Bupati Sumbawa Ungkap Visi Rp20 Triliun Dalam Rapat Bersama Bappenas.Teluk Saleh Siap Jadi KEK Ekonomi Biru Kelas Dunia!
Bupati Sumbawa Ungkap Visi Rp20 Triliun Salam Rapat Bersama Bapenas.Teluk Saleh Siap Jadi KEK Ekonomi Biru Kelas Dunia!
Sumbawa Besar, Amarmedia.co.id – Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP, memimpin rapat krusial hari ini yang menandai langkah strategis untuk masa depan ekonomi Sumbawa. Bertempat di Aula Bappeda Sumbawa, rapat ini fokus pada integrasi Pembangunan Ekonomi Biru dan Pendanaan Biru dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) untuk wilayah pesisir. Pertemuan penting ini dihadiri oleh perwakilan dari tiga kabupaten di wilayah SAMOTA (Sumbawa, Dompu, Bima), perangkat desa pesisir, akademisi, dan mitra pembangunan. Rapat juga melibatkan partisipasi hybrid dari Bappenas, Kementerian Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Kepala BPI Pusat Kebijakan dan Keterpaduan Desa dan Desa Tertinggal Kementerian Dalam Negeri, Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintah Daerah II, serta pejabat Provinsi NTB.
Dalam sambutannya, Bupati Haji Jarot dengan tegas menyatakan komitmennya untuk memaksimalkan potensi ekonomi biru di kawasan Teluk Saleh dan sekitarnya. Sejak awal masa jabatannya, Bupati mengungkapkan mimpinya untuk mentransformasi kawasan SAMOTA menjadi destinasi wisata internasional yang mengusung konsep ekonomi kelautan berkelanjutan.
"Saya ingin Teluk Saleh ini, kawasan SAMOTA, menjadi KEK baru, destinasi unggulan internasional. Seperti Mandalika dan Labuhan Bajo, bahkan lebih," ujar Haji Jarot penuh antusias. "Kita punya kekayaan alam luar biasa, dari hiu paus, Pulau Moyo, Tambora, hingga hutan laut yang masih alami. Ini belum kita kelola maksimal."
Bupati menjelaskan bahwa Teluk Saleh, sebagai teluk terbesar di Indonesia, memiliki kekayaan biodiversitas laut dan potensi pariwisata kelas dunia yang tak tertandingi. Selain menjadi rumah bagi hiu paus dan terumbu karang yang menakjubkan, wilayah ini juga menyimpan nilai ekonomi tinggi dari sektor perikanan, rumput laut, bahkan komoditas pertanian seperti jagung dan bawang merah.
Berdasarkan data terbaru, potensi ekonomi kawasan Teluk Saleh diperkirakan mencapai lebih dari Rp20 triliun per tahun. Namun, potensi kolosal ini, menurut Bupati, belum dikelola secara optimal. Tantangan utama yang dihadapi meliputi ketiadaan pelabuhan wisata yang memadai, aksesibilitas yang masih terbatas, serta belum terintegrasinya program pembangunan biru dalam perencanaan desa.
"Kalau kita kelola dengan baik dan masuk ke RPJMDes, kita bisa mengembangkan kawasan ini sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berbasis ekonomi biru. Desa-desa pesisir harus menjadi ujung tombak pembangunan," tegasnya.
Bupati menambahkan bahwa rapat ini merupakan langkah awal yang fundamental untuk memaparkan konsep integrasi pembangunan ekonomi biru secara lintas kabupaten di wilayah Sumbawa, Dompu, dan Bima. Pemerintah daerah berharap pendekatan lintas sektor ini akan mempercepat pembangunan wilayah pesisir secara berkelanjutan, didukung oleh pendanaan biru (blue finance) dari berbagai sumber.
"Kami berkomitmen untuk menjadikan hasil rapat ini sebagai pijakan awal dalam pengembangan kawasan Teluk Saleh sebagai center of excellence ekonomi biru di Indonesia," pungkas Bupati. "Semoga ini menjadi langkah awal yang konkret. Kita tidak hanya membangun desa, tapi membangun masa depan daerah dari laut atau pesisir." (AM/Jen)
What's Your Reaction?
