Analisis Sosiologi Lingkungan Tentang Deforestasi Lingkungan Terhadap Kerusakan Jalan Di Desa Batu Bangka Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa
Dosen Pengampu : Anwar S.Pd,M.Pd
Disusun Oleh : (Ayu Safitri, Suhery Cantika, Elda Novi Cahyanti, Dewi Kurnia Antari Putri, Fadilah Cahya Aulia)
(Mahahasiswi Universitas Teknologi Sumbawa, Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik, Program Studi Sosiologi)
ABSTRAK
Deforestasi merupakan salah satu masalah lingkungan yang banyak terjadi di wilayah pedesaan, termasuk di Desa Batu Bangka, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab dan dampak deforestasi dengan menggunakan pendekatan sosiologi lingkungan. Metode yang digunakan adalah observasi dan wawancara dengan masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa deforestasi terjadi akibat kebutuhan ekonomi masyarakat, pembukaan lahan pertanian, serta kurangnya pengawasan terhadap kawasan hutan.
Deforestasi berdampak pada kerusakan lingkungan dan perubahan kondisi sosial masyarakat, seperti berkurangnya sumber daya alam dan meningkatnya risiko bencana lingkungan. Penelitian ini menunjukkan bahwa permasalahan deforestasi tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama antara masyarakat dan pemerintah untuk menjaga kelestarian lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh deforestasi terhadap kondisi dan tingkat kerusakan jalan di Desa Batu Bangka.
KATA KUNCI : Deforestasi, sosiologi Lingkungan,Masyarakat Desa,Kerusakan Lingkungan,Desa Batu Bangka.
ENVIRONMENTAL SOCIOLOGY ANALYSIS OF THE EFFECT OF ENVIRONMENTAL DEFORESTATION ON ROAD DAMAGE IN BATU BANGKA VILLAGE, MOYO HILIR DISTRICT, SUMBAWA REGENCY
ABSTRACT
Deforestation is a common environmental problem in rural areas, including in Baru Bangka Village, Moyo Hilir District, Sumbawa Regency. This study aims to determine the causes and impacts of deforestation using an environmental sociology approach. The methods used were observation and interviews with local communities. The results indicate that deforestation occurs due to economic needs, agricultural land clearing, and a lack of supervision of forest areas. Deforestation has an impact on environmental damage and changes in social conditions, such as reduced natural resources and increased risk of environmental disasters. This study shows that the problem of deforestation is not only related to the environment, but also to the social and economic conditions of the community. Therefore, a joint effort between the community and the government is needed to maintain environmental sustainability The aim of this study is to determine the effect of deforestation on the condition and level of road damage in Batu Bangka Village..
Keywords: Deforestation,Environmental Siciology,Village Community,Environmental Damage,New Village.New Village of Batu Bangka.
PENDAHULUAN
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, deforestasi adalah aktivitas penebangan hutan. Jadi, aktivitas apa pun yang dilakukan untuk mengurangi jumlah tanaman pada hutan bisa dinamakan deforestasi. Deforestasi lingkungan Adalah proses penggundulan atau hilangnya tutupan hutan secara permanen karena perubahan fungsi lahan karena aktivitas manusia maupun faktor alama, sehingga kawasan hutan berubah fungsi menjadi penggunaan lain seperti pertanian,perkebunan,pemukiman,pertambangan,atau infrastruktur. TanahKita.id mencatat per tahun 2024, luas Perhutanan Sosial di Indonesia mencapai 3 juta hektare, Hutan Adat dengan luas 8 juta hektare, dan usul alokasi lahan untuk program Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) seluas 177.694 hektare.
Dengan total 1,9 juta kilometer persegi luas daratan Indonesia, sekitar 64% wilayahnya yang mencakup hutan di Indonesia telah dibebani oleh izin industri ekstraktif. Manajer Kampanye Hutan dan Kebun Walhi, Uli Arta Siagian merincikan kepada CNN Indonesia bahwa ada 33 juta hektare hutan dibebani izin di sektor kehutanan, lalu 4,5 juta hektare konsesi tambang yang berada atau berbatasan langsung dengan kawasan hutan, dan 7,3 juta hektare hutan sudah dilepaskan sekitar 70% untuk perkebunan sawit.
Deforestasi di Pulau Sumbawa telah mencapai tahap kritis yang mengancam ekosistem dan kehidupan jutaan warga NTB, memerlukan aksi persuasif segera untuk reboisasi dan penegakan huku. Lereng Sumbawa yang hijau kini gundul akibat perladangan jagung liar hingga puncak bukit dan ilegal logging, menyebabkan banjir bandang Januari 2026 menenggelamkan sawah serta serta merusak infrastruktur vital dan menyulitkan aktivitas masyarakat sehari-hari Banjir bandang dari erosi lahan gundul lumpuhkan akses transportasi, petani tak bisa ke sawah, dan ekonomi lokal terhenti.
Di Desa Batu Bangka, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa. Deforestasi lingkungan menjadi masalah yang patut mendapat perhatian. Perubahan fungsi lahan akibat pembukaan hutan untuk pertanian, peternakan maupun kebutuhan permukiman telah menyebabkan kurangnya tutupan pegetasi alami. Kondisi ini berdampak pada menurunnya kualitas lingkungan, meningkatnya resiko erosi,serta terganggu keseimbangan ekosistem yang sebelemnya menjadi penopang kehidupan masyarakat desa.
Melalui analisis sosiologi lingkungan,kajian ini bertujuan untuk memahami faktor faktor sosial yang mendorong terjadinya deforestasi lingkungan di Desa Batu Bangka, serta dampaknya terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat.
Dengan demikian, diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran yang komprehenshif mengenai hubungan antara manusia dan lingkungan, sekaligus menjadi dasar dalam merumuskan upaya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan terkendali.
LANDASAN TEORI DALAM PERSFEKTIF MAX WEBER
Deforestasi lingkungan sebagai tindakan sosial
Menurut max weber,inti dari sosiologi adalah tindakan sosial, yaitu tindakan individu atau kelompok yang memiliki makna subjektif dan diarahkan kepada orang lain. Deforestasi tidak dapat dipahami semata - mata sebagai aktifitas ekologis, melainkan sebagai tindakan sosial yang dilakukan manusia dengan tujuan tertentu,seperti membuka lahan perkebunan, pertanian, pertambangan ,atau pembangunan ekonomi.
Rasonalisai dan ekploitasi alam
Weber menjelaskan bahwa masyarakat modern ditandai oleh proses rasonalisasi, yaitu cara berpikir yang menekankan efisiensi perhitungan, dan keuntungan. Deforestasi sering kali di dorong oleh rasionalitas instrumental dimana alam dipandang sebagai sumber daya yang dapat diekploitasi untuk mencapai tujuan ekonomi dan pembangunan.
Dalam keragka ini, pembngunan jalan dan pembukaan hutan dilakukan dengan logika efisiensi dan percepatan pembangunan, namun sering mengabaikan aspek ekologis. Akibatnya tanahnya menjadi tidak stabil, sehingga mempercepat kerusakan jalan akibat banjir dan longsor.
Otoritas dan peran birokrasi
Max Weber juga menekankan pentingnya otoritas legal-rasional dan birokrasi dalam masyarakat modern. Kebijakan terkait pengelolaan hutan dan pembangunan infrastruktur jalan berada di bawah kewenangan negara melalui sistem birokrasi.
Namun, dalam praktiknya, birokrasi sering kali lebih berfokus pada pencapaian target pembangunan dan kepentingan ekonomi dibandingkan perlindungan lingkungan. Lemahnya pengawasan, tumpang tindih kebijakan, serta izin eksploitasi hutan yang tidak berkelanjutan memperparah deforestasi.Hal ini berdampak langsung pada kerusakan jalan.
Etika tanggung jawab dalam pembangunan
Weber membedakan antara etika keyakinan dan etika tanggung jawab. Dalam konteks deforestasi dan pembangunan infrastruktur, aktor pembangunan sering bertindak berdasarkan keyakinan akan pentingnya pertumbuhan ekonomi, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan masyarakat.Kurangnya etika tanggung jawab menyebabkan keputusan pembangunan jalan di kawasan hutan tidak memperhitungkan risiko ekologis.
Dampak sosial dan lingkungan
Dalam perspektif Weberian, kerusakan jalan akibat deforestasi mencerminkan kegagalan tindakan sosial yang tidak mempertimbangkan makna sosial jangka panjang. Infrastruktur jalan yang rusak menghambat mobilitas masyarakat, distribusi ekonomi, dan akses terhadap layanan publik.Dengan demikian, deforestasi tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga masalah sosial yang berkaitan dengan cara manusia memaknai pembangunan, rasionalitas, dan tanggung jawab sosial dalam mengelola alam.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif,yang betujuan untuk memahami secara mendalam fenomena deforestasi lingkungan dari sudut pandang sosiologi. Lokasi penelitian dilakukan di Desa Batu Bangka, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa, dengan pertimbangan bahwa wilayah tersebut mengalami perubahan tutupan lahan yang berkaitan dengan aktivitas manusia. Subjek penelitian meliputi masyarakat setempat yang terlibat langsung dalam pemanfaatan lahan dan sumber daya alam.
Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa teknik, yaitu observasi langsung untuk mellihat kondisi lingkungan dan aktivitas masyarakat, wawancara mendalam guna memperoleh informasi mengenai kebiasaaan, serta alasan sosial ekonomi yang mendorong terjadinya deforestasi, serta dokumentasi berupa foto dan arsip pendukungyang relevan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif dengan cara mengelompokkan dan menghubungkan data lapangan dengan konsep-konsep sosiologi lingkungan.
Proses analisis ini bertujuan untuk memahami faktor sosial penyebab deforestasi serta dampaknya terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat Desa Batu Bangka.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bentuk dan pola deforestasi di Desa Batu Bangka
Hasil penelitian menunjukkan bahwa deforestasi di Desa Batu Bangka terjadi terutama melalui pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan peternakan, khususnya perladangan jagung, serta perluasan area permukiman. Aktivitas ini dilakukan secara bertahap dan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, ditemukan praktik penebangan pohon tanpa izin (illegal logging) dalam skala kecil hingga menengah yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kayu bangunan dan ekonomi rumah tangga. Pola deforestasi ini bersifat sporadis namun akumulatif, sehingga berdampak signifikan terhadap kondisi lingkungan desa secara keseluruhan.
Faktor sosial dan ekonomi pendorong deforestasi
Hasil wawancara menunjukkan bahwa faktor ekonomi menjadi pendorong utama terjadinya deforestas. Karena keterbatasan lapangan kerja, ketergantungan pada sektor pertanian, serta meningkatnya kebutuhan hidup mendorong masyarakat membuka lahan hutan sebagai alternatif sumber penghidupan. Pertanian jagung dianggap sebagai pilihan paling rasional karena relatif mudah, cepat menghasilkan, dan memiliki pasar yang jelas. Selain faktor ekonomi, terdapat pula faktor sosial dan budaya, seperti kebiasaan turun-temurun dalam membuka lahan baru serta minimnya kesadaran akan dampak ekologis jangka panjang.
Perang otoritas dan lemahnya pengawasan
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa peran birokrasi dan otoritas lokal belum berjalan optimal dalam mengendalikan deforestasi. Sosialisasi terkait aturan pengelolaan hutan masih terbatas, dan pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan cenderung lemah. Terdapat tumpang tindih antara kebutuhan pembangunan desa dan perlindungan lingkungan, yang sering kali berujung pada pembiaran praktik perusakan hutan.
Dampak deforestasi terhadapat lingkungan dan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat
Deforestasi yang terjadi di Desa Batu Bangka berdampak langsung pada meningkatnya risiko erosi, banjir bandang, dan kerusakan infrastruktur, termasuk jalan desa dan lahan pertanian. Hilangnya vegetasi penahan air menyebabkan aliran permukaan meningkat saat musim hujan, sehingga merusak sawah, menghambat akses transportasi, dan menurunkan produktivitas pertanian. Secara sosial ekonomi, kerusakan lingkungan ini mengakibatkan terganggunya aktivitas ekonomi masyarakat, meningkatnya biaya perbaikan infrastruktur, serta menurunnya kualitas hidup.Adapun dampak deforestasi terhadap lingkungan, sosial, dan ekonomi sebagai berikut:
Dampak lingkungan
Hilangnya keanekaragaman hayati (banyak flora dan fauna kehingan habitatnya,bahkan mengalami kepunahan) perubahan iklim (deforestasi meningkatkan emisi gas rumah kaca yang mempercepat pemanasan global), bencana alam (resiko banjir,tanah longsor,dan kekeringan meningkat), Kerusakan siklus air (menyebabkan berkurangnya sumber mata air dan krisis air bersih)
Dampak sosial
Dari aspek sosial, dampak deforestasi juga dirasakan oleh masyarakat yang hidup bergantung pada hutan, terutama masyarakat adat dan komunitas lokal disekitar kawasan hutan. Hilangnya hutan sering kali diikuti oleh konflik lahan,pencemaran air, dan menurunnya akses masyarakat terhadap sumber daya alamyang dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari.
Masyarakat adat di beberapa wilayah di Indonesia mengalami penggusuran akibat konversi lahan hutan menjadi perkebunan besar atau kawasan pertambangan. Fenomena ini memperburuk ketimpangan sosial dan ekonomi di wilayah pedesaan serta memperlemah hak-hak masyarakat adat atas sumber daya alam yang seharusnya mereka miliki (MongabayIndonesia, 2021). Dampak sosial deforestasi:
Hilangnya mata pencaharian masyarakat
Konflik sosial (Pembukaan hutan untuk perkebunan, tambang, atau proyek besar sering memicu konflik antara masyarakat, perusahaan, dan pemerintah akibat perebutan lahan).
Meningkatnya kemiskinan dan urbanisasi (Kehilangan lahan dan pekerjaan memaksa masyarakat desa pindah ke kota, yang sering berujung pada pengangguran dan masalah sosial baru).
Dampak ekonomi
Keuntungan ekonomi jangka pendek (Penebangan kayu, perkebunan sawit, dan pertambangan memang memberikan pendapatan cepat bagi perusahaan dan negara).
Kerugian ekonomi jangka panjang (Banjir, longsor, dan kerusakan lingkungan akibat deforestasi menimbulkan biaya besar untuk perbaikan infrastruktur dan penanggulangan bencana).
Menurunnya prokdutivitas pertanian (Hilangnya hutan menyebabkan tanah menjadi tandus, erosi meningkat, dan hasil pertanian menurun).
Beban ekonomi negara (Pemerintah harus mengeluarkan biaya besar untuk rehabilitasi hutan, bantuan bencana, dan kesehatan masyarakat terdampak).
Etika tanggung jawab dan tantangan pembangunan berkelanjutan
Pembahasan ini menunjukkan bahwa deforestasi di Desa Batu Bangka berkaitan erat dengan minimnya penerapan etika tanggung jawab sebagaimana dikemukakan Max Weber.
Keputusan membuka hutan lebih banyak didasarkan pada keyakinan akan pentingnya pertumbuhan ekonomi, tanpa perhitungan matang terhadap risiko ekologis dan sosial di masa depan. Oleh karena itu, pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan memerlukan perubahan cara pandang masyarakat dan pemerintah desa dalam memaknai pembangunan. Deforestasi tidak hanya perlu dilihat sebagai solusi ekonomi jangka pendek, tetapi sebagai persoalan sosial yang menuntut keseimbangan antara rasionalitas ekonomi, perlindungan lingkungan, dan tanggung jawab sosial.
KESIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa deforestasi di Desa Batu Bangka terjadi terutama melalui pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan peternakan, khususnya perladangan jagung, serta perluasan area permukiman. Aktivitas ini dilakukan secara bertahap dan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Secara sosial ekonomi, kerusakan lingkungan ini mengakibatkan terganggunya aktivitas ekonomi masyarakat, meningkatnya biaya perbaikan infrastruktur, serta menurunnya kualitas hidup. Pembahasan ini menunjukkan bahwa deforestasi di Desa Batu Bangka berkaitan erat dengan minimnya penerapan etika tanggung jawab. Keputusan membuka hutan lebih banyak didasarkan pada keyakinan akan pentingnya pertumbuhan ekonomi, tanpa perhitungan matang terhadap risiko ekologis dan sosial di masa depan. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama antara masyarakat dan pemerintah untuk menjaga kelestarian lingkungan.
DAFTAR REFERENSI
Mutu Institute. (2021, 16 April). Mengenal apa itu deforestasi, penyebab dan solusinya. Mutu
Institute.https://mutuinstitute.com/post/mengenal-apa-itu-deforestasi.
Jurnal Ius Civile (Refleksi Penegakan Hukum dan Keadilan) 6(1), (2022).
Mutu Institute. (2021, 16 April). Mengenal apa itu deforestasi, penyebab dan solusinya. Mutu Institute. https://mutuinstitute.com/post/mengenal-apa-itu-deforestasi/?utm_source=perplexity
Persoalan Deforestasi di Indonesia: Sebuah Polemik Berkelanjutanhttps://walhikalsel.or.id/deforestasi-tidak-pernah-mati/?utm_source=perplexity
What's Your Reaction?