Dampak Banjir terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat Brang Bara: Analisis Sosiologi lingkungan
Dosen pengampu: Anwar, S.Pd, M.Pd
Disusun oleh: ( Vallensiana Ceria (NIM: 241027022), Nengsih Purnama (NIM: 241027001), Nurmeilani (NIM: 241027005), Febi Pebriani (NIM: 24102717), Fatimah Az Zahro NIM : 241027025)
(Mahasiswi Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Teknologi Sumbawa)
Dalam rangka memenuhi tugas UAS Mata Kuliah Sosiologi Lingkungan
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis dampak sosial akibat bencana banjir yang melanda masyarakat di Kelurahan Brang Bara melalui perspektif sosiologi lingkungan. Fokus utama penelitian ini adalah melihat bagaimana fenomena alam (banjir) memengaruhi struktur sosial dan pola interaksi antar warga. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan serta wawancara mendalam dengan informan kunci, yakni Ketua RT dan masyarakat setempat yang terdampak langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banjir tidak hanya menyebabkan kerugian materi, tetapi juga menimbulkan dampak sosial berupa: terganggunya aktivitas rutin dan keterikatan sosial jangka pendek serta perubahan pola gotong royong dalam upaya adaptasi lingkungan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan kapasitas sosial melalui peran Ketua RT dan solidaritas antarwarga menjadi kunci utama dalam kemampuan masyarakat menghadapi bencana banjir di masa depan.
Kata Kunci: Banjir, Dampak Sosial, Kelurahan Brang Bara, Sosiologi Lingkungan, Interaksi Masyarakat.
Abstract
This study aims to describe and analyze the social impacts resulting from the flood disasters that hit the community in Brang Bara Village through an environmental sociology perspective. The primary focus of this research is to examine how natural phenomena (floods) affect social structures and interaction patterns among residents. The research method used is descriptive qualitative. Data were collected through field observations and in-depth interviews with key informants, namely neighborhood heads (Ketua RT) and the directly affected local community. The research findings indicate that floods not only cause material losses but also result in social impacts such as the disruption of routine activities and short-term social cohesion, as well as changes in mutual cooperation (gotong royong) patterns in environmental adaptation efforts. This study concludes that strengthening social capacity through the role of neighborhood heads and solidarity among residents is a primary key to the community's ability to face future flood disasters.
Keywords: Flood, Social Impact, Brang Bara Village, Environmental Sociology, Community Interaction.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Banjir adalah fenomena alam yang terjadi akibat intensitas curah hujan yang tinggi yang menyebabkan kelebihan air yang tidak tertampung oleh jaringan pematusan suatu wilayah. Banjir merupakan salah satu bencana alam yang paling sering terjadi di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Kabupaten Sumbawa. Fenomena ini tidak hanya menimbulkan kerusakan secara fisik, tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial masyarakat. Keluarga Berang Bara, yang terletak di wilayah Sumbawa Besar, merupakan salah satu daerah yang cukup sering mengalami banjir, terutama pada musim hujan. Kondisi geografis yang berada di dataran rendah serta kurangnya sistem drainase yang memadai menjadikan wilayah ini rentan terhadap genangan air.
Namun, yang menarik untuk dikaji bukan hanya aspek lingkungan fisiknya, tetapi juga bagaimana masyarakat merespons, beradaptasi, dan membangun solidaritas sosial dalam menghadapi bencana tersebut. Masyarakat Kelurahan Berang Bara memiliki pola gotong royong dan kebersamaan yang khas dalam menghadapi setiap kejadian banjir, mulai dari proses evakuasi hingga upaya pemulihan pascabanjir. Fenomena ini menunjukkan adanya dinamika sosial yang menarik untuk diteliti dari perspektif sosiologi lingkungan.
Menurut Robert E. Park dalam teori Ekologi Manusia, hubungan antara manusia dan lingkungannya bersifat timbal balik: perubahan lingkungan akan memengaruhi perilaku sosial manusia, dan sebaliknya, perilaku manusia juga dapat memengaruhi kondisi lingkungan. Dalam konteks Kelurahan Berang Bara,aktivitas masyarakat seperti penggundulan hutan secara berlebihan untuk membuka lhan jagung di daerah sungai hulu (Semongkat). Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan banjir tidak hanya persoalan alam, tetapi juga persoalan sosial yang berkaitan dengan perilaku dan struktur masyarakat.
Penelitian ini penting dilakukan untuk memahami bagaimana masyarakat Kelurahan Berang Bara menafsirkan dan menyesuaikan diri terhadap bencana banjir, serta bagaimana solidaritas dan hubungan sosial terbentuk dalam situasi krisis. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai hubungan antara faktor sosial dan lingkungan dalam konteks penanggulangan bencana di tingkat lokal.
1.2 Rumusan masalah
Dari latar belakang di atas, rumusan masalah yang didapat adalah bagaimana dampak banjir terhadap sosial ekonomi masyarakat Kelurahan Brang Bara dalam perspektif sosiologi lingkungan?
1.3 Tujuan
Tujuan observasi ini adalah untuk mengetahui dampak banjir terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat Kelurahan Brang Bara.
1.4 Manfaat
Manfaat dari observasi ini adalah:
Manfaat Teoretis (Pengembangan Ilmu)
Penelitian ini bermanfaat untuk memperkaya khazanah keilmuan di bidang Sosiologi Lingkungan, khususnya dalam memahami hubungan timbal balik antara bencana alam dan perilaku sosial masyarakat pedesaan. Hasil penelitian ini dapat menjadi referensi empiris mengenai bagaimana struktur sosial dan pola interaksi masyarakat berubah ketika menghadapi krisis lingkungan (banjir) di wilayah spesifik seperti Kelurahan Brang Bara.
Manfaat Praktis bagi Pemerintah
Penelitian ini dapat menjadi bahan masukan atau rekomendasi bagi pemerintah desa maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam menyusun strategi mitigasi bencana. Dengan memahami dampak sosial dan peran Ketua RT sebagai informan kunci, pemerintah dapat merancang kebijakan penanggulangan banjir daerah setempat.
Manfaat bagi Masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat Desa Brang Bara tentang pentingnya menjaga kohesi sosial dan pola gotong royong sebagai modal utama menghadapi bencana. Temuan penelitian ini bisa membantu warga mengenali kekuatan internal mereka (seperti peran kepemimpinan RT) sehingga mereka lebih siap dan tangguh secara sosial saat menghadapi ancaman banjir di masa depan.
BAB II METODE PENELITIAN
2.1 Jenis penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, yang bertujuan untuk memperoleh gambaran mendalam mengenai realitas sosial masyarakat Kelurahan Brang Bara setelah terdampak banjir. Penggunaan metode kualitatif dipilih agar peneliti dapat menangkap makna, pengalaman, dan persepsi subjek penelitian secara menyeluruh dalam latar alamiah mereka.
2.2 Sumber data
Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan Ketua RT dan masyarakat terdampak, sedangkan data sekunder didukung oleh bukti arsip laporan kebencanaan dari pihak RT serta dokumentasi visual berupa foto-foto yang menangkap situasi saat banjir terjadi maupun selama proses penanggulangan pascabencana.
Foto Sudut Pandang sungai Brang bara
2.3 Sasaran dan fokus penelitian
Subjek dalam penelitian ini yaitu masyarakat Kelurahan Brang Bara yang terdampak langsung oleh bencana banjir. Adapun lokasi observasi difokuskan pada area pemukiman warga yang berada di sepanjang bantaran atau dekat dengan aliran sungai di Kelurahan Brang Bara, mengingat wilayah tersebut merupakan titik dengan tingkat kerentanan sosial dan ekologis paling tinggi.
2.4 Teknik pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara mendalam terhadap Ketua RT dan warga yang bermukim di dekat sungai, guna mengeksplorasi dampak sosial banjir berdasarkan pengalaman nyata masyarakat di zona terdampak.
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Dampak banjir terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat Kelurahan Brang Bara
Berdasarkan hasil observasi lapangan dan wawancara mendalam, ditemukan bahwa bencana banjir yang melanda Desa Brang Bara tidak terlepas dari degradasi lingkungan yang terjadi di wilayah hulu sungai, tepatnya di kawasan Semongkat.
Secara sosiologi lingkungan, fenomena ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan ekosistem akibat aktivitas deforestasi dan penggundulan hutan secara masif. Hilangnya vegetasi di wilayah hulu menyebabkan perubahan struktur dan daya serap tanah; ketiadaan akar pohon mengakibatkan air hujan tidak lagi terinfiltrasi ke dalam tanah secara optimal, melainkan langsung menjadi air permukaan (run-off) yang mengalir deras ke pemukiman.
Kondisi ekologis yang rusak di hulu inilah yang menjadi pemicu utama terjadinya banjir kiriman yang secara periodik mengancam stabilitas kehidupan masyarakat di hilir, khususnya Kelurahan Brang Bara.
Dalam konteks sosiologis, dampak sosial dipahami sebagai perubahan signifikan dalam struktur dan pola kehidupan masyarakat akibat suatu fenomena. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pascabanjir, terjadi transformasi dalam pola interaksi masyarakat Kelurahan Brang Bara. Meskipun aktivitas rutin seperti pekerjaan dan pendidikan mengalami kelumpuhan total akibat akses yang terputus, muncul fenomena penguatan modal sosial di tengah krisis.
Solidaritas organik terlihat nyata melalui meningkatnya intensitas gotong royong warga dalam membersihkan lingkungan dan mendistribusikan bantuan. Menariknya, terdapat pola bantuan yang berbasis kekerabatan (kinship), di mana warga yang tidak terdampak secara langsung cenderung memprioritaskan bantuan tenaga dan materi kepada keluarga atau kerabat dekat mereka yang mengalami kerusakan tempat tinggal paling parah.
Hal ini merefleksikan bahwa di tengah bencana, ikatan primordial tetap menjadi fondasi utama dalam mekanisme pertahanan sosial masyarakat desa. Secara ekonomi, banjir menimbulkan dampak destruktif terhadap stabilitas finansial warga. Kerusakan yang terjadi dikategorikan sebagai kerusakan struktural dan kehilangan aset produktif. Banyak warga kehilangan harta benda, sementara sektor usaha mikro seperti warung dan tempat usaha kecil milik penduduk hancur tersapu arus. Kehilangan modal usaha ini memaksa masyarakat untuk memulai kembali (rebuilding) aktivitas ekonomi mereka dari titik nol tanpa adanya cadangan dana darurat yang memadai. Kelumpuhan ekonomi ini diperparah dengan terhentinya mata pencaharian harian selama masa pemulihan, yang pada akhirnya meningkatkan kerentanan ekonomi masyarakat Desa Brang Bara dalam jangka panjang.
Terkait respon otoritas, hasil observasi menunjukkan bahwa peran pemerintah masih terfokus pada fase tanggap darurat (emergency response).
Intervensi yang diberikan cenderung bersifat karitatif, yakni penyediaan kebutuhan logistik dasar seperti bantuan pangan (sembako) dan makanan siap saji bagi para pengungsi. Meskipun bantuan ini sangat krusial saat masyarakat berada di posko pengungsian atau sedang melakukan perbaikan mandiri, namun keterlibatan pemerintah dalam pemulihan ekonomi jangka panjang dan mitigasi banjir berbasis lingkungan di wilayah hulu (Semongkat) dirasa masih memerlukan strategi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan melampaui sekadar pemberian bantuan sembako.
Berdasarkan pembahasan dari hasil penelitian menujukkan adanya dampak serius terhadap sosial dan ekonomi di brang bara,dampak sosial akibat banjir yaitu mengalami perubahan, di lihat dari interaksi masyarakat Kelurahan Brang bara. Dalam kondisi pascabanjir, interaksi masyarakat lebih banyak terpusat pada upaya saling membantu. Warga saling bekerja sama membersihkan lingkungan, menyalurkan bantuan, dan membantu korban yang terdampak lebih parah. Hal ini menunjukkan meningkatnya solidaritas dan gotong royong antarwarga desa. Namun di sisi lain sebagai masyarakat brang bara yang tidak terkena dampak banjir lebih memprioritaskan membantu keluar atau kerabat yang terkena dampak banjir parah dalam membantu membersihkan tempat tinggal mereka pasca banjir .
Dampak ekonomi akibat banjir di desa Brang bara mengalami kerusakan yang cukup parah. Mereka kehilangan harta benda, usaha atau warung warga hancur karena terendam banjir dan masyarakat memulai dari awal untuk membangun usaha yang telah hancur tersebut. Jadi respon pemerintah terhadap sosial dan ekonomi masyarakat Brang bara yaitu berdasarkan hasil observasi pemerintah lebih banyak berperan dalam memberikan bantuan darurat, terutama berupa sembako dan makan cepat saji kepada para korban banjir. bantuan tersebut di berikan pada saat masyarakat masih berada di pengungsian ata sedang melakukan perbaikan Mandiri terhadap rumah dan fasilitas mereka yang rusak.
3.2 Resolusi
Berdasarkan hasil penelitian, kami merekomendasikan beberapa solusi berkelanjutan untuk mengatasi banjir di kelurahan Brang Bara. Pertama, perlu dilakukan pengerukan sungai agar kapasitas daya tampung air meningkat. Kedua, kami mengusulkan kolaborasi antar-mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya reboisasi (penghijauan kembali) di wilayah hulu sungai yang saat ini telah beralih fungsi menjadi lahan pertanian.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak bergerak sendiri, melainkan bekerja sama dengan pemerintah untuk menciptakan penanganan banjir yang terpadu. Kolaborasi ini melibatkan berbagai program studi sesuai bidang keahliannya, seperti:
- Program Studi Sosiologi untuk melakukan pendekatan dan edukasi sosial kepada masyarakat.
- Program Studi KSDA (Konservasi Sumber Daya Alam) untuk merancang strategi reboisasi yang tepat.
- Program Studi Teknik Lingkungan untuk memberikan solusi teknis terkait penataan aliran sungai dan infrastruktur lingkungan.
Foto Tim Peneliti.
BAB IV KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kelurahan Brang Bara RT 001 RW 003, Kabupaten Sumbawa, dapat disimpulkan bahwa banjir yang sering melanda wilayah ini merupakan akibat dari ketidakseimbangan hubungan antara manusia dan lingkungan. Penyebab utama banjir berasal dari kerusakan hutan di daerah hulu Semongkat akibat penebangan liar dan alih fungsi lahan, yang menyebabkan hilangnya daya serap tanah terhadap air hujan. Selain itu, Fenomena ini menunjukkan adanya dampak nyata dari aktivitas manusia terhadap ekosistem, sebagaimana dijelaskan dalam teori Ekologi Manusia oleh Robert E. Park dan Ernest W. Burgess.
Dampak banjir terhadap masyarakat Kelurahan Brang Bara sangat kompleks, meliputi kerusakan fisik pada rumah dan infrastruktur, gangguan sosial akibat pengungsian, serta kerugian ekonomi yang signifikan terutama bagi pelaku usaha kecil seperti warung kelontong. Kondisi ini memperlihatkan bahwa bencana banjir tidak hanya berdimensi lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat.
Pemerintah daerah telah memberikan bantuan darurat berupa sembako dan makanan siap saji, namun upaya tersebut masih bersifat sementara dan belum menyentuh aspek penanggulangan jangka panjang seperti perbaikan drainase, rehabilitasi lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi warga pascabencana.
Sementara itu, masyarakat menunjukkan solidaritas sosial yang tinggi melalui kegiatan gotong royong dan saling membantu sesama warga terdampak. Ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai sosial masih kuat tertanam dan menjadi modal penting dalam proses adaptasi terhadap bencana. Dengan demikian, banjir di Kelurahan Brang Bara harus dipahami sebagai persoalan sosial-lingkungan yang menuntut kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Upaya pencegahan dan penanggulangan banjir tidak hanya bergantung pada intervensi kebijakan, tetapi juga pada kesadaran ekologis dan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Harian, K., Samosir, K., & Simbolon, E. (2025). Kondisi Sosial Ekonomi Keluarga Petani Pasca Banjir Bandang Di Desa JURNAL MEDIA INFORMATIKA [ JUMIN ]. 6(6), 2872–2885.
Nur, F., Sirait, A., Luluk, T. A., Halim, J. I., Manik, B., & Kardian, E. (2025). Kondisi Sosial-Ekonomi dan Alasan Bertahannya Masyarakat di Daerah Rawan Banjir di Kelurahan Hamdan Medan Maimun Kota Medan. 2.
Pahleviannur, M. R., Ayuni, I. K., Widiastuti, A. S., Umaroh, R., Aisyah, H. R., Afiyah, Z., Azzahra, I., Chairani, M. S., Dhafita, N. A., Rohmah, N. L., Mardiatno, D., & Rachmawati, R. (2023). Kerentanan Sosial Ekonomi terhadap Bencana Banjir di Hilir DAS Citanduy Bagian Barat Kabupaten Pangandaran Jawa Barat. 24(2), 189–205.
Puspitotanti, E., & Karmilah, M. (2021). KAJIAN KERENTANAN SOSIAL TERHADAP BENCANA BANJIR. 1(2), 177–197.
What's Your Reaction?