Fenomena Kekeringan Melanda Sejumlah Kecamatan di Sumbawa, Warga Kekurangan Air Bersih

amramr
Aug 6, 2025 - 13:06
Aug 6, 2025 - 13:15
 0  80
Fenomena Kekeringan Melanda Sejumlah Kecamatan di Sumbawa, Warga Kekurangan Air Bersih

Fenomena Kekeringan Melanda Sejumlah Kecamatan di Sumbawa, Warga Kekurangan Air Bersih

Disusun Oleh : Wiwin

(Mahasiswa  Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu politik Universitas Teknologi Sumbawa)

Fenomena kekeringan di Kabupaten Sumbawa menjadi permasalahan yang terus berulang dari tahun ke tahun, terutama saat musim kemarau panjang melanda. Daerah-daerah yang sebagian besar mengandalkan sumber mata air alami dan tadah hujan kini menghadapi tantangan besar akibat perubahan iklim global yang memengaruhi pola hujan.

Beberapa desa di Kecamatan Lantung, Orong Telu, dan Moyo Hulu merupakan contoh wilayah yang hampir setiap tahun masuk dalam daftar daerah rawan kekeringan. Kondisi geografis yang berbukit-bukit serta infrastruktur air bersih yang masih terbatas semakin memperburuk situasi warga.

Dampak dari kekeringan tidak hanya dirasakan oleh rumah tangga yang kesulitan memenuhi kebutuhan air minum, mandi, dan mencuci, tetapi juga menghantam sektor pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Sumbawa. 

Sawah-sawah yang mengering menyebabkan petani gagal panen, harga hasil pertanian merosot, dan pendapatan mereka menurun drastis. Sementara itu, para peternak juga harus memutar otak karena padang rumput yang biasanya menjadi sumber pakan ternak berubah menjadi tanah tandus yang retak-retak. Banyak peternak terpaksa membeli pakan tambahan, yang tentu menambah beban biaya di tengah penghasilan yang menurun.

Ironisnya, distribusi air bersih yang diupayakan pemerintah daerah dengan mobil tangki seringkali belum merata dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan semua warga terdampak. Mobil tangki kesulitan menjangkau desa-desa terpencil dengan jalan yang rusak atau berbatu. Di sisi lain, masyarakat yang mampu membeli air bersih dengan jeriken pun tidak sedikit yang harus berutang demi kebutuhan dasar ini. 

Bantuan dari relawan dan lembaga sosial memang datang, tetapi sifatnya hanya sementara dan belum menjawab akar persoalan kekeringan.

Salah satu penyebab utama kekeringan di Sumbawa adalah belum optimalnya pengelolaan sumber daya air. Banyak sumber mata air belum dilestarikan dengan baik, hutan-hutan di kawasan hulu semakin berkurang akibat penebangan liar, dan waduk atau embung desa belum dibangun secara merata. 

Selain itu, kesadaran masyarakat untuk menabung air hujan atau menggunakan air secara hemat juga masih rendah. Padahal, beberapa wilayah di Sumbawa memiliki potensi air tanah yang dapat dimanfaatkan jika dikelola dengan teknologi tepat guna seperti sumur bor dalam.

Penanganan kekeringan seharusnya menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta. Pemerintah perlu menyediakan kebijakan yang mendorong pembangunan infrastruktur air bersih secara merata, seperti pembangunan embung desa, bendungan kecil, atau sumur bor di wilayah rawan kekeringan. Masyarakat juga harus dilibatkan aktif dalam menjaga sumber air, melakukan konservasi lahan, serta menanam pohon di kawasan resapan air. 

Perguruan tinggi, lembaga riset, maupun perusahaan swasta juga dapat memberikan kontribusi melalui inovasi teknologi tepat guna yang dapat membantu pengelolaan air secara efisien. Jika semua pihak mau bekerja sama, persoalan kekeringan di Sumbawa bukanlah masalah yang mustahil untuk diatasi. Dengan perencanaan yang matang, pendanaan yang memadai, dan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan, ketersediaan air bersih dapat terjaga sepanjang tahun. 

Hal ini tidak hanya akan menjamin kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, tetapi juga menjaga stabilitas sektor pertanian, peternakan, dan perekonomian desa secara berkelanjutan.

Fenomena kekeringan di Sumbawa seharusnya menjadi bahan renungan bagi semua pihak bahwa alam tidak akan pernah kompromi jika manusia terus mengabaikan kelestariannya. Harapannya, masyarakat Sumbawa tidak lagi harus menunggu bantuan air bersih setiap kemarau datang, melainkan mampu mandiri dengan sistem pengelolaan air yang berkelanjutan. Dengan demikian, mimpi Sumbawa menjadi daerah yang tangguh menghadapi musim kemarau bukanlah sekadar angan-angan, melainkan sebuah kenyataan yang dapat dicapai melalui kerja sama dan kesadaran kolektif. (AM)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow