Guru Penggerak SMPN 1 Labuhan Badas Bagikan Pengalaman Berharga Ikuti Seminar Internasional

Pentingnya Peningkatan Kompetensi Siswa dengan mengintegrasikan Kurikulum Internasional dan kurikulum nasional

May 27, 2024 - 13:30
May 27, 2024 - 16:03
 0  168
Guru Penggerak  SMPN 1 Labuhan Badas  Bagikan Pengalaman Berharga Ikuti Seminar Internasional
Sri Asmediati S.Pd Guru Penggerak Kabupaten Sumbawa bertugas di SMPN I Labuhan Badas

Guru Penggerak SMPN 1 Labuhan Badas Bagikan Pengalaman Berharga Ikuti Seminar Internasional : Pentingnya Peningkatan Kompetensi Siswa

Sumbawa.Amarmedia.co.id - Prestasi membanggakan kembali diraih oleh Guru Penggerak Kabupaten Sumbawa. Diantaranya diraih oleh Sri Asmediati, S. Pd Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Labuhan Badas yang juga aktif sebagai Penulis Puisi dan buku fiksi berkesempatan mengikuti Seminar Internasional “Transformasi Kurikulum untuk Masa Depan Pendidikan.” bersama 200 Guru Berprestasi SE Indonesia. Seminar tersebut diselenggerakan oleh Dirjen GTK Kemendikbudristek, pada tanggal 5-8 Mei 2024 lalu di BGP Banten.

Awak media sengaja menemuinya Ahad (26 Mei 2024 untuk menggali nilai ilmu pengetahuan dan pengalaman berharga yang dapat dipetik dari seminar tersebut.

Dikatakannya ada beberapa catatan yang penting dari seminar diantaranya Sekolah internasional di Indonesia memiliki kurikulum tersendiri yang berbeda dengan kurikulum nasional. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan bila kurikulum internasional dan kurikulum nasional diintegrasikan. 

Foto Narasumber Seminar Internasional bersama Dirjen GTK 

Dijelaskannya bahwa Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M. Pd, mengatakan, penerapan kurikulum internasional di Indonesia kerap berkaitan dengan praktik pendirian sekolah berstandar internasional. Namun demikian, ada juga beberapa sekolah nasional yang menggunakan beberapa pengetahuan dari kurikulum internasional. “Ada juga (sekolah) dengan kurikulum nasional ditambah sedikit pengetahuan dari luar (kurikulum asing),” katanya. 

Kurikulum internasional beragam jenisnya. 

Beberapa yang cukup banyak diketahui dari jenis kurikulum internasional itu seperti Kurikulum Cambridge, Kurikulum Montessori, Internasional Baccalaureate, Internasional Primary Curriculum, dan Singaporean Primary School Curriculum. 

Berkaca kepada beberapa sekolah yang menerapkan kurikulum internasional tersebut, Dirjen GTK mengharapkan adanya bantuan untuk memberikan contoh praktik baik kepada sekolah-sekolah yang menerapkan kurikulum nasional.

Prof Nunuk mengharapkan kepada mitra yang sudah menggunakan kurikulum yang sevisi dengan Kurikulum Merdeka bisa memberikan dorongan, bantuan, kepada sekolah di sekitarnya dalam memberikan pemahaman atau contoh praktik baik yang ditawarkan kurikulum internasional. 

Nunuk juga mengharapkan pihak sekolah yang menerapkan kurikulum internasional benar-benar mengimplementasikannya dalam proses belajar. Tidak hanya sekadar promosi tapi yang disampaikan ke masyarakat benar-benar diimplementasikan dalam proses pembelajaran di sekolah sehingga manfaat dan dampak yang ada bisa dirasakan oleh siswa dan orang tua.

 

Foto Peserta Seminar Internasional bersama Dirjen GTK dan narasumber internasional 

Didalam seminar Kepala BGP Banten, mengatakan, satuan pendidikan di bawah BGP telah melakukan sinergi antara kurikulum internasional dan kurikulum nasional. Menurutnya, sekilas kedua jenis kurikulum tersebut tampak bagai "minyak dan air". Akan tetapi, ada kesamaan di antara keduanya, yakni konsep pembelajaran berdiferensiasi. 

Pembelajaran terdiferensiasi merupakan cara belajar yang memperhatikan keragaman peserta didik, baik itu dalam hal minat maupun preferensi belajarnya. Filosofinya sama antara kurikulum asing dan nasional. Keduanya ada pembelajaran terdiferensiasi dimana sekolah diwajibkan untuk bisa membedakan cara mengajar kepada masing-masing siswa.

