Dewan Rozy : Masyarakat Kesulitan, Kuota LPG 3 Kg di Sumbawa Mendesak Ditambah
Sumbawa Besar,Amarmedia.co.id. Kelangkaan dan tingginya harga LPG 3 kg di Kabupaten Sumbawa menjadi sorotan tajam. Anggota DPRD Kabupaten Sumbawa dari fraksi Partai Golkar, Muhammad Zain, S.IP., yang akrab disapa Rozy, mendesak Pemerintah Daerah untuk segera melobi pemerintah pusat agar kuota gas bersubsidi ini ditambah. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Sumbawa mengakui adanya penurunan kuota dan masalah distribusi di lapangan.
DPRD: Kebutuhan LPG 3 Kg Meluas, Kuota Sumbawa Jauh di Bawah Standar
Rozy menegaskan bahwa kuota LPG 3 kg yang ada saat ini sudah tidak layak dipertahankan. Ia menjelaskan, penggunaan gas melon tidak lagi terbatas pada masyarakat miskin, tetapi juga telah merambah sektor produktif seperti nelayan yang memakai gas untuk perahu dan petani untuk mesin pompa air. Selain itu, UMKM kini membutuhkan lebih banyak tabung, dan pertumbuhan populasi di tengah pembangunan perumahan baru seperti Baiti Jannati dan Kerato Asri Residence Samota semakin meningkatkan permintaan.
Rozy menyoroti perbandingan kuota yang timpang dengan Kota Mataram. "Seperti contoh tetangga kita di Kota Mataram dengan jumlah penduduk 441.147 jiwa, kuotanya 18.839 metrik ton. Sementara di Kabupaten Sumbawa dengan jumlah penduduk yang lebih besar, 526.000-an jiwa, jumlah gas yang sekarang hanya 12 metrik ton. Ini berbanding terbalik," paparnya.
Kondisi ini semakin parah setelah kuota Sumbawa justru dikurangi dari 12 metrik ton (sekitar 4,3 juta tabung) menjadi 11 metrik ton. "Pada saat kuota masih 12 metrik ton saja masih kurang, apalagi dikurangi jadi 11 metrik ton," keluh Rozy, seraya menambahkan bahwa di beberapa desa di Kecamatan Ropang, pangkalan gas bahkan sudah tidak ada sama sekali.
Menurut Rozy, solusi mendesak bukan sekadar sidak, melainkan penambahan kuota yang harus diperjuangkan oleh Pemda ke pemerintah pusat.
Pemkab Akui Penurunan Kuota dan Permainan Harga Pengecer
Menanggapi keluhan masyarakat dan desakan DPRD,Kepala Bagian Ekonomi Setda Sumbawa, Khairuddin mengungkapkan bahwa persoalan utama terletak pada distribusi dan penurunan kuota.
"Berdasarkan kuota tahun 2025, Kabupaten Sumbawa hanya mendapatkan 11.596 metrik ton atau setara 3.865.333 tabung. Angka ini menurun dari tahun 2024 yang mencapai 12.194 metrik ton atau sekitar 4 juta tabung," jelas Khairuddin. Penurunan ini, katanya, diakibatkan oleh proses verifikasi dan konversi data penerima manfaat yang dianggap belum merata.
Khairuddin juga mengakui adanya "permainan harga oleh pengecer" yang membuat harga gas melon melonjak di tingkat masyarakat, meskipun agen dan pangkalan resmi memiliki batas harga. Pemerintah telah berulang kali mengingatkan agen dan pangkalan, bahkan Pertamina tak segan memotong kuota jika terbukti ada pelanggaran, seperti kasus salah satu agen yang dikurangi jatahnya 560 tabung.
Pemkab Sumbawa telah mengajukan surat permohonan penambahan kuota kepada Kementerian ESDM. Namun, hingga kini belum ada kepastian karena kuota nasional sudah dibagi rata. Meski begitu, Khairuddin memastikan Bupati dan Wakil Bupati akan terus melakukan follow-up agar kebutuhan elpiji subsidi masyarakat bisa terpenuhi secara adil dan merata.
"Kita akan tetap kawal dan pantau distribusi gas melon ini agar tidak terus jadi polemik di tengah masyarakat," tegas Khairuddin. (AM)
What's Your Reaction?
