Movie at the Museum Bala Datu Ranga Dimulai, Dua Film Sineas Muda Sumbawa Buka Tirai Pengetahuan Lokal
Movie at the Museum Bala Datu Ranga Dimulai, Dua Film Sineas Muda Sumbawa Buka Tirai Pengetahuan Lokal
Sumbawa Besar,Amarmedia.co.id — Program publik "Movie at the Museum" resmi mengawali putaran perdananya di Pelataran Ekspresi Budaya Museum Bala Datu Ranga pada Senin malam 23 Juni 2025. Sekitar 60 warga Kelurahan Pekat, termasuk siswa dan mahasiswa, antusias memadati area pemutaran yang dimulai sekitar pukul 19.45 WITA. Suasana santai dan kekeluargaan terpancar dengan sajian cemilan rebusan seperti kacang, pisang, dan ubi yang disediakan panitia.
Program perdana ini menayangkan dua film dokumenter pendek karya sineas muda berbakat Sumbawa: "Ano Bulan Balong" yang disutradarai oleh Galih Saesar Wicaksono dan "Baseme" karya Indri Ardianti. Kedua sutradara pemula ini merupakan pemenang kompetisi film pelajar dan kompetisi ide mahasiswa dalam Festival Film Sumbawa #4: Kearifan Lokal dan Perubahan Iklim yang diselenggarakan oleh Komunitas Sumbawa Cinema Society (SCS) pada tahun 2023. Museum Bala Datu Ranga memang menggandeng SCS, komunitas film pertama di Pulau Sumbawa, sebagai programmer untuk inisiatif ini.
Meningkatkan Pemahaman Budaya Melalui Sinema
"Movie at the Museum (MatM)" merupakan program publik Museum Bala Datu Ranga yang dirancang untuk melestarikan nilai-nilai budaya lokal Tau ke Tana Samawa (masyarakat Sumbawa) melalui medium film. Film-film yang diputar memiliki kaitan erat dengan warisan budaya, baik Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), cagar budaya, maupun koleksi museum.
Melalui pendekatan sinematik, program ini mengajak penonton untuk belajar dengan cara yang menyenangkan, sekaligus mendengarkan pengalaman dari narasumber, baik pakar maupun pembuat film. Film yang diseleksi telah melewati pertimbangan nilai edukatif, artistik, dan relevansinya dengan konteks budaya lokal. Movie at the Museum #1 sendiri mengangkat topik "Pengetahuan Lokal Masyarakat Sumbawa".
Diskusi Hangat Menggali Kearifan Lokal
Pemutaran film dikemas dengan metode santai dan kekeluargaan. Setelah pemutaran "Ano Bulan Balong" dan "Baseme", sesi diskusi dipandu oleh moderator dari warga Kelurahan Pekat sendiri, menciptakan suasana obrolan yang akrab tanpa sekat. Diskusi berlangsung seru, diwarnai pertanyaan audiens seputar proses kreatif, motivasi terbesar, hingga pesan yang ingin disampaikan oleh sutradara.
Galih Saesar Wicaksono, sutradara "Ano Bulan Balong" yang baru saja diterima di Fakultas Seni Media Rekam, Jurusan Film dan Televisi, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, berbagi antusiasme tentang film debutannya. Ia mengungkapkan bahwa motivasinya membuat film tentang kearifan lokal berakar dari pengalamannya sendiri terhadap kekayaan pengetahuan lokal Tau Samawa, terutama mengenai kalender tanam yang menjadi pegangan petani dalam mengamati musim.
"Saya selalu berpikir potensi Sumbawa masih sangat banyak yang bisa dijadikan ide untuk film," ujar Galih. Ia berharap film ini menjadi pembuka jalan baginya untuk menimba ilmu lebih banyak di Yogyakarta dan belajar dari para sutradara besar. "Saya berterima kasih pada Bu Yuli Andari dan Pak Anton Susilo yang telah menginspirasi saya untuk mencintai dan menggeluti film," pungkasnya.
Program "Movie at the Museum" #1 berakhir sekitar pukul 23.30 WITA, meninggalkan kesan mendalam dan inspirasi bagi para penonton untuk lebih memahami dan mencintai warisan budaya lokal mereka.(AM)
What's Your Reaction?
