Sumbawa Emas 2050 Antara Kekayaan Alam, Kapitalisme, dan Jalan Panjang Menuju Kesejahteraan

amramr
Sep 4, 2026 - 23:15
Sep 4, 2026 - 23:20
 0  46
Sumbawa Emas 2050 Antara Kekayaan Alam, Kapitalisme, dan Jalan Panjang Menuju Kesejahteraan

Sumbawa Emas 2050 ; Antara Kekayaan Alam, Kapitalisme, dan Jalan Panjang Menuju Kesejahteraan

Oleh : Aldiansyah ST (Gentar Alam) 

Ketua Sumbawa green Action

Sumbawa Emas bukan hanya sebatas slogan. Ia harus menjadi cerminan tentang seperti apa Kabupaten Sumbawa 24 tahun ke depan. Ini bukan sekadar kiasan.

Emas yang dimaksud bukan karena Sumbawa memiliki banyak gunung emas.  Bukan pula karena Sumbawa harus dibalut warna kuning sebagai simbol kekuasaan politik masa lalu.

Sumbawa Emas yang sesungguhnya adalah terciptanya masyarakat Sumbawa yang mandiri secara ekonomi, memiliki daya saing, serta pola pikir yang berkemajuan karena ditopang oleh kualitas sumber daya manusia yang memadai.

Hal tersebut bukan sesuatu yang mustahil diwujudkan. Namun, semuanya bergantung pada sejauh mana Pemerintah Kabupaten Sumbawa mampu membaca potensi, mengelola kekayaan alam, dan membangun kebijakan yang benar-benar berpihak kepada masyarakat.

Bali, Lombok, dan Sumbawa: Apa yang Kita Miliki?

Bali dianugerahi bonus geografis yang luar biasa. Keindahan alam, budaya, dan pariwisatanya mampu menjadi mesin ekonomi yang menghidupi masyarakatnya.

Lombok juga demikian. Pulau ini memiliki tanah yang subur dan bentang alam yang luar biasa indah, mulai dari Gunung Rinjani hingga pesona Gili Trawangan dan Gili Air yang mampu menarik wisatawan dari berbagai penjuru dunia.

Lalu, apakah Sumbawa juga dianugerahi kekayaan yang sama? Bisa jadi iya, dan bisa jadi belum. Dikatakan iya karena Sumbawa memiliki pesona alam yang luar biasa. 

Mulai dari Air Mata Jitu hingga Labuhan Jambu, tempat hiu paus bersuka ria dan menjadi salah satu destinasi yang memiliki daya tarik luar biasa.

Namun, harus kita akui bahwa hingga hari ini potensi pariwisata Sumbawa masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Bali dan Lombok.

Sebagai masyarakat Sumbawa, kita tentu tidak boleh berkecil hati.Sebab, Sumbawa memiliki kekayaan lain yang tidak kalah besar: kekayaan alam yang tersimpan di dalam perut bumi.

Sumber daya mineral seperti emas dan tembaga telah membawa industri pertambangan berskala besar ke wilayah Pulau Sumbawa. Bahkan, nilai ekonomi dari aktivitas pertambangan di Sumbawa memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian daerah maupun NTB secara keseluruhan.

Namun, di sinilah pertanyaan besarnya: Apakah masyarakat Sumbawa sudah sejahtera karena kekayaan alam tersebut?

Jawabannya jelas: masih jauh dari kata sejahtera.

Lalu, mengapa daerah yang memiliki kekayaan alam begitu besar belum mampu memberikan kesejahteraan yang sebanding kepada masyarakatnya?

Di sinilah persoalan sesungguhnya dimulai. Sumbawa Emas Membutuhkan Waktu Untuk mencapai kesejahteraan yang benar-benar dirasakan masyarakat, Sumbawa tidak mungkin berubah dalam satu atau dua tahun.

Karena itu, saya membayangkan sebuah perjalanan panjang menuju Sumbawa Emas 2050.

Dua puluh empat tahun bukan waktu yang singkat. Tetapi juga bukan waktu yang terlalu lama jika pemerintah memiliki visi yang jelas, perencanaan yang matang, serta keberanian dalam mengambil kebijakan.

Kabupaten Sumbawa dan Potensi Ekonominya

Kabupaten Sumbawa terletak di bagian barat Pulau Sumbawa, pada sekitar 8°08'–9°07' LS dan 116°42'–118°22' BT.

Kabupaten Sumbawa memiliki luas wilayah daratan sekitar 6.643,98 km², wilayah laut sekitar 4.912,46 km², dengan luas keseluruhan sekitar 11.556,44 km².

Jumlah penduduk Kabupaten Sumbawa diperkirakan mencapai sekitar 543,7 ribu jiwa pada 2025. ( Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Sumbawa Dalam Angka 2025; BPS Provinsi Nusa Tenggara Barat.) 

Sumbawa juga dikenal sebagai daerah agraris. Sebagian besar aktivitas ekonomi masyarakat masih berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam, terutama pertanian, peternakan, perkebunan, dan perikanan.

Pertanian menjadi salah satu sektor penting. Padi dan jagung merupakan komoditas utama, sementara peternakan sapi juga menjadi salah satu kegiatan ekonomi masyarakat. Di wilayah pesisir, masyarakat banyak menggantungkan hidupnya sebagai nelayan. Artinya, Sumbawa sebenarnya memiliki modal ekonomi yang sangat besar.

Persoalannya bukan semata-mata pada ada atau tidaknya sumber daya. Persoalannya adalah bagaimana sumber daya tersebut dikelola agar nilai tambahnya kembali kepada masyarakat Sumbawa.

Ketika Industri Besar Masuk ke Sumbawa

Untuk mencapai Sumbawa Emas 2050, melihat potensi yang ada, cita-cita tersebut bukan sesuatu yang mustahil.

Terlebih lagi, Sumbawa memiliki sumber daya mineral yang besar. Emas, tembaga, dan berbagai mineral lainnya telah menjadi daya tarik bagi investasi berskala besar.

Kehadiran industri pertambangan raksasa di Pulau Sumbawa merupakan fakta yang tidak bisa kita abaikan. Di antaranya terdapat: PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) dengan wilayah IUPK yang mencakup kawasan pertambangan di Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat, termasuk blok Batu Hijau, Elang, Lampui, dan Rinti. Sumber data sumber resmi ESDM secara langsung mengonfirmasi Kepmen No. 414 K/30/MEM/2017 

PT Sumbawa Juta Raya (SJR) dengan wilayah IUP eksplorasi yang berada antara lain di Kecamatan Ropang.

Sumber data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (ESDM/Ditjen Minerba); Minerba One Data Indonesia (MODI); Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat/Dinas ESDM NTB; Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawa;

PT Intam dengan wilayah izin pertambangan yang cukup luas sumber data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (ESDM/Ditjen Minerba); Minerba One Data Indonesia (MODI); Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat/Dinas ESDM NTB; Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawa;

PT Selatan Arc Minerals (SAM) yang juga memiliki wilayah izin pertambangan di Kecamatan Ropang. Sumber data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (ESDM/Ditjen Minerba); Minerba One Data Indonesia (MODI); Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat/Dinas ESDM NTB; Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawa;

Besarnya modal yang masuk ke Sumbawa pada dasarnya memberikan dua kemungkinan: Sumbawa menjadi lebih sejahtera, atau Sumbawa justru menjadi daerah yang kaya sumber daya tetapi miskin secara struktural. Keduanya sangat bergantung pada regulasi, tata kelola, keberpihakan pemerintah, dan kemampuan pemerintah daerah dalam membangun hubungan yang sehat dengan industri.

Jika salah langkah, Sumbawa berpotensi hanya menjadi tempat pengambilan sumber daya. Tetapi jika dikelola dengan bijaksana, Sumbawa dapat menjadi salah satu kabupaten yang memiliki daya saing ekonomi tinggi di Indonesia. Pemerintah Harus Mampu Membaca Peta Ekonomi Pemerintah Kabupaten Sumbawa harus mampu membangun sinergi dengan industri.

Namun sinergi tersebut tidak boleh hanya berbicara mengenai investasi dan tenaga kerja. Pemerintah harus melihat seluruh rantai pasok industri sebagai peluang ekonomi masyarakat lokal.

Jika perusahaan membutuhkan beras dalam jumlah besar, mengapa kebutuhan tersebut tidak dipasok langsung dari petani Sumbawa? Jika perusahaan membutuhkan daging, mengapa tidak dipasok dari peternak Sumbawa?

Jika perusahaan membutuhkan ikan, mengapa tidak dipasok langsung dari nelayan Sumbawa?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut sebenarnya memiliki dampak ekonomi yang sangat besar.

Petani Harus Menjadi Bagian dari Rantai Industri

Dinas Pertanian harus lebih aktif membaca kebutuhan industri. Bukan sekadar memberikan bantuan bibit atau pupuk, tetapi memastikan petani mampu menghasilkan produk dengan kualitas, kuantitas, kontinuitas, dan standar yang sesuai dengan kebutuhan pasar industri.

Pemerintah dapat membangun pola kemitraan antara perusahaan, koperasi, dan kelompok tani. Dengan demikian, perusahaan mendapatkan kepastian pasokan, sementara petani mendapatkan kepastian pasar.

Peternak Juga Harus Mendapatkan Ruang

Hal yang sama harus dilakukan terhadap sektor peternakan. Kebutuhan daging perusahaan seharusnya dapat menjadi pasar yang potensial bagi peternak lokal. Pemerintah melalui dinas terkait harus memastikan peternak memiliki kapasitas produksi, kualitas ternak, standar kesehatan, serta sistem distribusi yang mampu memenuhi kebutuhan industri.

Nelayan Jangan Hanya Menjadi Penonton

Demikian pula dengan sektor perikanan. Jika industri membutuhkan ikan dan hasil laut, maka nelayan Sumbawa harus mendapatkan kesempatan menjadi bagian dari rantai pasok tersebut. Dengan sistem yang tepat, industri tidak hanya menjadi tempat masyarakat mencari pekerjaan. Industri juga dapat menjadi pasar bagi produk masyarakat.

Inilah yang seharusnya menjadi paradigma baru pembangunan Sumbawa.

 Dari Tenaga Kerja Menuju Ekonomi Lokal

Selama ini pembicaraan mengenai manfaat investasi sering berhenti pada satu hal: berapa banyak tenaga kerja lokal yang diserap? Itu penting. Tetapi sesungguhnya belum cukup. Kita harus naik satu tingkat: Berapa banyak uang industri yang berputar dan tinggal di Sumbawa? Inilah pertanyaan yang jauh lebih strategis.

Sebab, kesejahteraan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak orang yang bekerja di perusahaan.

Kesejahteraan juga ditentukan oleh seberapa besar masyarakat lokal menjadi bagian dari rantai ekonomi industri. Petani menjadi pemasok. Peternak menjadi pemasok. Nelayan menjadi pemasok. Pelaku UMKM menjadi penyedia jasa. Pengusaha lokal menjadi kontraktor Pemuda menjadi tenaga kerja terampil. Koperasi menjadi penghubung antara masyarakat dan industri.

Jika seluruh ekosistem ini berjalan, maka investasi tidak hanya menghasilkan angka pertumbuhan ekonomi di atas kertas, tetapi menghasilkan perputaran ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Sumbawa Emas 2050: Kaya Sumber Daya, Kaya Masyarakatnya

Sebesar apa pun investor yang masuk ke Kabupaten Sumbawa, kesejahteraan tidak akan pernah terwujud jika pemerintah buta terhadap pemetaan potensi dan kebutuhan daerah.

Pemerintah tidak boleh hanya menjadi pemberi izin atau penonton ketika industri beroperasi. Pemerintah harus menjadi arsitek pembangunan ekonomi daerah.

Pemerintah harus mengetahui: Apa yang dibutuhkan industri? Apa yang dimiliki masyarakat? Apa yang dapat diproduksi masyarakat? Apa yang harus dipersiapkan pemerintah?

Dan bagaimana seluruh kebutuhan industri tersebut dapat menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat Sumbawa?

Jika pemerintah mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara konkret, maka industri pertambangan tidak lagi hanya menjadi cerita tentang emas yang keluar dari perut bumi.

Emas itu harus berubah menjadi pendidikan yang lebih baik. Emas itu harus berubah menjadi petani yang lebih sejahtera. Emas itu harus berubah menjadi peternak yang memiliki pasar. Emas itu harus berubah menjadi nelayan yang memiliki kepastian pendapatan. Emas itu harus berubah menjadi UMKM yang tumbuh.

Emas itu harus berubah menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Dan pada akhirnya, emas itu harus berubah menjadi kesejahteraan masyarakat Sumbawa.  Itulah makna sesungguhnya dari: SUMBAWA EMAS 2050 Bukan sekadar slogan. Bukan sekadar warna. Bukan sekadar narasi politik.

Tetapi sebuah visi pembangunan yang menjadikan kekayaan alam sebagai jalan menuju kemandirian ekonomi dan kemajuan masyarakat.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukanlah seberapa banyak emas yang berhasil kita keluarkan dari perut bumi.

Ukuran keberhasilannya adalah seberapa besar masyarakat Sumbawa menikmati manfaat dari kekayaan yang Tuhan titipkan di tanah mereka.(AM)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow