Tausiyah Malam ke-10 Ramadan di Masjid Annur Samapuin: Menjemput Predikat Takwa dengan "Syarat dan Ketentuan Berlaku"
Tausiyah Malam ke-10 Ramadan di Masjid Annur Samapuin: Menjemput Predikat Takwa dengan "Syarat dan Ketentuan Berlaku"
Sumbawa Besar,Amarmedia.co.id - 27 Februari 2026 – Memasuki malam kesepuluh bulan suci Ramadan 1447 H, suasana khidmat menyelimuti Masjid Jamik Annur, Kelurahan Samapuin. Pada kesempatan tersebut, Ustadz Tanzilulhadi, SH., hadir memberikan tausiyah yang menekankan bahwa Ramadan adalah madrasah besar atau "Tarbiyah" bagi umat Islam untuk meraih derajat takwa.
Dalam ceramahnya, Ustadz Tanzilulhadi mengingatkan jamaah bahwa predikat takwa tidak datang secara otomatis, melainkan melalui proses pendidikan diri yang disiplin.
Imam rawatib masjid Jamik Annur ini mengibaratkan perolehan pahala dan derajat takwa seperti sebuah kesepakatan yang memiliki "syarat dan ketentuan berlaku." Menurutnya, berpuasa bukan hanya menahan lapar dan haus di siang hari, tetapi juga menjaga komitmen total terhadap larangan-larangan Allah.
"Bayangkan, di siang hari kita menahan banyak hal. Tidak hanya makan dan minum, tapi juga hal-hal lain yang dilarang saat berpuasa. Jika kita mampu memenuhi syarat dan ketentuan ini dengan ikhlas karena Allah (imanan wahtisaban), maka janji Rasulullah adalah ampunan atas dosa-dosa masa lalu," jelasnya
Ia juga menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur'an sebagai sahabat karib selama bulan ini. Al-Qur'an, menurutnya, bukan sekadar bacaan, melainkan pembela dan pendamping umat manusia kelak di hari kiamat.
Filosofi Tarawih: Ibadah yang Menenangkan
Satu hal menarik yang dibahas dalam tausiyah tersebut adalah hakikat dari salat Tarawih. Ustadz Tanzilulhadi menjelaskan bahwa secara etimologi, kata "Tarawih"berasal dari akar kata yang berarti "istirahat."
Ia menceritakan sejarah singkat bagaimana salat ini berawal dari kebiasaan Rasulullah yang kemudian dikumpulkan secara berjamaah secara masif oleh Khalifah Umar bin Khattab demi ketertiban jamaah di masjid.
"Tarawih itu sebetulnya adalah beristirahat. Maka, imam yang baik adalah yang memberi jeda. Setelah salam, duduk dulu, ambil napas, hilangkan lelahnya, baru lanjut takbir lagi. Itulah esensi Tarawih yang sebenarnya, sebuah ibadah yang memberikan ketenangan dan jeda bagi jiwa, bukan sekadar gerakan cepat," tambahnya.
Menjaga Istiqomah Menuju Muttaqin
Menutup tausiyahnya, Ustadz Tanzilulhadi menghimbau jamaah Masjid Annur untuk menjaga konsistensi (istiqomah) hingga akhir Ramadan. Target akhirnya adalah menjadi hamba yang bertakwa sebagaimana diamanatkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 183.
"Semoga ibadah kita di sepuluh malam pertama ini menjadi pemicu bagi kita semua untuk terus meningkatkan kualitas diri. Mari kita manfaatkan bulan pendidikan ini untuk mendidik diri dan anak-anak kita menjadi pribadi yang lebih baik," pungkasnya.
Kegiatan malam itu diakhiri dengan salat Tarawih berjamaah yang diikuti dengan khusyuk oleh warga Kelurahan Samapuin, menutup fase pertama Ramadan (fase rahmat) dengan penuh harapan. (AM)
What's Your Reaction?
