Dari Sumbawa, Menggapai Puncak Eiffel": Menguak Jejak Bapak Otonomi Daerah, Inspirasi Perjuangan Provinsi Pulau Sumbawa

amramr
Jun 16, 2025 - 18:15
Jun 16, 2025 - 18:25
 0  79
Dari Sumbawa, Menggapai Puncak Eiffel": Menguak Jejak Bapak Otonomi Daerah, Inspirasi Perjuangan Provinsi Pulau Sumbawa

Dari Sumbawa, Menggapai Puncak Eiffel": Menguak Jejak Bapak Otonomi Daerah, Inspirasi Perjuangan Provinsi Pulau Sumbawa

Sumbawa, Amarmedia.co.id - Sebuah karya literasi monumental dibedah "Dari Sumbawa, Menggapai Puncak Eiffel: Rekam Jejak Dr. H. L. Mala Sjarifuddin, SH., DESS." karya Nurdin Ranggabarani SH MH  kini menjadi sorotan utama.  Buku yang diterbitkan oleh Yayasan Sumbawa Bangkit ini tidak hanya mengisahkan perjalanan luar biasa seorang putra daerah dari desa Jotang, Sumbawa, menuju puncak akademik di Paris, Prancis, tetapi juga mengukuhkan posisinya sebagai Bapak Otonomi Daerah Indonesia.

Anggota DPR RI Fraksi PKS Dapil Pulau Sumbawa, Johan Rosihan, dalam ulasannya Senin 16 Juni 2025 menyampaikan kehormatan besar mengulas permata literasi ini. "Dari Sumbawa" melambangkan asal-usul yang sederhana dari Dr. Mala yang lahir pada 18 November 1932. Sementara "Menggapai Puncak Eiffel" secara simbolis menggambarkan pencapaian disertasinya di Universitas Paris II, Pantheon-Assas, Prancis, yang membuktikan bahwa keterbatasan geografis tidak menghalangi prestasi gemilang di pentas dunia.

Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Sumbawa Ir H Syarafuddin Jarot MP. Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa Zulfikar Demitry SH MH. Bersama Anggota DPRD Kabupaten Sumbawa diantara Adizul Syahabuddin SP MSi, H Andi Mappeleppui, Alen Tariadi SE., Penulis Buku Nurdin Ranggabarani SH MH, Para tokoh masyarakat, Pimpinan Perguruan tinggi, 

Inti dari pengukuhan Dr. Mala sebagai "Bapak Otonomi Daerah" adalah disertasinya berjudul "L’Administration Locale En Indonesie" (Pemerintahan Daerah di Indonesia), yang berhasil dipertahankan pada 14 Maret 1979. Pada era Orde Baru yang sangat sentralistik, pemikiran Dr. Mala tentang desentralisasi dan otonomi daerah merupakan keberanian intelektual yang melampaui zamannya.

Kemudian lanjutnya, Dalam disertasinya setebal 602 halaman, Dr. Mala merekomendasikan pemberian ruang ekspresi yang cukup bagi daerah, melalui desentralisasi dan otonomi, agar pemerintah daerah dan DPRD dapat berkreasi serta berinovasi dalam pelayanan publik dan penggunaan anggaran sesuai potensi lokal. Prof. Dr. Georges L. Lescuyer, salah satu penguji disertasi dari Prancis, bahkan mengakui visioneritas pemikiran Dr. Mala, menyatakan bahwa "Pada saatnya, Pemerintah Indonesia akan sampai pada taraf yang dipikirkan Mala."

Pemikiran visioner Dr. Mala memiliki gaung kuat hingga kini, khususnya dalam aspirasi masyarakat Pulau Sumbawa untuk mewujudkan Provinsi Pulau Sumbawa (PPS). Gagasan otonomi daerah yang diusungnya memberikan dasar filosofis dan akademis tentang pentingnya setiap daerah memiliki kewenangan lebih besar untuk mengelola potensi dan mengatasi permasalahannya sendiri.

Perjuangan pemekaran wilayah di Pulau Sumbawa dapat diartikan sebagai manifestasi kebutuhan akan ruang berekspresi yang lebih luas, sebagaimana direkomendasikan Dr. Mala, untuk mengoptimalkan pembangunan yang adaptif terhadap kearifan lokal dan sumber daya spesifik. Dr. Mala mengajarkan bahwa kesuksesan sejati tidak bergantung pada infrastruktur modern, melainkan lahir dari semangat, kemauan keras, dan keteguhan jiwa.

Buku ini juga kaya akan pelajaran berharga tentang karakter dan keteladanan Dr. Mala. Berbagai testimoni menyoroti integritas, disiplin tinggi, kejujuran, kesederhanaan, dan komitmennya. H. Fahri Hamzah menyebut Dr. Mala pribadi yang "ulet, gigih dan tangguh," serta menyoroti prinsip anti-kolusi, korupsi, dan nepotismenya.

Integritasnya terbukti dari kebiasaan mengembalikan sisa biaya perjalanan dinas dan menolak menggunakan fasilitas dinas untuk kepentingan pribadi. "Beliau lebih memilih naik sepeda atau berjalan kaki, bila beliau keluar untuk masalah pribadi," ungkap putra sulungnya, Ratiza Sjarifuddin, menegaskan batasan etis yang jelas antara tanggung jawab publik dan kepentingan pribadi.

Dedikasi Dr. Mala terhadap pendidikan juga monumental. Beliau mengabdi sebagai dosen tanpa honor, menginisiasi pendirian Fakultas Hukum Universitas Mataram dan APDN Mataram, serta mendirikan Asrama Pelajar dan Mahasiswa Sumbawa (Wisma Samawa) dari sisa tanah pribadi untuk membantu pelajar kurang mampu. Mirisnya, Johan Rosihan mengungkapkan bahwa asrama tersebut saat ini tidak terawat dan membutuhkan perhatian.

Kemampuan Dr. Mala sebagai polyglot yang menguasai 7 bahasa asing dan beberapa bahasa daerah juga sangat mendukung perjalanan dan interaksinya di berbagai kancah.

Apresiasi Penulis dan Harapan Pameran Karya Anak Sumbawa

H. Johan Rosihan memberikan apresiasi tinggi kepada penulis, Nurdin Ranggabarani, atas riset mendalam dan napak tilas hingga ke Paris, Prancis, untuk merekonstruksi jejak kehidupan Dr. Mala yang tercerai-berai. Dukungan Yayasan Sumbawa Bangkit menjadikan buku ini nyata, melestarikan memori dan inspirasi tokoh hebat ini.

Ke depan, H.Johan Rosihan berharap dapat mengumpulkan dan memamerkan karya-karya penulis asal Sumbawa, dengan target pameran pada tahun 2026. Ia meyakini bahwa "dialek dalam sebuah buku akan abadi."

Buku "Dari Sumbawa, Menggapai Puncak Eiffel" sangat direkomendasikan bagi para pemimpin daerah, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat luas yang mencari inspirasi tentang kegigihan, integritas, dan dedikasi. Buku ini diharapkan menjadi pemicu semangat untuk meneladani prinsip-prinsip Dr. Mala, melahirkan "Mala Sjarifuddin" baru dari setiap generasi yang mampu membangun Sumbawa dan mengharumkan nama bangsa di kancah global. Johan Rosihan juga mengapresiasi Bupati Sumbawa dan berkomitmen menyebarkan buku ini ke seluruh perpustakaan agar dapat dibaca luas, bahkan diindikasikan akan dicetak ulang.(AM)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow