Mahasiswa Program Merdeka UTS Beraksi: Revitalisasi Mangrove di Pulau Namo Gili Balu, Wujudkan Konservasi Berbasis Partisipasi
Mahasiswa Program Merdeka UTS Beraksi: Revitalisasi Mangrove di Pulau Namo Gili Balu, Wujudkan Konservasi Berbasis Partisipasi
Sumbawa Barat, NTB.Amaredia.co.id –Sejumlah mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) yang tergabung dalam Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) menunjukkan komitmen nyata dalam pelestarian lingkungan pesisir. Mereka menginisiasi kegiatan rehabilitasi mangrove di Pulau Namo, bagian dari gugusan Gili Balu, Desa Poto Tano, Nusa Tenggara Barat. Kegiatan ini berfokus pada pembersihan area pesisir dan pembibitan mangrove, sebagai langkah awal menuju penanaman massal yang berkelanjutan.
Tim mahasiswa yang terdiri dari Bayu Syakiran, Nurhikmah Putri Wijaya, Laila Riskiani, Dina Nidia, Riski Ananda, Arifin Nuryanto, Jesika Aprilestari, Gustina, Samarlinda, Veri Irshapratama, Syaiful Wathoni, Muhammad Ardiansyah, Rizki Ananda Putra, dan Eka Apriwijaya, berasal dari Fakultas Teknologi Lingkungan dan Mineral, Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, serta Fakultas Ilmu dan Teknologi Hayati. Kolaborasi lintas disiplin ilmu ini memperkuat pendekatan holistik dalam upaya konservasi.
Dari Bersih-Bersih Hingga Pembibitan: Langkah Awal Menjaga Ekosistem Krusial
Pulau Namo, atau yang juga dikenal sebagai Pulau Nyamuk, memiliki luas sekitar 190,90 hektar dengan potensi ekosistem mangrove dan terumbu karang yang melimpah. Hutan mangrove sendiri memiliki peran vital sebagai pelindung alami garis pantai dari abrasi dan erosi, serta menjadi habitat penting bagi beragam biota laut.
Kepada awak media Selasa 15 Juli 2025, perwakilan tim peneliti Bayu Syakiran dari Program Studi Teknik Pertambangan menjelaskan bahwa kegiatan rehabilitasi ini dilaksanakan dalam dua tahap utama pada Kamis, 3 Juli 2025. "Tahap pertama adalah pembersihan area pesisir dari sampah plastik, ranting, dan limbah lainnya. Pembersihan dilakukan secara manual dengan panduan dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Poto Tano. Sampah organik dan anorganik dipilah untuk penanganan lebih lanjut guna memastikan lingkungan pesisir benar-benar bersih dan siap untuk penanaman" urainya.
Kemudian lanjutnya, Tahap kedua adalah pembibitan mangrove. Mahasiswa mengumpulkan propagul (bakal bibit) dari pohon mangrove induk di sekitar pesisir. Propagul ini kemudian ditanam dalam polybag dan dirawat di rumah bibit yang disiapkan bersama warga. Bibit akan dipelihara hingga mencapai usia dan kondisi yang layak untuk ditanam di lokasi permanen.
Meskipun penanaman langsung belum dilakukan karena masih pembibitan, tim telah menyusun strategi tanam yang matang. Penentuan lokasi penanaman akan mempertimbangkan zonasi alami habitat mangrove, seperti penempatan Rhizophora stylosa di garis depan karena akarnya yang kuat dan tahan abrasi, sementara jenis lain seperti Bruguiera gymnorhiza, Ceriops tagal, dan Aegiceras floridum akan ditempatkan di zona yang sesuai dengan karakteristiknya. "Waktu penanaman juga akan disesuaikan dengan kondisi pasang surut air laut untuk mengoptimalkan keberhasilan tumbuh" ujarnya.
Identifikasi 18 Jenis Mangrove dan Manfaatnya
Sebagai bagian integral dari upaya konservasi, tim mahasiswa juga melakukan pendataan jenis-jenis mangrove di gugusan Gili Balu. Berdasarkan observasi dan literatur ilmiah, teridentifikasi setidaknya 18 jenis mangrove yang tumbuh di area tersebut. Setiap jenis memiliki ciri khas serta manfaat ekologis dan ekonomis yang beragam.
Beberapa jenis mangrove yang teridentifikasi antara lain Rhizophora stylosa (kaya antioksidan, berpotensi obat), Rhizophora apiculata (mencegah erosi dan menyimpan karbon), Bruguiera gymnorhiza (potensi agrokimia dan obat), dan Avicennia marina (bahan makanan, pengawet, hingga obat-obatan). Keberadaan beragam jenis mangrove ini menunjukkan kekayaan ekosistem pesisir Pulau Namo yang patut dijaga.
Sinergi untuk Konservasi Berkelanjutan
Kegiatan rehabilitasi ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memperkuat kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, Pokdarwis, dan pemerintah desa. Keterlibatan aktif generasi muda ini diharapkan dapat membangun kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian kawasan pesisir secara berkelanjutan.
"Keterlibatan generasi muda memiliki peran strategis dalam upaya konservasi lingkungan," ujar Wakil Ketua Pokdarwis Poto Poto Rudini. Mereka berharap, pendekatan berbasis partisipasi masyarakat ini dapat menjadi model konservasi mangrove yang inspiratif dan dapat direplikasi di wilayah pesisir lainnya di Indonesia.
Tim peneliti menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Rudini (Wakil Ketua Pokdarwis), Bapak Amirudin (Anggota Pokdarwis), serta seluruh anggota Pokdarwis Desa Poto Tano atas bimbingan dan dukungan yang berharga. Apresiasi juga disampaikan kepada seluruh rekan dan teman-teman yang telah berkontribusi dalam kegiatan ini. (AM)
What's Your Reaction?
