Warna Emosi Pada Remaja
Oleh: Hj. IGA Widari, SE, M.Pd. (Pembantu Ketua II STKIP Paracendekia NW Sumbawa. Ketua Bidang Lingkungan Hidup GOW Kab. Sumbawa)
Akhir-akhir ini kita banyak membaca pemberitaan media cetak dan elektronik tentang remaja dan permasalahannya. Masa remaja tidak akan terulang lagi. Ungkapan itu yang sering kita dengar dari beberapa remaja yang penulis temui. Tentu kehidupan remaja akan terus berlanjut hingga masa dewasa dan tua. Banyak remaja yang salah mengartikan untuk terus bisa mengisi masa-masa ini. Sebelumnya penulis ingin mengemukakan tentang definisi remaja menurut bebarapa ahli.
Remaja menurut Santrock (2012) yang berarti individu yang tumbuh dan berkembang setelah masa anak dan sebelum menjadi dewasa. Sementara, definisi remaja menurut WHO adalah masa pertumbuhan dan perkembangan di mana individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai ia mencapai kematangan seksual. Pada masa ini, individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa. Pada masa ini juga terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang lebih mandiri (Sarlito, 1991: 9).
Menurut Stenberg (2022), remaja terbagi menjadi tiga kelompok yakni remaja awal (11-14 tahun), remaja madya (15-18 tahun) dan remaja akhir (18-21 tahun). Remaja pada perkembangannnya memiliki emosi yang meluap-luap dan kadang kurang bisa dikendalikan. Hal ini terkait dengan adanya perubahan secara fisiologis dan psikologis yang ada dalam diri mereka yang kadang disadari dan di luar kesadarannya. Hal ini disebabkan adanya perubuhan hormon baik itu hormon progesteron pada laki-laki dan estrogen pada perempuan (https/hellosehat.com).
Ilustrasi Emosi Remaja
Emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecendrungan untuk bertindak (Golerman, 2015: 409). Dalam buku psikologi yang ditulis Atkinson (1983), dijelaskan bahwa ada 2 jenis emosi yakni emosi yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Martin (2003) menyatakan bahwa emosi baik atau buruknya itu hanya tergantung pada dampak yang akan ditimbulkan baik bagi diri maupun orang lain di sekitarnya. Ekspresi seseorang dalam mengungkapkan emosinya akan dapat mengurangi perasaan stress dan kegundahan di hatinya. Ada perasaan yang menenangkan ketika seseorang mau mengungkapkan masalah yang dihadapi.
Di era digitalisasi ini, remaja terkadang memiliki perubahan dari sudut perilakunya. Perubahan teknologi yang ada memberi kesan kalau remaja sudah menjadikan teknologi sebagai teman dalam hal belajar dan mempermudah segala urusan hidupnya.
Di satu sisi, kemajuan teknologi membawa keegoisan remaja akan lingkungan sekitarnya. Seperti yang penulis rasakan saat mengajar di kelas, terkadang ada saja mahasiswa yang tidak peduli dengan teman lain yang sedang presentasi. Ada juga yang tidak paham dengan materi yang dibahas saat itu. Seperti sebuah iklan yang pernah penulis dengar di sebuah stasiun TV. Ada seorang anak yang bertanya kepada ibunya tentang cita-cita. Ibu: “Apa cita-citamu nak?” Anak: “Saya ingin jadi HP, Ibu.” Dengan muka penuh tanda tanya si ibupun bertanya lagi: “Mengapa kamu ingin jadi hp?” Anak: “Karena HP, selalu ada bisa menemani saya. Ada di saat saya sedang kesepian dan menjadi solusi di saat saya ada masalah.”
Ini adalah sebuah gambaran minimnya kasih sayang dan perhatian orang tua kepada anaknya.
Semoga anak-anak kita bisa menyadari jika kasih sayang orang tuanya tulus. Sekalipun mereka bekerja, di hati mereka selalu terselip doa untuk kebahagiaan dan kesuksesan anak mereka kelak. Emosi juga ada yang bersifat positif dan negatif. Emosi negatif adalah perasaan tidak menyenangkan, menganggu dan biasanya diekspresikan sebagai bentuk ketidaksukaan seseorang terhadap sesuatu, misalnya cemas, marah, merasa bersalah dan sedih.
Daniel Golamen (2009: 411) mengemukakan beberapa macam emosi negatif yaitu (1) Amarah: beringas, mengamuk, benci, jengkel dan kesal hati, (2) Kesedihan: pedih, sedih, muram dan suram, melankolis, mengsihi diri dan putus asa, dan (3) Rasa takut: cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri.
Sedangkan, emosi positif adalah perasaan ketika kita mengalami sesuatu yang menyenangkan atau membawa dampak positif dalam diri kita. Misalnya, kita merasa bahagia saat mendapat hadiah yang kita mau, merasa lega ketika terhindar dari bahaya, dan merasa bersyukur dengan kondisi yang kita milki.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi emosi anak (Kumparan.com) ada 5 yakni 1) faktor keturunan 2) tingakat kedewasaan, 3) kondisi kesehatan 4) tingkat kecerdasan, 5) contoh dari orang tua.
Dalam faktor keturunan, cara orang tua mengelola emosi dijadikan contoh oleh anak. Ada pepatah yang mengatakan bahwa air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga artinya bahwa apa yang dilakukan orang tua akan menurun pada anaknya. Akan ditemukan kesamaan yang terdapat pada anak dan orang tuanya dalam menunjukkan emosi.
Penulis sudah kemukakan di bagian awal tulisan bahwa usia anak akan mempengaruhi tingkat perkembangan dalm hal ini sisi afektifnya. Selanjutnya, faktor kecerdasan yang dimiliki anak akan berkorelasi positif dengan kadar emosi yang dimiliki anak. Anak yang cerdas akan mampu mengelola emosi dengan baik dan sebaliknya.
Ada beberapa cara mengatasi emosi pada anak menurut beberapa referensi. Menurut Adit (Kompas.com - 09/04/2023), emosi anak dapat dikelola dengan (1) menenangkan diri, dengan cara mengambil posisi duduk, tarik nafas, melalul diafragma, tahan selama 3 detik dan hembuskan secara berulang, (2) mempertimbangkan dampaknya, dengan berpikir terlebih dahulu dampak yang akan terjadi jika emosi sampai tidak bisa dikendalikan, (3) mengekspresikan secara tidak berlebihan, (4) melihat tempat dan waktu yang tepat, (5) berdoa atau mendekatkan diri kepada Tuhan. Cara menahan nafsu amarah menurut Islam dilakukan dengan berwudhu, berzikir dan beristigfar, sholat sunat, mengambil posisi duduk, menjaga lisan dengan diam, dan memahami dan mempraktiikkan hadist menahan marah (https://kumparan.com/hijab-lifestyle).
Semoga anak-anak kita melewati masa remaja mereka dengan bahagia dan dapat mengelola berbagai warna emosi mereka dengan tepat di bawah bimbingan orang tuadan guru yang bijak.
What's Your Reaction?
