Mendorong Sahril Mengisi "Ruang Kosong" PDI-P di Pilbup Sumbawa
Mendorong Sahril Mengisi "Ruang Kosong" PDI-P di Pilbup Sumbawa
Oleh : Didin Maninggara
Dinamika politik internal di PDI-P memunculkan fenomena menarik, seiring kabar menguatnya nama Sahril digadang-gadang maju pada Pilbup Sumbawa. Saat bersamaan PDI-P tidak merestui Abdul Rafiq karena alasan peraturan partai. Dengan bahasa lain, proses pencalonan Rafiq harus menempuh jalan panjang melalui survei dan mekanisme lainnya secara internal partai. Hal itu dibenarkan Rafiq melalui pesan WA kepada saya, dua hari lalu.
"Masih panjang kanda karena harus melalui survei," jawaban Rafiq ketika saya tanya tentang perkembangan maju di Pilbup sebagai bakal calon Wabup mendampingi petahana Mahmud Abdullah.
Di tengah dinamika itu, nongol prediksi bahwa pencalonan Rafiq yang Ketua PDI-P Sumbawa sedang berada di simpang jalan. Muncul pula penilaian dari sisi komunikasi politik, bahwa fenomena ini menunjukkan betapa Sahril yang ASN memiliki pendukung yang cukup baik. Bahkan solid. Ada dorongan kekuatan yang bisa jadi, datang dari elit pusat PDI-P memberi motivasi untuk ikut kontestasi ini. Sebuah hal yang lumrah dalam demokrasi, sekaligus amanat konstitusi. Bahwa setiap warga negara memiliki hak dipilih dan memilih. Ada ruang berkontestasi di dalamnya. Dan, ruang itu tersedia di PDI-P, meski Sahril bukan kader.
Saya yang sudah terbiasa mengelola dinamika politik dalam tulisan lantaran cukup lama bergelut dengan liputan-liputan politik sejak awal menjadi jurnalis Koran PELITA di ibu kota pada Juli 1979, mengamati dari jarak dekat bahwa Sahril memiliki kemampuan siap tarung dalam kontestasi politik.
Dalam politik, tidak ada yang mustahil ketika ruang tersedia. Dan ruang untuknya bertarung dalam Pilbup Sumbawa semakin mendapat apresiasi.
Sahril pun tak menampik jika ada sejumlah kalangan yang mendorongnya. Tentu dengan konsekuensi, ia harus tunjukkan sikap berani untuk mundur dari ASN. Sebab sesungguhnya, hal tersebut menunjukkan sikap politik yang sehat.
Jika pada kenyataannya nanti Sahril resmi mengantongi restu dari DPP PDI-P, dan siap bertarung di Pilbup, maka bisa jadi dirinya adalah contoh nyata dari resiliensi. Yakni, kemampuan bangkit dari hal yang mustahil lantaran dirinya bukan politisi, apalagi kader partai itu. Ia hanya seorang birokrat karir di Pemkab Sumbawa, dengan jabatan saat ini Kepala Dinas Arsipda.
Bahwa kehadiran Sahril meramaikan bursa Pilbup di Kabupaten Sumbawa, bisa jadi pula menunjukkan ketangguhan mental dan komitmennya terhadap tujuan politik, yang di antaranya mempersiapkan pemimpin.
Dan pada saat yang sama, juga menunjukkan betapa Sahril memiliki motivasi berprestasi yang kuat, yang mendorong untuk terus berusaha mencapai posisi tertinggi untuk berkhidmat melayani rakyat.
Cukup banyak contoh diperlihatkan PDI-P dan parpol lain memilih non kader maju di kontestasi Pilkada di banyak daerah, dan menang.
What's Your Reaction?
