Ramadhan Tamu Agung Yang Didambakan

Oleh : Edy Kurniawansyah (Dosen FKIP UNRAM, Sekretaris Umum KNPI NTB & Wakil Ketua PWPM NTB)

Mar 10, 2024 - 00:47
 0  167
Ramadhan Tamu Agung Yang Didambakan

Ramadhan Tamu Agung Yang Didambakan

Oleh : Edy Kurniawansyah

(Dosen FKIP UNRAM, Sekretaris Umum KNPI NTB & Wakil Ketua PWPM NTB)

Amarmedia.co.id - Sungguh tidak terasa, waktu bergulir begitu cepat, ucapan Alhamdulillah, Marhaban Yaa Ramadhan itulah lantunan kata yang paling pas dan tepat diucapkan karena ini merupakan salah satu bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT, sudah sebelas bulan lamanya kita semua terutama ummat islam menahan rasa rindu yang mendalam, menanti kedatangan sang tamu agung yang mulia didambakan, dimana dia merupakan tamu khusus (spesial) bagi kaum muslimin dimanapun berada.

Dikatakan khusus atau special karena didalam dia mengandung berkah, rahmat dan maghfirah serta memiliki keutamaan-keutamaan yang begitu dahsyad, dia sangat luar biasa, inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafas menjadi tasbih, tidur menjadi ibadah, amal-amal diterima dan doa-doa diijabah, itulah yang disebut dengan bulan suci Ramadhan.

Pada detik-detik saat menjelang kehadiran Ramadhan, kebanyakan dari kita seringkali melakukan berbagai aktivitas atau kegiatan seremonial dan acara-acara keagamaan untuk menyambut kedatangan serta kehadiran bulan Ramadhan atau itulah yang biasa kita kenal dengan sebuah istilah Tarhib Ramadhan alias menyambut Ramadhan.

 

Istilah tarhib itu sendiri yang dalam bahasa Indonesia diartikan dengan "menyambut" memiliki makna filosofis yang cukup dalam. Ramadhan yang kita sambut ini berarti sesuatu yang memang kita tunggu-tunggu serta dinantikan kehadirannya. Kegiatan ini dimanfaatkan sebagai ajang untuk bermuhasabah, introspeksi diri atau berbenah diri dan membersihkan hati dari segala kotoran-kotoran yang pernah dilakoni selama ini serta yang paling penting adalah memperkuat dan mempererat kembali tali silahturahim, ukhuwah kita antara sesama manusia yang telah retak,atau bahkan telah rapuh dan sirna.

Kemantapan hati kita dalam menyambut bulan suci Ramadhan akan terpancar lebih indah jika kemudian dicerminkan dari hati yang suci nan bersih. Itulah sebabnya kita melakukan kesiapan dan persiapan baik fisik maupun mentalitas dalam menyongsong bulan puasa selama satu bulan penuh. 

Penyambutan bulan suci Ramadhan tidak hanya dilakoni dengan sekadar mengungkapkan rasa bahagia atau gembira  secara formalitas saja, akan tetapi  dengan persiapan yang matang baik secara fisik dan mental agar kita semua sehat serta kuat dalam melaksanakan ibadah selama satu bulan penuh, dan kita harus memasifkan syiar gerakan fastabiqul khairat.

Bulan Ramadhan dapat dikatakan sebagai Syahrut Tarbiyah atau Bulan Pendidikan. Dimana pada bulan ini, kita dituntut untuk menjaga kesehatan tubuh dengan makan secara teratur, melatih kita untuk lebih disiplin, mengatur serta memiliki manajemen waktu yang baik atau dengan kata lain, kita diajarkan memainkan formasi waktu dengan sebaik-baiknya seperti kapan waktu makan, kapan waktu bekerja, kapan waktu istirahat dan kapan waktu ibadah dan lain-lain. Jadi, pendidikan itu berhubungan langsung dengan penataan kembali kehidupan kita di segala bidang. Namun ujian yang paling berat adalah berjihad melawan hawa nafsu sendiri. Karenanya bulan Ramadhan sering disebut sebagai Syahrul Jihad dengan fokus pada pengendalian hawa nafsu diri sendiri. 

Jihad melawan nafsu tersebut dimaksudkan adalah untuk menyucikan dan memurnikan nafsu kita untuk kembali semurni-murninya, yaitu dalam keadaan fitri. Ungkapan ini sebenarnya berasal dari firman Allah dalam QS 91:7-10 dan beberapa ayat lainnya yang berbunyi senada yaitu menyucikan jiwa. Menyucikan Jiwa adalah syarat yang mengiringi proses awal penerimaan wahyu yaitu IQRA (simak QS 96:1-5). Hal ini tentu erat kaitannya dengan buah dari pendidikan jiwa secara intelektual murni (atau intelek awal), dengan rasionalitas dan penyingkapan tabir-tabir gelap jiwa kita yang sejatinya “Ummi” dan “Fakir” di hadapan Allah, Rabbul ‘Aalamin (Pencipta, dan Pemelihara serta Pendidik semua makhlukNya).

Sangat tepat jika kemudian dikatakan bahwa bulan Ramadhan sebagai bulan mulia karena pada bulan ini juga diturunkannya Al Qur’an, dimana kita ketahui bahwa Al Qur’an sebagai petunjuk, panduan serta pedoman murni hidup manusia sebagai pembeda antara yang Haq dan yang Bathil.

Oleh karenanya, Al Qur’an tidak hanya sekedar dipajang sebagai perhiasan, tontonan atau pelengkap lemari perpustakaan saja. Akan tetapi, Al Qur’an harus dibaca, ditaburi, dimaknai serta diimplementasikan makna-makna suci yang terkandung didalamnya untuk melakoni berbagai siklus kehidupan di dunia yang fana ini. Hal ini disebutkan dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 185 yang artinya: "bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu...". 

Ibadah puasa merupakan suatu kewajiban bagi ummat islam yang harus dijalankan. Karena didalamnya ada satu orientasi yang sangat urgen dan esensial serta memiliki nilai substansial yaitu bagaimana kita menggapai titel termahal atau tiket yang sangat mulia dan berharga bagi kita semua yaitu yang disebut dengan TAQWA. Mengapa?, jawabannya karena puasa itu merupakan salah satu sebab terbesar menuju ketaqwaan. Hal ini sebagaimana Allah menjelaskan melalui ayat popular dalam Al Qur’an yang tidak asing lagi kita dengar yaitu: “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS. Al Baqarah 183).

Puasa memiliki relevansi khusus dengan ketakwaan karena orang yang berpuasa telah melaksanakan perintah Allah dan berusaha untuk kemudian menjauhi larangannya.

Adapun keterkaitan yang lebih luas antara puasa dan ketaqwaan adalah sebagai berikut: (1). Orang yang berpuasa menjauhkan diri dari yang diharamkan oleh Allah berupa makan, minum jima’ dan semisalnya. Padahal jiwa manusia memiliki kecenderungan kepada semua itu. Ia meninggalkan semua itu demi mendekatkan diri kepada Allah, dan mengharap pahala dari-Nya. Ini semua merupakan bentuk taqwa. (2). Orang yang berpuasa melatih dirinya untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan menjauhi hal-hal yang disukai oleh nafsunya, padahal sebetulnya ia mampu untuk makan, minum atau berjima' tanpa diketahui orang, namun ia meninggalkannya karena sadar bahwa Allah mengawasinya. (3).Puasa itu mempersempit gerak setan dalam aliran darah manusia, sehingga pengaruh setan melemah. Akibatnya maksiat dapat dikurangi. (4). Puasa itu secara umum dapat memperbanyak ketaatan kepada Allah, dan ini merupakan tabiat orang yang bertaqwa. (5). Dengan puasa, orang kaya merasakan perihnya rasa lapar. Sehingga ia akan lebih peduli kepada orang-orang faqir yang kekurangan. Dan ini juga merupakan tabiat orang yang bertaqwa”. 

Sebaiknya sebagai insan yang sadar dan normal penting kemudian kiranya kita memperbanyak amalan-amalan ibadah baik wajib maupun sunnah di bulan yang penuh barkah ini dan perlu diingat bahwa di dalam bulan yang suci ini, terdapat satu malam yang sangat luar biasa dan bahkan dia lebih baik dari seribu bulan “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr 1-3). 

Selain itu, dipertegas dalam sabda Rasulullah SAW yaitu: "Dulu, Nabi saw selalu bersungguh-sungguh (ibadah) di bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di bulan lain. Dan di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, juga melebihi hari-hari selainnya." (HR. Muslim).

Maka dengan demikian, Mudah-mudahan melalui momentum Ramadhan ini, semangat beribadah terus kita tingkatkan dan semoga kita semua diberikan kemudahan untuk mencapai derajat Taqwa. Amiin.(Am)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow