Mengapa Pegiat Literasi Harus Menulis?
Mengapa Pegiat Literasi Harus Menulis?
Oleh: Sri Asmediati, S. Pd
Pegiat literasi adalah agen perubahan yang berusaha menumbuhkan ekosistem literasi di masyarakat. Di dalam peran itu, menulis menjadi bagian yang tak kalah penting dari membaca. Seorang pegiat literasi sebaiknya tidak hanya mendorong orang lain membaca, tetapi juga menjadi teladan dalam menulis.
Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, getol mengkampanyekan “Membaca itu sehat, menulis itu hebat.” Tagline ini mengandung pesan yang dalam. Membaca memang membuat pikiran segar, terbuka, dan kaya informasi. Namun, menulislah yang menjadikan seseorang mampu mengolah, meramu, serta membagikan kembali pengetahuan serta pengalaman dari kerja-kerja literasi yang dilakukannya kepada orang lain.
Maka, pegiat literasi yang berhenti pada aktivitas membaca atau mendorong orang membaca, sejatinya belum menuntaskan tanggung jawab literasinya. Ia juga harus menulis.
Siapa itu pegiat literasi?
Pegiat literasi adalah individu atau kelompok yang mendedikasikan dirinya dalam upaya meningkatkan kemampuan dan kesadaran literasi masyarakat. Mereka bisa berupa guru, pustakawan, relawan, penulis, mahasiswa, atau siapa saja yang aktif memajukan kegiatan literasi. Ada pegiat literasi yang membangun rumah baca di kampung, ada yang mengelola pojok baca di sekolah, ada pula yang menggerakkan gerakan donasi buku—termasuk para pengambil kebijakan di instansi pemerintah yang peduli literasi. Mereka memiliki satu tujuan mendekatkan masyarakat dengan bacaan dan membangun budaya literasi.
Namun, kiprah mereka tidak boleh berhenti pada pengelolaan buku atau program baca. Pegiat literasi sejatinya adalah teladan dalam gerakan yang dilakukannya. Jika mereka mengajak anak-anak membaca, maka sejatinya mereka sendiri harus juga membaca. Jika mereka mendorong masyarakat menulis, maka mereka sendiri harus juga menulis. Sebab, keteladanan adalah bahasa paling meyakinkan dalam gerakan literasi.
Dalam kajian bahasa, terdapat empat keterampilan dasar yang saling terkait: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat kemampuan ini membentuk pondasi utama dalam proses literasi. Menyimak dan berbicara berhubungan dengan komunikasi lisan, sementara membaca dan menulis menjadi inti komunikasi tulis.
Seorang pegiat literasi tentu sering mengajak orang lain untuk membaca. Membaca adalah jendela untuk mengenal dunia, memperluas wawasan, dan menumbuhkan empati. Tetapi, literasi tidak berhenti pada membaca. Menulis adalah bentuk pengolahan sekaligus ekspresi dari apa yang dibaca. Dengan menulis, seseorang menguji kembali pemahamannya, menyusun gagasannya, dan melahirkan karya yang bisa diwariskan.
Oleh karena itu, pegiat literasi tidak cukup hanya menekankan satu pondasi, yakni membaca. Mereka juga harus membangun pondasi menulis. Ketika dua pondasi ini kokoh, barulah literasi dapat dikembangkan ke tingkatan yang lebih tinggi: literasi digital, literasi finansial, literasi sains, hingga literasi budaya. Menulis menjadi pintu gerbang untuk masuk ke ranah literasi yang lebih luas.
Mengapa menulis penting bagi seorang pegiat literasi?
Menulis adalah bentuk keteladanan. Anak-anak, remaja, atau masyarakat yang didampingi akan lebih termotivasi jika melihat pegiat literasi yang mereka hormati aktif menulis di media massa atau menerbitkan buku. Mereka akan memahami bahwa menulis bukan sekadar teori, tetapi praktik nyata yang bisa dilakukan.
Menulis adalah dokumentasi perjuangan. Setiap program literasi yang dilakukan akan hilang ditelan waktu jika tidak dituliskan. Dengan menulis, pegiat literasi mengabadikan pengalaman, strategi, dan cerita inspiratif yang kelak bisa menjadi panduan bagi orang lain.
Selain itu, menulis juga bentuk distribusi pengetahuan. Tidak semua orang bisa hadir di perpustakaan komunitas atau mengikuti program literasi secara langsung. Tetapi, ketika pegiat literasi menuliskan gagasannya dalam bentuk artikel atau buku, maka gagasan itu dapat menjangkau khalayak yang lebih luas.
Menulis adalah ruang refleksi. Pegiat literasi yang menulis akan terbiasa merenungkan kembali apa yang sudah dilakukan. Dari tulisan, ia bisa melihat kekuatan, kelemahan, dan peluang perbaikan dalam gerakan literasi yang ia jalankan.
Dalam pemahaman yang lebih luas, literasi bukan sekadar kemampuan teknis membaca dan menulis, tetapi juga kesadaran kritis untuk memperbaiki kualitas hidup. Pegiat literasi, dengan segala kiprahnya, memikul tanggung jawab moral untuk menyebarkan pengetahuan dan inspirasi. Menulis adalah cara paling kuat untuk memenuhi tanggung jawab itu.
Melalui tulisan, pegiat literasi bisa membangun opini publik, menyuarakan kebutuhan masyarakat terhadap akses bacaan, atau memperjuangkan hak-hak pendidikan. Tulisan mereka bisa menggugah pembuat kebijakan, bisa menggerakkan donatur, bisa menginspirasi masyarakat, bahkan bisa membangkitkan semangat anak-anak yang sedang berjuang menempuh pendidikan.
Bayangkan, betapa dahsyatnya jika setiap pegiat literasi di seluruh pelosok negeri tidak hanya mengelola buku, tetapi juga menulis. Indonesia akan dipenuhi dengan kisah-kisah inspiratif, catatan perjuangan, dan gagasan-gagasan segar yang bisa menjadi energi bersama dalam gerakan literasi nasional.
Seorang pegiat literasi adalah teladan, bukan sekadar penyelenggara kegiatan. Ia tidak cukup hanya menyerukan membaca, tetapi juga harus menulis. Karena benar, membaca itu sehat, menulis itu hebat. Dengan membaca, kita memperkaya diri; dengan menulis, kita memperkaya orang lain.
Jika pondasi membaca dan menulis sudah kokoh, barulah kuatkan langkah lebih jauh ke tingkatan literasi lain. Maka, mari dorong para pegiat literasi di manapun berada untuk berani menulis: menulis artikel, menulis esai, menulis fiksi, menulis buku, menulis apa saja yang bisa menjadi warisan intelektual bagi masyarakat.
Pegiat literasi yang menulis sejatinya menjelma cahaya ganda. Ia ibarat menjadi lilin yang menuntun masyarakat dalam keseharian melalui bacaan, sekaligus menjadi bola lampu dengan ribuan megawatt yang menyalakan ingatan kolektif bangsa lewat tulisan. Lilin memberi terang bagi yang dekat, tetapi bola lampu menembus jauh, meninggalkan jejak yang tak mudah padam oleh waktu. Dari tulisan-tulisan itulah, gerakan literasi tidak hanya hadir sesaat, melainkan terus berdenyut, diwariskan, dan menginspirasi lintas generasi. (AM)
What's Your Reaction?
