentang Kesabaran

amramr
May 27, 2026 - 20:35
May 27, 2026 - 20:45
 0  21
Ismail dan Pelajaran Besar tentang Kesabaran
Ilustrasi

Ismail dan Pelajaran Besar tentang Kesabaran

Oleh Asmediati 

 

ANAK manakah yang kesabarannya begitu besar layaknya Ismail kecil ketika ia hendak disembelih sang ayah atas perintah Tuhan melalui mimpi?

 

“Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu,” kata Ibrahim.

 

“Benarkah, Ayah?”

 

“Benar. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”

 

Tanpa protes mengapa dirinya yang harus dikurbankan, mengapa bukan ayahnya saja yang lebih tua usianya, Ismail menjawab dengan mantap:

 

“Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

 

Masyaallah!

 

Bulu kuduk saya merinding ketika membaca ulang dan merenungi QS. As-Saffat ayat 99—113 tentang kisah penyembelihan Ismail oleh sang ayah, Ibrahim.

 

Namun, benarkah Ismail, anak yang tampan, santun, dan baik budi itu disembelih?

 

Tidak!

 

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat: 107)

 

Allah menggantinya dengan seekor sembelihan besar yang kemudian disembelih Ibrahim. Sembelihan itu disebut besar karena menjadi tebusan bagi Ismail, termasuk ibadah yang agung, dan menjadi sunnah kurban yang terus berlangsung hingga hari kiamat.

 

Yang mengagumkan dalam kisah ini bukan hanya ketaatan Ibrahim, melainkan juga ketundukan Ismail. Ketika ayahnya menyampaikan mimpi tersebut, Ismail tidak membantah, tidak menangis ketakutan, tidak pula mempertanyakan keadilan Tuhan. Ismail justru meminta ayahnya menjalankan perintah Allah.

 

Ismail mengatakan bahwa dirinya termasuk orang-orang yang sabar. Dialog itu menunjukkan hubungan ayah dan anak yang dibangun di atas iman, cinta, dan kepercayaan penuh kepada Tuhan.

 

Jika diselami lebih jauh, tafsir atas kisah Ibrahim dan Ismail memperlihatkan bahwa pengorbanan terbesar sesungguhnya bukanlah darah atau daging, melainkan keikhlasan hati dalam menaati Allah.

 

Ibrahim rela mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya: seorang anak yang telah lama dinantikannya setelah bertahun-tahun tidak memperoleh keturunan. Sementara Ismail rela menyerahkan hidupnya demi memenuhi perintah Tuhan.

 

Pada titik itulah keduanya mencapai derajat keimanan yang sangat tinggi.

 

Ketika proses penyembelihan hendak dilakukan, Allah menggantikan Ismail dengan seekor kibas putih bertanduk besar. Peristiwa itu menjadi simbol kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang taat. Allah tidak menghendaki manusia mengorbankan anaknya, tapi menguji ketulusan iman mereka.

 

Kisah ini juga mengajarkan bahwa ujian hidup sering datang melalui sesuatu yang paling kita cintai. Jabatan, harta, keluarga, perasaan, bahkan ego diri dapat menjadi penghalang menuju ketaatan jika tidak ditempatkan dalam kerangka ibadah kepada Allah.

 

Maka, menjadi tepatlah bahwa Iduladha bukan sekadar prosesi sakral menyembelih hewan kurban. Lebih dari itu, Iduladha adalah momentum menyembelih sifat tamak, kesombongan, keangkuhan, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.

 

Sebab, tidak sedikit manusia yang merasa semua yang dimilikinya adalah hasil keringat dan kerja kerasnya semata. Jabatan membuat lupa diri. Kekayaan melahirkan kesombongan. Kepandaian membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain.

 

Padahal, semua hanyalah titipan Allah.

 

Hari ini seseorang dipuji, esok bisa saja dicela. Hari ini seseorang kaya raya, besok mungkin jatuh miskin. Hari ini seseorang sehat dan kuat, esok dapat terbaring lemah tanpa daya.

 

Tidak ada yang benar-benar abadi dalam hidup manusia selain Allah sendiri.

 

Hamka, dalam buku “Dari Lembah Cita-Cita” menulis: "Besar manusia dengan akal dan budinya memang. Tetapi Allah lebih besar. Berapa kali dinyatakan kisah raja-raja yang terdahulu di dalam Al-Qur’an, tentang besar kekuasaannya dan gagah perkasanya, sejak daripada Namrud lalu kepada Fir’aun, dinyatakan kegagahannya Haman yang disuruh Fir’aun membina mercu yang amat tinggi untuk memanah Tuhan. Kisah Qarun yang kaya raya, diterangkan pula Irama Zatil ‘Imad, Tsamud, ‘Ad, dan beberapa kekuasaan yang lain-lain, diterangkan kerajaan yang naik dan runtuh. Semuanya datang dan semuanya hancur dan musnah, sehingga yang tinggal hanya sebutannya saja lagi. Dan selalu ternyata Allah juga yang Maha Besar, Allahu Akbar.”

 

Demikianlah, manusia tidak pantas angkuh. Apa yang kita miliki sesungguhnya hanyalah titipan sementara. Anak adalah titipan. Harta adalah titipan. Jabatan adalah titipan. Bahkan tubuh dan umur kita pun titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh pemilik-Nya.

 

Ibrahim dan Ismail telah memberi teladan tentang bagaimana menghadapi titipan itu dengan ikhlas.

 

Setiap manusia akan diuji dengan ujiannya masing-masing. Ada yang diuji dengan kemiskinan, ada yang diuji dengan kekayaan. Ada yang diuji dengan kehilangan, ada pula yang diuji dengan kelimpahan. Seringan atau seberat apa pun ujian itu, yang lulus adalah mereka yang mampu bersabar dan tetap percaya kepada Tuhan.

 

Dan, ujian paling berat sesungguhnya adalah ujian kesabaran.

 

Betapa sulit menahan diri ketika hati sedang marah. Betapa berat memilih diam ketika dihina. Betapa susah menahan emosi ketika diperlakukan tidak adil. Dalam keadaan seperti itulah kesabaran diuji.

 

Kadang-kadang manusia ingin melawan, ingin membalas, ingin memberontak kepada keadaan. Namun, orang-orang yang matang jiwanya memilih menahan diri, merenungi setiap persoalan, lalu menyerahkannya kepada Allah dengan hati yang lapang.

 

Sabar bukan berarti lemah. Sabar justru menunjukkan kekuatan batin seseorang.

 

Ismail kecil telah memperlihatkan teladan itu. Dalam usia yang masih belia, ia mampu menerima ujian besar dengan hati yang tenang. Ia tidak egois memikirkan dirinya sendiri. Ia tidak memaksa ayahnya membatalkan perintah Tuhan demi keselamatan dirinya. Ia memilih taat dan ikhlas.

 

Di situlah letak kemuliaannya.

 

Semangat Ibrahim dan Ismail mengajarkan bahwa iman sejati menuntut keberanian untuk taat meskipun harus berkorban besar. Sebab, kurban yang paling sulit sesungguhnya bukan menyembelih hewan, melainkan menyembelih ego, kesombongan, dan keakuan dalam diri sendiri.

Iduladha adalah momentum refleksi, bukan sekadar perayaan tahunan. Pengorbanan Ibrahim dan kesabaran Ismail menjadi cermin dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Lebih jauh lagi, Iduladha adalah jalan pembentukan jiwa yang lebih arif, rendah hati, dan lebih dekat dengan nilai-nilai kemanusiaan.[AM]

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow