Sumpah Pemuda, Hari Menguatkan Literasi Bangsa

amramr
Oct 28, 2025 - 10:24
Oct 28, 2025 - 10:32
 0  22
Sumpah Pemuda, Hari Menguatkan Literasi Bangsa

Sumpah Pemuda, Hari Menguatkan Literasi Bangsa

Oleh Sri Asmediati, S. Pd.

(Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Labuhan Badas)

SEMBILAN puluh tujuh tahun silam, pada tahun 1928, para pemuda dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul di sebuah gedung sederhana di Jalan Kramat Raya 106, Batavia. Dari Ambon hingga Minangkabau, dari Batak hingga Jawa, dari pesisir hingga pedalaman; mereka membawa harapan yang sama: mengakhiri ketercerai-beraian dan menjalin persatuan. 

Mereka menyadari bahwa perjuangan kemerdekaan tidak akan pernah berhasil jika dipikul sendiri-sendiri, jika terbelah oleh sekat-sekat kedaerahan, oleh ego kesukuan, atau oleh bahasa yang tidak saling dipahami.

Dari pertemuan penting itulah lahir sebuah tonggak sejarah yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. 

Para pemuda saat itu dengan berani mengaku satu tanah air: Indonesia, satu bangsa: bangsa Indonesia, dan menjunjung tinggi satu bahasa pemersatu: Bahasa Indonesia. 

Ketiganya bukan sekadar frasa yang dihapalkan generasi demi generasi, tetapi manifestasi dari tekad yang membara. Mereka sedang menulis masa depan bangsa dengan tinta persatuan. 

Bung Karno pernah mengatakan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak kehilangan semangat untuk bermimpi.” Mimpi itulah yang sedang diperjuangkan para pemuda 1928.

Pilihan terhadap Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan adalah keputusan yang cemerlang dan berani. Dalam situasi ketika bahasa Belanda mendominasi pendidikan dan administrasi pemerintah, serta ratusan bahasa daerah hidup secara alami di tengah masyarakat, para pemuda memilih bahasa yang lahir dari bumi Nusantara sendiri. 

Bahasa Melayu yang kemudian disebut sebagai akar Bahasa Indonesia dipandang sebagai bahasa yang bersifat merangkul. Ia mudah dipahami, tidak memihak salah satu etnis dominan, dan mampu berkembang sebagai bahasa ilmu pengetahuan.

Keputusan itu menjadi fondasi penting bagi gerakan literasi bangsa. Dengan satu bahasa bersama, sekolah-sekolah mampu mengajar dengan kurikulum yang seragam, buku pelajaran dapat disebarkan ke seluruh penjuru, dan komunikasi antarsuku berlangsung tanpa hambatan. 

Chairil Anwar kemudian menegaskan nilai bahasa ini melalui syair-syairnya yang menggugah, seraya berucap lantang dalam sajaknya, “Aku ini binatang jalang… aku mau hidup seribu tahun lagi!” Itulah semangat literasi: hidup, bertahan, dan terus menggerakkan pemikiran.

Momentum historis penetapan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan inilah yang menjadikan bulan Oktober sebagai Bulan Bahasa. Setiap tanggal 28 Oktober, kita tidak hanya memperingati kongres pemuda dan sumpah yang mereka lantunkan, tetapi juga merayakan dan merawat bahasa serta sastra Indonesia. 

Ini bukan sekadar seremonial tahunan, tetapi penegasan bahwa literasi adalah nadi kemajuan bangsa.

Bahasa menjadi alat perjuangan yang membebaskan. Melalui bahasa, para tokoh menulis petisi, melahirkan laporan jurnalistik, mendokumentasikan penderitaan rakyat, dan memantik kesadaran nasional. 

Di tangan wartawan, penulis, dan pemikir, bahasa Indonesia berubah menjadi senjata yang lebih tajam dari peluru. 

Pramoedya Ananta Toer pernah menuliskan, “Selama kata-kata masih terangkai, selama itu pula kita bisa berharap.”

Kita pun patut bertanya kepada diri sendiri: bagaimana mungkin bangsa yang memiliki sejarah hebat dalam literasi kini mulai jarang membaca dan kurang menulis? Bagaimana generasi digital yang begitu fasih berselancar di media sosial, tetapi gagap ketika diminta menuliskan pemikiran yang mendalam dan berstruktur? 

Di sinilah tantangan Sumpah Pemuda untuk abad ke-21: menjaga agar bahasa dan literasi tidak sekadar hidup secara teknis, tetapi bermartabat dan memerdekakan.

Literasi hari ini bukan hanya kemampuan mengeja dan membaca buku pelajaran. Literasi adalah kemampuan menafsirkan zaman, memilah informasi, menyuarakan kebenaran, membangun gagasan, dan melahirkan inovasi.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow