Selamat Hari Literasi Internasional Mempromosikan Literasi di Era Digital
Selamat Hari Literasi Internasional, Mempromosikan Literasi di Era Digital
Oleh Sri Asmediati
(Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Labuhan Badas)
UNESCO memperingati Hari Literasi Internasional pada 8 September 2025 dengan tema ‘Mempromosikan Literasi di Era Digital’, seraya mengingatkan dunia akan pentingnya literasi.”
Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan cerminan zaman yang bergerak begitu cepat.
Dunia digital telah mengubah cara manusia membaca, menulis, berkomunikasi, bahkan mencari nafkah. Karena itu, literasi tidak lagi cukup dimaknai sebatas bisa membaca aksara atau menuliskan kata, melainkan juga kemampuan memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi dalam bentuk apa pun, termasuk yang bertebaran di ruang digital.
Sejak pertama kali dideklarasikan UNESCO pada 1965 dan mulai diperingati pada 1967, Hari Literasi Internasional selalu mengingatkan umat manusia akan fondasi peradaban: membaca dan menulis. Tanpa literasi, pengetahuan tidak akan berkembang, peradaban akan terhambat, dan manusia kehilangan arah.
Jika dulu buta huruf dianggap momok besar, kini kita menghadapi tantangan baru: “buta informasi”.
Banyak orang bisa membaca teks, tetapi tidak mampu memahami pesan, apalagi memilah mana informasi yang benar, mana yang salah, dan mana pula yang menyesatkan.
Literasi hadir sebagai jembatan. Ia membuka jalan bagi seseorang untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Orang yang literat bisa membaca petunjuk kesehatan, memahami informasi keuangan, mengikuti perkembangan teknologi, bahkan menimbang pilihan politik dengan lebih rasional.
Lebih dari itu, literasi membentuk daya kritis agar manusia tidak mudah diperdaya oleh hoaks, propaganda, atau jebakan iklan yang menyesatkan.
Literasi menumbuhkan kebiasaan baik: anak-anak yang dibiasakan membaca cerita sebelum tidur akan tumbuh dengan imajinasi dan rasa ingin tahu yang besar. Di masyarakat, literasi menciptakan kohesi sosial karena percakapan publik tidak berhenti pada gosip dangkal, melainkan bergerak pada diskusi yang lebih bermakna.
Tujuan literasi, pada hakikatnya, adalah pemberdayaan. Dengan literasi, manusia memiliki daya untuk mengubah hidupnya sendiri. Literasi membekali keterampilan dasar agar seseorang dapat beradaptasi dengan perubahan zaman, sekaligus mengurangi kesenjangan sosial-ekonomi.
Literasi membuat orang tidak hanya pintar mencari nafkah, tetapi juga cerdas memahami jati dirinya, budaya, dan warisan pengetahuan bangsanya. Maka, literasi bukan sekadar keahlian teknis, melainkan fondasi identitas sekaligus daya saing suatu bangsa.
Mengembangkan literasi tentu tidak bisa dilakukan sekali waktu. Ia adalah kerja panjang yang menuntut kolaborasi.
Era digital memang menawarkan peluang besar untuk mempromosikan literasi. Pengetahuan dapat tersebar dengan cepat dan melampaui batas ruang. Namun, promosi literasi di era ini tidak cukup sekadar mengunggah teks atau menyebar tautan bacaan. Yang lebih penting adalah menumbuhkan keterampilan kritis agar orang mampu menyaring informasi, memilih yang bermanfaat, dan menggunakannya untuk kehidupan nyata.
Literasi digital bukan hanya kemampuan membuka laman internet, melainkan juga memahami etika berkomunikasi, menjaga privasi, menghargai hak cipta, serta menghindari perilaku destruktif di ruang maya.
Akan tetapi, peluang besar itu diiringi tantangan yang tak kecil. Informasi di dunia digital datang seperti banjir bandang: deras, melimpah, dan sering kali bercampur antara fakta dan kebohongan.
Budaya instan yang digemari generasi gawai membuat banyak orang lebih suka menonton video singkat ketimbang membaca teks panjang.
Di sisi lain, kesenjangan teknologi masih terjadi: ada daerah yang warganya belum punya akses internet memadai, padahal dunia luar sudah bergerak dengan cepat. Bahkan, mereka yang terhubung pun belum tentu memiliki kesadaran kritis. Banyak yang dengan mudah menyebarkan kabar palsu atau ujaran kebencian tanpa sempat menimbang dampaknya.
Tantangan-tantangan ini menegaskan bahwa literasi digital tidak bisa ditunda, karena tanpa kecakapan itu, masyarakat mudah terjebak dalam arus informasi yang menyesatkan.
Meski begitu, era digital juga membuka pintu baru menuju kesejahteraan. Literasi, bila dipadukan dengan keterampilan digital, dapat menjadi modal ekonomi yang nyata. Penulis, desainer, musisi, atau pembuat konten bisa memasarkan karyanya ke seluruh dunia lewat platform digital. Wirausaha lokal bisa memperluas jangkauan dagangannya dengan membuka toko online. Seorang guru atau ahli dapat membagikan pengetahuan melalui kursus daring dan memperoleh penghasilan tambahan. Bahkan, literasi finansial yang dipadukan dengan literasi digital membantu orang memahami seluk-beluk investasi modern, dari saham online hingga teknologi finansial.
Di titik ini, literasi benar-benar menjadi jembatan menuju kesejahteraan: bukan hanya dalam arti pengetahuan, tetapi juga kehidupan yang lebih layak secara ekonomi.
Karena itu, merayakan Hari Literasi Internasional bukan hanya seremoni tahunan, melainkan pengingat untuk bekerja lebih keras. Literasi harus hidup dalam keseharian: ketika orang tua mendongengkan cerita rakyat kepada anaknya, ketika seorang siswa menuliskan refleksi di blog pribadinya, ketika seorang petani mencari informasi tentang pupuk organik lewat internet, hingga ketika seorang wirausaha kecil memasarkan produknya melalui media sosial. Semua itu adalah bentuk literasi.
Tema “Mempromosikan Literasi di Era Digital” memberi kita arah. Literasi adalah fondasi, dan digital adalah medium baru. Bila keduanya berpadu, masyarakat tidak hanya cerdas dan kritis, tetapi juga produktif dan sejahtera.
Tantangan memang besar, tetapi peluang jauh lebih luas.
Masa depan bangsa akan ditentukan oleh sejauh mana kita mampu menumbuhkan literasi di tengah derasnya arus teknologi. Dan literasi, sebagaimana yang terus diingatkan UNESCO sejak puluhan tahun lampau tetap menjadi kunci bagi dunia yang lebih adil, lebih berpengetahuan, dan lebih manusiawi. (AM)
What's Your Reaction?
