Sapi Sumbawa Bukan Sekadar Komoditas, Prof. Dahlan: Revitalisasi Sistem "Lar" Kunci Jaga Populasi dan Efisiensi
Sapi Sumbawa Bukan Sekadar Komoditas, Prof. Dahlan: Revitalisasi Sistem "Lar" Kunci Jaga Populasi dan Efisiensi
Sumbawa Besar, Amarmedia.co.id - 26 Februari 2026– Momentum Hari Raya Idul Adha selalu menjadi "panen raya" bagi para peternak dan pengusaha ternak di Nusa Tenggara Barat (NTB). Tingginya permintaan pasar luar daerah menjanjikan keuntungan besar karena harga jual yang jauh lebih baik dibandingkan hari biasa. Namun, di balik potensi ekonomi tersebut, tersimpan tantangan besar terkait keberlanjutan populasi.
Pakar Peternakan sekaligus Tim Ahli Gubernur NTB Bidang Kelautan dan Perikanan, Prof. Dahlanuddin, PhD, mengingatkan seluruh pemangku kepentingan agar tidak terlena dengan tingginya angka pengiriman ternak ke luar daerah.
Dalam pertemuan strategis di Aula kantor Disnakeswan Sumbawa (26/2), Prof. Dahlan menekankan bahwa tingginya angka pengeluaran sapi kurban dari NTB harus dibarengi dengan perbaikan manajemen pembiakan (breeding). Jika tidak, NTB terancam kehilangan "populasi dasar" yang merupakan mesin utama produksi ternak.
"Idul Adha adalah momentum peternak mendapatkan keuntungan maksimal. Semua pihak harus bekerja sama memastikan kelancaran pengiriman. Namun, kita harus waspada; jangan sampai populasi dasar kita terkuras habis karena manajemen pembiakan yang diabaikan," tegas Prof. Dahlan.
Menurutnya, peluang terbesar untuk meningkatkan efisiensi produksi sapi bakalan (bibit) di NTB berada di Pulau Sumbawa, khususnya Kabupaten Sumbawa. Hal ini didukung oleh fakta bahwa Sumbawa memiliki populasi sapi terbesar sekaligus luas wilayah yang paling memadai.
Salah satu poin krusial yang disoroti Prof. Dahlan adalah Revitalisasi Lar (kawasan pelepasan ternak/padang penggembalaan luas). Beliau menegaskan bahwa sistem Lar adalah metode pembiakan yang paling murah dan efektif bagi peternak lokal.
"Pembiakan yang paling efisien adalah dengan cara dilepas di Lar. Namun, lokasi pelepasan ini harus segera direvitalisasi. Kita tidak bisa lagi membiarkan ternak dilepas begitu saja tanpa manajemen yang jelas," jelasnya.
Prof. Dahlan memaparkan empat langkah konkret yang harus dilakukan untuk memodernisasi sistem pembiakan tradisional agar tetap produktif:
Pertama ; Memastikan pejantan yang ada di lokasi pelepasan adalah bibit unggul untuk memperbaiki kualitas keturunan.
Kedua ; Menjamin ketersediaan pakan berkualitas di area Lar, terutama saat musim kemarau.
Ketiga : Membangun infrastruktur air yang memadai di titik-titik strategis area pelepasan.
Keempat; Mengatur pola pembiakan dan pengawasan kesehatan hewan secara terintegrasi.
Jika langkah-langkah revitalisasi ini tidak segera diambil, Prof. Dahlan memprediksi produksi sapi bakalan di Sumbawa akan terus menurun. Dampak jangka panjangnya adalah berkurangnya kuota sapi kurban yang bisa dijual ke luar daerah, yang secara otomatis akan memangkas potensi pendapatan daerah dan kesejahteraan peternak.
"Tanpa perbaikan di sektor hulu (pembiakan), kita akan kesulitan memenuhi permintaan pasar di masa depan. Revitalisasi Lar bukan lagi pilihan, tapi keharusan untuk menjaga Sumbawa tetap menjadi lumbung ternak nasional," pungkas putra daerah Sumbawa tersebut.(AM)
What's Your Reaction?