Hal menarik pula Pemateri dari Tiongkok, Prof. Tingzhou Li, menjabarkan mengenani kurikulum Pendidikan Tiongkok. Dimana, beberapa guru memiliki gelar doctoral dari universitas-universitas ternama dunia. Namun masih banyak guru honorer di Cina yang hampir tidak memenuhi standar minimum atau bahkan gagal memenuhi standar. 

Oleh karena itu, meringkas reformasi kurikulum Tiongkok sangatlah sulit. Tetapi kita dapat memperoleh beberapa pemahaman regular dari kebijakan, diskusi akademis dan pengamatan terhadap perubahan praktis.

Prof Tingzhou Li menjabarkan tentang Pembentukan “Tujuan dan Tantangan Double-Basic.”

Pada masa-masa awal berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, lebih dari 80% penduduknya buta huruf. Banyak dari mereka yang bahkan tidak dapat menulis namanya sendiri. Tingkat partisipasi anak usia sekolah adalah 20%.

Dalam konteks ini, Cina telah membentuk system kurikulum yang berpusat pada pengetahuan dasar dan ketrampilan dasar yang disebut “DoubleBasic.”

Survei terhadap kepala sekolah dan guru menemukan bahwa beberapa hal yang paling penting bagi perkembangan siswa adalah, 1) Responsibility 2) Kesehatan fisik dan mental 3) Semangat inovatif 4) Kemampuan praktik 5) Keterampilan penilaian.

Pembentukan Tujuan dan Tantangan, “Double Basic.”

Dimana pada tahap tersebut, system kurikulum ini kondusif untuk memastikan kualitas Pendidikan sekolah dan pengembangan bakat. Setelah melalui berbagai upaya, pada akhir tahun 2000, 85% dari populasi di Cina telah menerima Pendidikan wajib Sembilan tahun dan di kalangan masyarakat menengah ke bawah mengalami penurunan menjadi dibawah 5%. 

Namun, dengan berkembangnya masyarakat, Duble system kurikulum juga telah mengalami perubahan.

Dalam pandangan siswa, tujuan terpenting dari pendidikan sekolah sebenarnya adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dasar yang memiliki keunggulan yang luar biasa dibandingkan dengan tujuan lainnya.

Metode pengajaran kelas favorit bagi peserta didik adalah adalah untuk memiliki lebih banyak operasi langsung atau praktik langsung yang dapat memicu lebih banyak diskusi. Mereka tidak suka mengajar dalam waktu lama, tidak suka belajar mandiri dan tidak suka dengan tulisan yang banyak.

Sayangnya Pendekatan yang tidak disukai siswa justru banyak diadopsi dalam praktiknya.

Tantangan dari tujuan Double Basic menganggap pengetahuan sebagai tujuan yang paling penting, tetapi tidak dapat mengubah pengetahuan menjadi kemampuan.

Dalam praktiknya, tujuan pengajaran dari kurikulum telah menjadi pengejaran nilai ujian siswa dan tingkat penerimaan sekolah. Hal ini Sebagian besar mengarah pada situasi dimana konten mata kuliah terlepas dari kenyataan, pengajaran membatasi kepribadian siswa, menekan siswa dan mengarah pada siswa yang memiliki nilai tinggi tetapi kemampuannya rendah.

Menanggapi isu-isu tersebut, pada tahun 2001, Tiongkok merevisi rencana kurikulumnya dan memprakarsai reformasi kurikulum terbesar dan paling berpengaruh sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok.

Proses dan isi utama Reformasi Kurikulum Baru yaitu, ketika Cina melakukan reformasi berskala besar, umumnya mengadopsi strategi percontohan, pertama-tama mencoba di beberapa daerah untuk mengumpulkan pengalaman dan kemudian mempromosikannya ke lebih banyak daerah.

Pada tahun 2001, Cina meluncurkan eksprimen reformasi di 38 zona percontohan (kota). Tahun 2002, jumlah siswa yang berpartisipasi dalam percobaan mencapai 8,9 juta, terhitung sekitar 10% dari siswa pad usia yang sama. 

Tahun 2003, 35% siswa berpartisipasi dalam pembaruan kurikulum baru. Tahun 2004, 65-70% siswa di seluruh negeri menerima program studi baru. Dan pada tahun 2005, semua siswa di seluruh negeri mulai menerima kurikulum baru.

Reformasi kurikulum yang baru mencakup beberapa tujuan yaitu, pertama tujuan telah bergeser dari memberikan pengetahuan dan ketrampilan menjadi tiga dimensi yang meliputi, pengetahuan, keterampilan, dan proses. Kedua, hal ini telah mengubah situasi dimana konten kursus menjadi sulit dan ketinggalan zaman, sehingga lebih memperhatikan minat dan pengalaman belajar siswa, dan memilih pengetahuan dan keterampilan dasar yang penting untuk pembelajaran seumur hidup.

Pada pelajaran sejarah mengurangi kebutuhan untuk menghapal fakta-fakta sejarah seperti karakter, waktu dan lokasi, memilih pengetahuan klasik dan fokus pada pengembangan siswa dalam memahami dan menganalisis. 

Pelajaran matematika telah.menghilangkan masalah aplikasi yang terpisah dari kenyataaan dan mengurangi persyaratan untuk teknik pembuktian dan operasi kompleks, menekankan pada pengembangan konsep spasial dan konten statistic dan probabilitas. 

Pelajaran Kimia telah mencoba mengurangi persyaratan untuk perhitungan kimia seperti penyeimbangan persamaan dan perhitungan konsentrasi. Menambahkan konten yang terkait dengan materi energi baru, nutrisi dan Kesehatan. 

Sebagai hasilnya, mata kuliah baru ini telah mengurangi tingkat kesulitan secara signifikan. Kurikulum baru menetapkan kegiatan praktikum yang komprehensif sebagai mata pelajaran wajib dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

Selanjutnya menurut Shinohara Aki, MA, dari Japan Foundation mengatakan bahwa JF Standar mempunyai konsep dimana Bahasa Jepang digunakan untuk pemahaman lintas budaya. Dalam konsep tersebut diperlukan dua kemampuan yaitu, kemampuan menyelesaikan tugas dan kemampuan pemahaman intas budaya. JF Standar digunakan untuk mengetahui tingkat kematangan Bahasa Jepang.

Pengaruh penggunaan JF Standar ini dalam kurikulum yaitu dapat focus pada komunikasi aktual, memudahkan siswa membayangkan apa yang dapat mereka lakukan dan meningkatkan motivasi belajar siswa.

Penerapan stndar JF pada kurikulum untuk mengajarkan Bahasa asing dan mengolah kompetensi dalam penyelesaian tugas dan kompetensi dalam pemahaman antar budaya. Pengaruh penggunaaan portofolio dalam kurikulum Jepang yaitu dapat meningkatkan kompetensi dalam menyelesaikan tugas dan kompetensi dalam pemahaman antar budaya. Dapat meningkatkan kemampuan belajar mandiri dan motivasi belajar juga dapat berbagi proses dan keberhasilannya dengan guru, teman sekelas dan keluarga.

Pada penggunaan fungsi fortofolio ini dalam kurikulum Jepang ini bisa dikatakan sama dengan penerapan pada kurikulum di Indonesia.

Selanjutnya menurut Kenji Yomoda, seorang dosen Pendidikan Olahraga dan Kesehatan dari Universitas Nagoya Gakuin menjabarkan tentang masalah Pendidikan di Jepang, dimana seorang anak yang mempunyai prestasi akademik tinggi, rendahnya harga diri, percaya diri, dan motivasi untuk menyampaikan pemikiran kepada orang lain atau menantang kesulitan. Kemudian yang masih bersifat tradisional yang hanya fokus pada perolehan pengetahuan dan bersaing untuk mendapatkan nilai ujian dan juga instruksi yang berpusat pada guru.

Kemudian pada tahun2017/2018, Jepang merevisi kurikulum nasionalnya. Dimana pelajar harus memeroleh pengetahuan dan ketrampilan dasar dan mendasar, untuk menumbuhkan kemampuan siswa untuk berpikir, membuat penilaian dan mengekspresikan diri yang diperlukan untuk memecahkan masalah dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehuntuk menumbuhkan sikap belajar proaktifuntuk mengembangkan individualitas siswa dan untuk mendorong Kerjasama dengan beragam orang.

Dalam hal ini, Pendidikan jepang telah berhasil memperoleh pengetahuan dasar dan keterampilan motorik. Namun,terdapat kebutuhan yang semakin besar untuk beralih ke pembelajaran yang lebih proaktif, interaktif, mendalam dan berpusat pada siswa. 

Inovasi tersebut sangat penting untuk memberdayakan siswa menjadi individu yang dapat belajar mengambil keputusan dan mengatasi permasalahan kompleks dan belum terjawab secara mandiri dalam masyarakat modern yang berubah dengan cepat.

Sri juga menjelaskan bahwa Seminar ditutup oleh Direktur BGP Banten, Dr. Sugito Adi Warsito, M.Pd.Or. Beliau menyampaikan bahwa kurikulum yang kita adopsi dari kurikulum internasional disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan disesuaikan dengan jamannya.

Dirinya berpesan untuk meningkatkan kompetensi peserta didik, pastikan semua yang diajarkan kepada peserta didik dapat membuat mereka bisa bertanggung jawab kepada dirinya sendiri dan mampu bersaing di bidangnya masing-masing.(AM)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow