Santri Menulis, Santri Berdaya

Oleh : Sri Asmediati, S. Pd (Guru Bahasa Indonesia SMPN I Labuhan Badas)

amramr
Oct 22, 2025 - 20:00
Oct 22, 2025 - 20:14
 0  19
Santri Menulis, Santri Berdaya

MENULIS adalah bagian tak terpisahkan dari tradisi keilmuan. Dalam sejarah Islam, para ulama terdahulu tidak hanya mengajar dan berdakwah di mimbar, tetapi juga menulis kitab, risalah, hikayat, dan puisi atau syair. 

Mereka memahami bahwa pena bisa menjadi senjata yang lebih tajam daripada pedang. Tulisan mereka melintasi ruang dan waktu, menjadi sumber ilmu dan inspirasi lintas generasi.

Di Nusantara, tradisi ini diteruskan oleh banyak ulama besar, salah satunya Buya Hamka, seorang ulama, pemikir, dan sastrawan asal Ranah Minang. Hamka tidak hanya dikenal karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena karya-karyanya yang mendalam secara spiritual dan estetis, seperti “Di Bawah Lindungan Ka'bah”, “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”, “Tafsir Al-Azhar”, “Tasauf Modern”, dan lainnya. 

Melalui tulisan, Hamka membumikan nilai-nilai Islam dengan bahasa yang indah dan humanis. 

Fisiknya memang telah tiada, tetapi kata-katanya tetap hidup. Ia membuktikan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian, seperti kata Pramoedya Ananta Toer. Dengan menulis, seorang ulama atau santri meninggalkan jejak pemikiran yang tak lekang oleh waktu.

Namun, masih sering ditemukan ada pesantren atau madrasah yang melarang para santrinya membaca karya fiksi dengan alasan bahwa bacaan semacam itu bisa melalaikan dari pelajaran agama atau menanamkan nilai yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Akibatnya, sebagian santri tumbuh tanpa pengalaman menikmati keindahan bahasa dan keluasan imajinasi yang ditawarkan oleh dunia sastra. 

Padahal, dari kebiasaan membaca fiksi yang baik, bisa tumbuh kecintaan pada menulis, sebuah keterampilan penting yang semestinya menjadi bagian dari tradisi intelektual Islam. 

Pelarangan semacam itu, disadari atau tidak, justru menumpulkan daya pikir kritis dan mengekang semangat literasi di kalangan santri.

Setiap tanggal 22 Oktober, Indonesia memperingati Hari Santri Nasional, momentum untuk mengenang peran besar para santri dalam perjuangan bangsa. Penetapan hari itu merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan Hadratus Syekh K.H. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 di Surabaya. Resolusi tersebut menyerukan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan. 

Semangat jihad kala itu bukan hanya perjuangan fisik, tetapi juga semangat spiritual, moral, dan intelektual. 

Maka, refleksi Hari Santri hari ini seharusnya tidak hanya memuliakan sejarah masa lalu, tetapi juga menegaskan peran santri di medan perjuangan baru: medan ilmu, literasi, dan penulisan.

Dengan menulis, santri meneruskan jejak para ulama yang menempatkan ilmu bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk umat. Tulisan menjadi wadah berbagi hikmah dan dakwah yang mendalam.

Menulis juga membantu santri menjadi intelektual organik, yaitu mereka yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas. Santri yang menulis dapat menafsirkan ajaran agama sesuai konteks zaman, menulis dengan rasional tanpa kehilangan spiritualitas, serta menyampaikan gagasan dengan artikulatif dan bertanggung jawab.

Selain itu, bagi santri menulis memperkuat dakwah di era digital. Di tengah derasnya arus informasi dan konten yang dangkal, santri harus hadir sebagai penulis yang menyebarkan narasi Islam yang damai, toleran, dan berpikiran maju. 

Tulisan yang baik dapat menandingi disinformasi dan ekstremisme yang kerap menjamur di media sosial.

Melalui tulisan, santri berlatih berpikir jernih, mengelola emosi, dan mengenali dirinya sendiri. 

Proses menulis adalah proses “tazkiyatun nafs”, penyucian jiwa. Ia menjadi bentuk zikir panjang, mengingat Tuhan melalui refleksi kata dan makna. Jika dilakukan secara sungguh-sungguh, menulis bisa menjadi bekal masa depan. 

Dunia modern membutuhkan kemampuan menulis di banyak bidang: akademik, jurnalistik, komunikasi, dan industri kreatif. Santri yang menulis dengan terampil akan lebih siap menghadapi tantangan dunia profesional maupun dunia dakwah.

Agar mahir, kebiasaan menulis selalu berakar pada kebiasaan membaca. Ketika santri dilarang membaca karya fiksi, mereka kehilangan salah satu sumber terpenting dalam mengasah imajinasi dan kepekaan rasa. Padahal, karya fiksi yang baik bukanlah ancaman bagi moral, melainkan jembatan menuju pemahaman yang lebih luas tentang kemanusiaan dan nilai-nilai Islam.

Yang diperlukan bukan pelarangan, melainkan pendampingan. Guru atau ustaz perlu membaca terlebih dahulu karya fiksi yang akan direkomendasikan kepada santri. Banyak buku-buku fiksi yang bagus ditulis oleh berbagai pengarang. Buku-buku itu bacaan yang sarat nilai moral dan religius. Dari kebiasaan membaca yang sehat, akan tumbuh kecintaan menulis yang mendalam. 

Santri yang membaca dengan hati, akan menulis dengan jiwa. Kalaupun ia akan berbicara (berpidato, berceramah, mengajar di depan kelas, atau bentuk dakwah lainnya), bahasa yang ia gunakan akan indah, membawa kedamaian, karena dari lisannya tumbuh diksi-diksi sastra yang menyejukkan.

Menulis bukan hanya kegiatan personal, tetapi juga fondasi peradaban. Semua bangsa besar menulis sejarahnya sendiri. Tulisan adalah cara manusia melawan lupa. Tanpa tulisan, pengetahuan akan lenyap bersama usia manusia.

Bangsa Indonesia pun lahir dari kata dan teks, dari Sumpah Pemuda hingga Proklamasi Kemerdekaan. Karena itu, santri sebagai penjaga moral bangsa, harus turut menjadi penulis sejarah baru bagi negeri ini. 

Pesantren atau madrasah perlu menumbuhkan budaya literasi dengan menyediakan ruang kreatif seperti sanggar menulis, klub sastra, atau penerbitan media pesantren. Ruang semacam itu menjadi laboratorium tempat santri belajar berpikir kritis dan mengolah gagasan.

Menulis juga membawa manfaat psikologis. Ia menenangkan jiwa, mengurai kegelisahan, dan menyalurkan aspirasi batin. Dalam prosesnya, santri belajar disiplin, ketekunan, dan kejujuran yang merupakan tiga kualitas utama seorang pencari ilmu sejati.

Santri yang menulis sebenarnya sedang membangun peradaban. Mereka menanam nilai-nilai Islam dalam tanah kebudayaan modern, menumbuhkan pengetahuan yang berakar pada moralitas dan kemanusiaan.

Hari ini, kita hidup di era di mana setiap orang bisa menulis, tetapi tidak semua mau menulis. Teknologi mempermudah, namun hanya mereka yang konsistenlah yang akan dikenang. Karena itu, santri harus terus menulis, bukan demi eksistensi, tetapi demi kontribusinya bagi bangsa dan agama.

Tulislah apa saja: esai, puisi, cerpen, novel, kisah perjalanan, atau catatan renungan yang reflektif. Kata-kata yang ditulis dengan niat baik akan menjadi amal jariyah yang mengalirkan pahala. 

Barangkali tulisan sederhana hari ini akan menginspirasi seseorang di masa depan.

Menulis adalah menanam. Hari ini santri menanam huruf demi huruf, kelak tumbuh pohon-pohon ilmu dan hikmah.

Jika ingin dikenang, menulislah. Jika ingin berdakwah tanpa batas, menulislah. Jika ingin menolong jiwa sendiri dan jiwa orang lain, menulislah. 

Tulisan yang lahir dari hati akan sampai ke hati dan tidak akan pernah mati. (AM)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow