Jangan Biarkan Pancasila Hanya Menjadi Hafalan di Sekolah

Oleh Asmediati

amramr
Oct 5, 2026 - 07:14
Oct 5, 2026 - 07:17
 0  5
Jangan Biarkan Pancasila Hanya Menjadi Hafalan di Sekolah

Jangan Biarkan Pancasila Hanya Menjadi Hafalan di Sekolah

Oleh. Asmediati

Setiap tanggal 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan ini biasanya ditandai dengan upacara. Siswa berdiri rapi. Guru mendampingi. Teks Pancasila dibacakan. Setelah itu, kegiatan kembali seperti biasa.

Tidak ada yang salah dengan upacara. Itu bagian dari penghormatan terhadap sejarah bangsa.

Namun, ada satu hal yang perlu kita pikirkan bersama. Jangan sampai Pancasila hanya kita ingat ketika upacara. Jangan sampai anak-anak hafal lima sila, tetapi tidak memahami bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, Pancasila sebenarnya sangat dekat dengan dunia pendidikan.

Sekolah bukan hanya tempat untuk mengejar nilai. Sekolah adalah tempat anak belajar menjadi manusia. Di sekolah anak belajar berteman, bekerja sama, menghargai perbedaan, menerima kekalahan, mengakui kesalahan, membantu orang lain, dan bertanggung jawab.

Semua itu adalah bagian dari nilai Pancasila.

Pendidikan kita hari ini menghadapi tantangan yang semakin besar. Anak-anak tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat. Telepon genggam sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Media sosial menjadi tempat anak melihat, membaca, meniru, bahkan membentuk pendapat.

Informasi datang tanpa henti.

Masalahnya, tidak semua informasi baik untuk anak. Tidak semua yang viral layak ditiru. Tidak semua yang banyak ditonton berarti benar.

Di sinilah sekolah mempunyai pekerjaan yang semakin berat.

Guru tidak cukup hanya mengajarkan anak bagaimana mencari informasi. Anak juga harus diajarkan bagaimana memilih informasi. Mana yang benar, mana yang salah. Mana yang pantas dibagikan, mana yang sebaiknya tidak disebarkan.

Anak juga harus belajar bahwa jempol di media sosial bisa menyakiti orang lain.

Satu komentar yang dianggap bercanda bisa menjadi luka bagi orang lain. Satu foto yang disebarkan tanpa izin bisa membuat seseorang malu. Satu berita yang belum diperiksa kebenarannya bisa menimbulkan masalah.

Pendidikan Pancasila dalam keadaan seperti ini menjadi semakin penting.

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, misalnya. Nilai ini tidak cukup hanya ditulis di buku pelajaran. Ia harus terlihat dalam perilaku siswa.

Ketika ada teman yang berbeda kemampuan, jangan diejek. Ketika ada teman yang berasal dari keluarga kurang mampu, jangan direndahkan. Ketika ada teman yang berbeda suku atau agama, jangan dijauhi.

Begitu juga dengan bullying.

Bullying bukan sekadar persoalan anak-anak bercanda. Bagi korban, ejekan yang dilakukan berulang-ulang dapat menjadi pengalaman yang menyakitkan. Karena itu, sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi semua anak.

Guru tentu memiliki peran penting. Tetapi guru tidak bisa bekerja sendirian.

Orang tua juga harus terlibat.

Kadang-kadang kita terlalu sibuk meminta sekolah mendidik anak, tetapi lupa bahwa pendidikan pertama dimulai dari rumah. Anak belajar berbicara dari orang tuanya. Anak belajar menghargai orang lain dari lingkungan keluarganya. Anak belajar kejujuran dari apa yang mereka lihat setiap hari.

Karena itu, pendidikan karakter tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada sekolah.

Pancasila juga mengajarkan persatuan.

Di lingkungan sekolah, persatuan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Cukup dengan mengajarkan anak untuk tidak memilih-milih teman. Ketika kerja kelompok, semua anggota diberi kesempatan. Ketika ada teman yang kesulitan, dibantu. Ketika ada perbedaan pendapat, dibicarakan dengan baik.

Hal-hal sederhana seperti itu jauh lebih bermakna daripada sekadar menghafalkan bunyi sila ketiga.

Begitu juga sila keempat tentang musyawarah.

Anak-anak perlu belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipaksakan. Dalam kehidupan bersama, ada saatnya kita mendengar pendapat orang lain. Ada saatnya kita menerima keputusan bersama meskipun pendapat kita tidak digunakan.

Ini penting karena anak-anak kita kelak hidup di tengah masyarakat yang penuh perbedaan. Mereka tidak mungkin selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Mereka harus belajar menerima perbedaan tanpa harus bermusuhan.

Kemudian ada sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Di sekolah, keadilan juga perlu diajarkan melalui tindakan nyata. Guru berusaha memperlakukan siswa secara adil. Siswa belajar tidak mengambil hak temannya. Semua anak diberi kesempatan berkembang sesuai kemampuan masing-masing.

Keadilan bukan berarti semua anak harus diperlakukan dengan cara yang persis sama.

Ada anak yang cepat memahami pelajaran. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada anak yang percaya diri berbicara di depan kelas. Ada pula yang masih malu.

Tugas pendidikan adalah membantu mereka tumbuh, bukan membanding-bandingkan mereka secara terus-menerus.

Tantangan pendidikan sekarang juga semakin besar dengan hadirnya kecerdasan buatan atau AI.

AI bisa membantu siswa dan guru. Banyak pekerjaan menjadi lebih mudah. Informasi dapat diperoleh dengan cepat. Namun ada satu hal yang tidak boleh hilang: kemampuan berpikir.

Jangan sampai anak bisa membuat tugas dengan bantuan AI, tetapi tidak mampu menjelaskan isi tugasnya.

Jangan sampai anak mendapatkan jawaban dengan cepat, tetapi tidak lagi mau membaca dan berpikir.

Teknologi harus menjadi alat untuk membantu manusia, bukan membuat manusia berhenti belajar.

Di sinilah nilai Pancasila kembali diperlukan. Kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, dan sikap menghargai proses harus tetap dijaga.

Pendidikan tidak boleh hanya mengejar hasil akhir.

Anak yang mendapatkan nilai tinggi memang membanggakan. Tetapi anak yang jujur ketika nilainya belum bagus, mau belajar dari kesalahan, dan tidak menyerah juga patut dihargai.

Sebab pendidikan bukan perlombaan untuk mencari siapa yang paling pintar.

Pendidikan adalah proses membantu anak menemukan kemampuan terbaik dalam dirinya.

Maka, peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026 seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua.

Pancasila jangan berhenti di dinding kelas. Jangan hanya tertulis di buku pelajaran. Jangan hanya dibacakan ketika upacara.

Pancasila harus hidup dalam kebiasaan.

Ia hadir ketika siswa memilih tidak menyontek. Ia hadir ketika seorang anak membela temannya yang menjadi korban bullying. Ia hadir ketika siswa mau bekerja sama dengan teman yang berbeda. Ia hadir ketika guru memperlakukan siswa dengan adil. Ia hadir ketika orang tua mengajarkan kejujuran di rumah.

Pancasila sebenarnya tidak selalu membutuhkan kata-kata besar.

Kadang ia hanya membutuhkan tindakan kecil yang dilakukan setiap hari: menghormati orang lain, berkata jujur, tidak merendahkan teman, mau membantu, mau mendengarkan, berani mengakui kesalahan, dan bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan.

Jika nilai-nilai sederhana itu tumbuh di sekolah dan rumah, anak-anak kita bukan hanya menjadi anak yang pintar, tetapi juga memiliki karakter.

Pada akhirnya, itulah pekerjaan besar pendidikan.

Bukan sekadar membuat anak tahu apa isi Pancasila, tetapi membuat mereka mengerti bagaimana menjalankannya.

Sebab Pancasila akan benar-benar terasa dalam kehidupan bukan karena sering diucapkan, melainkan karena nilai-nilainya hidup dalam perilaku kita.

Termasuk dalam diri anak-anak yang hari ini sedang kita didik untuk menjadi generasi Indonesia masa depan.[AM]

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow